Pikiran Random tentang Hidup Beda Frekuensi

Pernah tidak, kalian punya sahabat yang dekat banget, yang obrolan tentang hal random gak ada habisnya, entah jokes garing, bahasan novel yang baru keluar, hingga bahasan filosofi hidup, kemudian pada suatu titik, kalian nemu sesuatu yang ingin kalian bagi secara impulsif namun gak jadi karena kalian ngerasa si dia tidak akan tertarik lagi dengan bahasan itu, dan justru membahas hal tersebut bakal membuat kamu merasa pathetic?

Simply life bringing you, whom once close, to different frequency. You suddenly came to realize you were not in synch again.

Hal itu sering saya rasakan akhir akhir ini. Entah saya nya yang memang sedang bawaannya baper atau memang mungkin bahwa hidup ‘beda frekuensi’ ini sejogjanya bisa membuat perasaan seseorang jadi mellow.

Dulu, saat masih sekolah, saya juga pernah grow apart akibat beda tempat sekolah, beda kesibukan, komunikasi yang gak selancar sekarang dengan sahabat saya. Tapi saat itu proses ‘tumbuh menjauh’ sama sekali gak disadari. Tiba tiba kita sudah tidak di frekuensi yang sama lagi. Nah, saat ini, saya menyadari momen itu. Saya tahu saya gak bisa mencegahnya. Dan hubungan yang renggang dalam hidup ialah suatu keniscayaan.

Tapi tetap saja, di fase dimana teman justru menjadi makin sedikit, mengikhlaskan suatu hubungan dengan sahabat yang benar benar pernah sesinkron itu dengan saya, berat.

Maybe this one is a blessing yet a curse for being a human, for have a feeling…

Advertisements

Cerita soal Hype Skin Care Korea

Saya termasuk pecinta skin care Korea. Perkenalan saya dengan satu skin care Korea berlanjut ke perkenalan satu paket brand skin care dan saya pun ikut teracuni dengan hype ini. Walaupun skin care yang saya beli belum resmi diijinkan oleh regulasi kosmetik di Indonesia, dan bisa jadi nge skip pembayaran pajak bea cukai, saya merasa skin care Korea worth the hype.

Tipe kulit muka saya ialah berminyak. Tipe yang paling banyak masalahnya, dari jerawatan, pori pori besar, bintik hitam, komedo, hingga kusam, melengkapi penderitaan pemilik tipe kulit saya ini. Ditambah lagi produk anti aging, sudah harus mendapat perhatian serius untuk saya yang sudah lewat 25 an.

Berawal dari pencarian produk pembersih komedo yang mengenalkan saya dengan exfolating toner merek Benton, saya pertama kali uji coba skin care-nya korea. Muncullah perubahan yang menurut saya sangat kentara, dan saya pun tergoda untuk membeli rangkaian essence, emulsion, dan ikut hype sheet mask yang ada dimana mana. Akhirnya jadi familiar dengan rangkaian step korean skin care yang gak-praktis-tapi-saya-lakukan karena suka dengan hasilnya. Kemudian mulai melirik produk lain.

Pernah, setelah satu rangkaian produk ini tuh habis, saya tidak beli lagi. Perubahannya juga langsug terlihat. Kulit saya jadi kusam, bintik hitam di kulit terlihat kentara sekali. Akhirnya saya tidak sanggup berpisah dengan rangkaian produk ini. I vowed my eternal love that come firstly from infatuation.

Saya sebenarnya kalau boleh memilih lebih suka membeli produk dalam negeri. Mendapatkannya nggak susah, kemudian jelas merupakan sumbangan untuk ekonomi nasional, budaya, alam, serta teknologi kita sendiri. Saya sedih melihat kosmetik Indonesia jauh tertinggal, yet I could not force myself to buy local product this time. Setelah saya pikirkan dengan tidak terlalu mendalam ketertinggalan kosmetik kita sebenarnya gak cuma efek dari teknologi yang Indo kurang, tapi juga ekonomi, politik, dan budaya. Sejauh ini, saya cuma bisa bersikap optimis, suatu saat Indonesia bisa menghasilkan produk kosmetik berdaya saing global seperti brand Korea.

Efek Bouncing

Belum lama ini, nggak tahu kenapa, saya dan teman saya membahas tentang fenomena sosial dan politik yang memanas di Indonesia. Whew. Bahasannya terdengar penting ya😁, tapi sesungguhnya saya malas membahas hal begini dalam ranah pertemanan. Topik umum saya lebih seperti membahas make up, membahas film yang tayang di bioskop, membahas keponakan, membahas rencana akhir minggu, membahas liburan yang entah kapan terealisasi, dsb. Pokoknya topik yang nggak menimbulkan rasa sedih, prihatin, atau hopeless terhadap manusia dan komunitas namun tetap menambah pengetahuan dan wawasan. My thought about politic before, always a private matter.

Kembali ke bahasan awal, nah, teman saya punya teori menarik tentang isu sosial di Indonesia saat ini. Dalam masyarakat, kita-saya dan teman saya ini- melihat bahwa perpecahan muncul karena sudut pandang yang berlawanan. Salah satu pihak mungkin merasa bahwa prinsip dia yang paling benar dan sahih, kemudian mungkin butuh divalidkan oleh komunitas masyarakat yang lain, sehingga bullying merajalela, hujatan dan hoax bukan hal baru. Vokalitas seseorang, jadi sarana pembenaran terekstrim bahwa prinsipnya dia gak salah dan gak ada yang boleh mempertanyakan prinsip itu.

Teori teman saya ini, hal tersebut salah satunya terjadi karena adanya efek bouncing. Jadi, saat kita dibawah tekanan yang sangat kuat, mekanisme pertahanan salah satunya ialah dengan menahan kemudian menekan kembali dengan jauh lebih kuat. Jadi saat seseorang menghujat kita, kita hujat lebih keras dong. Saat seseorang melihat kita jadi pendosa yang gak mungkin diampuni, kita liatin dong kalau kita bangga jadi pendosa. Stuff like that.

Saat saya bekerja, saya melihat fenomena ini pada salah satu kolega yang jauh lebih muda. Bosnya dia, menghukum anak ini dengan sangat keras, sehingga bukannya si anak jadi insyaf atau kapok, malah makin menjadi jadi dan membuat lingkungan kerja gak kondusif.

Sahabat saya saat kuliah menunda keputusan untuk berjilbab simpel. Karena dia ditekan untuk mengenakan jilbab oleh senior pria saya hingga ada suatu perkataan yang membuat sahabat saya sakit hati. Pas remaja dulu, saya ingat, ada orang guru SMA saya, salah satu bikin statement tentang pacaran yang membuat satu kelas remaja tingkat awal dengan hormon yang sedang giat giatnya, langsung ribut.

Saya merasa beberapa hal yang menimbulkan efek bouncing ini awalnya intensinya baik. Namun penyampaian yang kurang bijak justru menimbulkan efek yang berlawanan. Hanya untuk memperlihatkan bahwa yang pihak sana lakukan itu salah walaupun mungkin penyampaian yang salah, bukan apa yang disampaikan.

Jadi saya dan teman saya ini sampai pada kesimpulan bahwa menyampaikan tidaklah memaksa. Memaksakan suatu pandangan pada manusia memberikan efek yang jauh berbeda dengan memperlihatkan bahwa pandangan ialah opsi yang berhak diambil oleh manusia. Dan opsi yang diambil tidak pernah lepas dari konsekuensi. Entah itu konsekuensi pribadi yang melibatkan kepercayaan atau konsekuensi yang sifanya sosial. Menyampaikan selayaknya disampaikan dengan baik serta jujur. Bukan dengan menyerang kelemahan seseorang. Bukan dengan menyalahkan atau melabeli seseorang yang bahkan pengetahuan kita soal hidup orang tersebut sama sekali tidak ada.

Akhirnya, penyampaian juga mempunyai konsekuensi: yakni menjaga integritas.

Solo Travelling dan Kawah Ijen

Setelah resign, saya memutuskan melakukan solo trip. Solo trip, menurut saya, merupakan satu hal yang selayaknya patut dilakukan sekali seumur hidup.

Saya memutuskan ke Banyuwangi untuk trip solo dibantu oleh mesin pencari semesta Google dengan kata kunci yang tidak terlalu original seperti ‘tujuan solo trip di indonesia’, ‘destinasi solo trip murah dan aman untuk traveler perempuan’. Beberapa kota sempat jadi kandidat solo trip namun entah saya eliminasi karena saya kurang tertarik dengan kota tersebut, saya pernah mengunjungi kota tersebut sebelumnya, atau karena biaya faktor perjalanan yang kurang hemat menurut kantong saya.

Apa ya yang membuat saya memutuskan ke Banyuwangi selain tuntunan dari Google? Mungkin karena saya rasa kota ini gak terlalu jauh namun juga gak terlalu dekat dari Jakarta. Mungkin karena kawah ijennya yang unik dengan blue fire yang katanya cuma ada dua di dunia.

Preparasi solo trip saya dimulai dari kesadaran bahwa saya harus bisa menaruh sedikit kepercayaan pada orang asing karena saya tidak bisa mengendarai motor, sementara nggak mungkin mengandalkan kendaraan umum untuk eksplorasi Banyuwangi.

Solo trip yang mengharuskan menaruh kepercayaan dengan orang baru ini, jadi latihan mempercayai intuisi. Intuisi yang pertama menyarankan saya untuk mencari seseorang yang bisa saya percaya dengan menggali mengenai orang tersebut dari internet. Saya memutuskan untuk memanfaatkan akun couchsurfing. Dari akun ini saya berkenalan dengan Mbak Fryda dan Mas Imran yang sangat sangat baik. Mbak Fryda yang menjemput saya di stasiun Karang Asem. Mbak Fryda dan Mas Imran yang menemani saya mengunjungi tempat tempat menarik di Banyuwangi. Karena mereka berdua saya bisa ikut festival tumpeng sewu di Banyuwangi. Mereka berdualah membuat Banyuwangi menjadi kota yang seakan-akan tidak asing untuk saya. Mereka berdua yang membuat Banyuwangi bukan cuma sekedar tempat, tapi menjadi suatu tempat yang penuh nyawa. Traveling is more about the people we met than the place we go, indeed.

Selepas berkenalan dengan Mbak Fryda, tukeran no hp, dan chat di whatsapp, barulah saya membeli tiket kereta Senen-Lempuyangan dan Lempuyangan-Karangasem. Perjalanan saya dimulai dari pukul 21.45 hingga 20.30 esok harinya. Tiket saya beli H-5 jadinya harganya juga tidak terlalu murah untuk tujuan Senen-Lempuyangan. Kelas tiket yang ekonomi dengan durasi perjalanan nyaris 24 jam dan waktu transit hanya satu jam membuat saya cukup khawatir dengan kemungkinan jadwal yang tidak tepat waktu, masalah selama perjalanan, ketahanan fisik di jalan, dan sejuta kecemasan lain yang sanggup dipikirkan otak. Maybe I like living in the edge and I just try to go for it. Alhamdulillah, perjalanan saya lancar dan saya nggak merasa kapok karena lelah atau bosan di perjalanan.

Perjalanan saya di Banyuwangi tidak cuma ke Ijen, namun pendakian kawah ijen jadi highlight karena pendakian ini diniatkan dilakukan sendirian, yang mana mendaki kawah Ijen ialah pengalaman pendakian pertama saya sejak akil baliq. I already said I dare to living in the edge, didn’t I?

Perjalanan untuk mendaki ijen dimulai dari jam 1 pagi. Pada jam segitu Mas Imran mengantar saya naik motor ke Paltuding. Dari paltuding pendakian saya mulai. Nah, untuk pendakian ini, ada satu barang essensial yang tidak saya bawa yakni senter. This is not the tendency for living in the edge but pure stupidity. Jangan harap memanfaatkan senter dari handphone, karena cahayanya tidak bakalan membantu. Untungnya sepanjang perjalanan sebelum pos istirahat penambang belerang, saya ditemani oleh pendaki lain yang memberikan sedikit cahaya di jalanan yang saya lewati. Tsah 😁. Saat di pos peristirahatan saya dipinjamkan senter oleh bapak yang menjaga posnya. Emang orang baik itu ada dimana mana ya. Kebaikan lain yang membuat saya tersentuh ialah pas saya ingin turun ke kawah menyaksikan blue fire lebih dekat, salah seorang guide pendaki malah menyediakan spare masker sendiri untuk saya.

Pos penambang di Ijen

Dalam perjalanan ke ijen, ada bapak penambang yang bawa beban berat belerang, ada turis yang udah tua dan pakai bantuan tongkat namun tetap semangat turun ke kawah yang sangat terjal, ada bapak bapak yang mmenyediakan jasa taksi untuk naik dan turun kawah.

Taksi di Ijen

Pendakian kesana juga memberikan pemandangan pagi yang menyenangkan dan instagrammable.

Selepas itu, saya sedikit mengerti kenapa seseorang bisa ketagihan mendaki. Bukan sekedar obsesi mencapai puncaknya, bukan sekedar pembuktian atau keren-kerenan. Mungkin buat beberapa orang, mendaki menjadi pengalaman yang nyaris spiritual. It is about all the thing above, about yourself, nature, outside power, and humanity all in mingled in something that you could not exactly describe.

Ps: Mbak Fryda dan Mas Imran ialah pemilik Banana homestay yang reputasinya brilian yang bisa dilink disini.

Cerita tentang IELTS

Kira kira beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan hadir di kelas yang membahas tentang IELTS (International English Language Testing System). Pembahasan dimulai dari sesi tanya jawab antara peserta yang ada di kelas dengan tiga orang yang sebelumnya pernah mengikuti IELTS. Sebelum hadir di kelas ini, saya belum kepikiran untuk menulis pengalaman tentang ikut IELTS. Well, ternyata banyak teman teman yang sangat antusias mendengarkan cerita saya tentang IELTS. Karena itu, saya termotivasi untuk menuliskan apa poin poin yang menjadi konsen dari teman teman yang hadir saat itu, mudah mudahan bisa membantu teman teman yang memiliki pertanyaan serupa.

Gambaran umum IELTS?

IELTS merupakan suatu tes untuk menguji kecakapan seseorang dalam bahasa Inggris. Tes dalam IELTS dibagi dalam 4 bagian: listening, reading, writing, speaking. Masing-masing bagian akan diberikan penilaian angka 1-9 dengan interval 0.5. Skor masing masing bagian akan dirata-rata yang (diharap) merupakan nilai yang cukup representative tentang kemampuan seseorang tersebut dalam berbahasa inggris. Hasil tersebut akan dituangkan dalam sertifikat dan hasilnya diakui valid selama dua tahun oleh kebanyakan institusi pendidikan dan pemerintahan internasional.

Beda IELTS dan TOEFL dimana?

Selain IELTS, uji kecakapan bahasa inggris lain yang popular ialah TOEFL (Test of English as Foreign Language). Tes TOEFL resmi ditawarkan dalam dua format: internet based dan paper delivered. TOEFL institusional /ITP bukan TOEFL resmi yang bisa dipakai untuk keperluan pendidikan atau migrasi ke luar negeri ya.. TOEFL paper delivered hanya ditawarkan pada negara negara yang gak ada akses internet. Jadi TOEFL yang ditawarkan di Indonesia ialah yang berupa format internet based. Nah, inilah yang jadi perbedaan mendasar antara TOEFL dan IELTS di Indonesia. Uji IELTS umumnya masih menggunakan pulpen dan kertas, sementara TOEFL tidak.

TOEFL juga menguji 4 kemampuan komunikasi dasar listening, reading, writing, speaking. TOEFL dan IELTS sama sama menekankan pentingnya grammatical dalam ujinya. Namun dalam format listening dan reading TOEFL selalu memberikan jawaban berupa pilihan ganda, sementara dalam IELTS jawaban dapat berupa pilihan ganda ataupun isian kata. Dalam bagian speaking, untuk IELTS, peserta akan dihadapkan langsung dengan penguji IELTS yang merupakan English native speaker sementara dalam TOEFL peserta diminta berbicara dengan difasilitasi microphone computer. Perbedaan lain IELTS dan TOEFL ialah tipe dan pola soal yang diberikan. Jadi sebelum mengikuti entah TOEFL atau IELTS pastikan dulu familiar dengan tipe kedua tes tersebut.

Bagian IELTS yang paling sulit dan yang paling mudah?

Tingkat kesulitan dari masing masing bagian IELTS, sebenarnya tergantung oleh masing masing individu. Buat saya pribadi, bagian yang paling sulit ialah speaking, dan yang paling gampang ialah reading( saya bukanlah pencerita lisan yang baik). Untuk yang lain, ada merasa reading menjadi bagian yang paling sulit sedangkan dia gak punya masalah di bagian speaking.

Namun, secara umum, uji yang sifatnya aktif (speaking dan writing) lebih menantang alias lebih susah dibanding uji yang sifatnya pasif (listening dan reading)

Penyelenggara IELTS di Indonesia dan biaya IELTS

Saya pribadi saat itu mengikuti IELTS yang diadakan oleh British Council dengan biaya masih kurang dari 2.5 juta. Ruangan pelaksanaan tes merupakan ruangan pertemuan di salah satu hotel yang sangat nyaman, sehingga meminimalkan distraksi dan mudah diakses.

Trik dalam menghadapi IELTS?

Familiar dengan format tesnya. Jika kamu mampu ikut les untuk IELTS silahkan, tapi jika nggak, asalkan punya modal dengan belajar entah lewat buku atau internet, kamu juga bisa kok dapat hasil yang memuaskan. Intinya belajar dengan rutin dan persisten.

Kenali kekuatan dan kelemahan pribadi di bagian bagian tesnya. Kalau misalnya kamu gak bermasalah di listening tapi sulit dalam writing, ya alokasi waktu juga usaha untuk latihan writing harus lebih dibandingkan untuk bagian listening.

Saya mempersiapkan IELTS dengan belajar selama kurang lebih dua bulan setiap pagi bermodakan ebook IELTS dari Cambridge. Hasil IELTS saya juga gak amazing banget sih tapi standar lah yak,gak ditolak oleh beberapa institusi yang mensyaratkan IELTS juga.

Alasan ikut IELTS?

Umumnya hasil IELTS merupakan salah satu syarat yang diminta jika ingin sekolah di luar negeri yang menggunakan pengantar berbahasa inggris. Jadi, ya salah satu alasan popular kenapa ikut IELTS: karena mau mendaftar sekolah ke luar negeri. Tapi ada juga yang ikut IELTS karena di bayarin kantor kok. Ada juga yang iseng, karena ingin mengetahui kemampuannya berbahasa inggris.

Sebagai penutup, menurut saya IELTS itu susah susah gampang. Kalau familiar dengan model testnya IELTS sebenarnya tidaklah sulit. Yang lebih sulit ialah mengumpulkan niat dan konsistensi dalam mempelajari IELTS sebelum benar benar mengikuti tesnya sendiri.

Apakah teman teman ada yang punya pengalaman ikut IELTS atau mungkin berencana ikut?

Behind the Story of Back to School Again

Sebenarnya cita cita melanjutkan sekolah pascasarjana sudah tertanam di kepala saya sejak akhir masa kuliah, tetapi usaha ke arah sana baru saya mulai setelah satu setengah tahun sejak saya mulai bekerja, dan baru direalisasikan setelah lima tahun saya bekerja.

Keputusan melanjutkan sekolah pascasarjana bukan keputusan yang mudah untuk saya pribadi. There was too many devil advocate who playing the mind game in my head and they kept making me holding back. Di satu sisi, sepertinya adanya devil advocate ini membawa benefit tersendiri, karena “mereka” mengajukan pertanyaan yang mesti dijawab sebelum membuat suatu keputusan, contoh:

  1. Kenapa mau melanjutkan sekolah pascasarjana? Apa sih visi saya sekolah pascasarjana? They would never accept the answer : just because I love to learn. Nope. I was should to thought what career path that I would pursue, once If I finished my study.
  2. Bagaimana cara saya mensupport diri saya jika saya melanjutkan sekolah pascasarjana? Bagaimana hal ini mempengaruhi kondisi keluarga saya? Sebagai anak rantau tentu saja saya tidak bisa menghemat biaya untuk tempat tinggal dan makan sehari hari dengan nebeng di rumah keluarga saya.
  3. How I cope with the great fear and confounding? such as the thought of too old to back to school, against the myth: never found a life partner whose secure enough for woman-with-postgraduate-degree. Am I doing this not because of I want to dismissed my responsibility or bore?
  4. Apa saya siap dengan resiko finansial dari pendidikan pascasarjana? What the advantage my degree would bring? How the postgraduate degree going to worth it? despite the settled job, the luxury of having salary regularly? How about the monthly saving? How about the saving for my retiring? How about the luxury of online shopping?

Dulunya, preferensi saya melanjutkan sekolah pascasarjana, ialah di luar Indonesia. Bukan karena saya tidak yakin dengan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia, tapi karena saya pikir dengan kuliah di luar negeri, saya mendapatkan pengalaman yang gak mungkin saya dapat disini, dan pengalaman itu nilainya mahal. Tapi karena pengajuan sponspor, yang ending ditolak melulu dan selalu pada tahap akhir (curcol), saya nyaris menyerah tahun lalu setelah LoA untuk program yang benar benar saya inginkan diperoleh tapi gagal untuk disponsori.

Titik balik yang membuat saya akhirnya menghadap ke orang tua untuk meminta restu mengejar sekolah pascasarjana, mengosongkan tabungan, dan mengajukan surat resign ialah saat teman sekelas saya saat kuliah meninggal. I thought then, life is too short, I don’t want to live it in regret or self pitying, just because something is not come my way. Jadi akhirnya saya membuat semacam list apa untung ruginya sekolah pascasarjana untuk saya, apa yang saya harapkan dari sekolah pascasarjana, dan bagaimana saya mengatasi kesulitan yang muncul jika saya memutuskan sekolah.

Setelahnya, saya pindah, mulai tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Nyatanya, saya jadi menghargai nilai kuliah di Indonesia, di daerah yang tidak terlalu jauh dengan lokasi kerja dulu. Saya tidak perlu jauh jauh mencari support dari keluarga dan sahabat saya, saya masih mungkin untuk kerja part time, saya sudah tidak terlalu asing dengan ritme kehidupan sehari hari maupun kehidupan kampus, saya punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri, sahabat dan keluarga. Hal hal yang mungkin lebih saya perlukan dibandingkan kelebihan yang ditawarkan sekolah di luar negeri.

Then I realize something we need time to realize life is good, and everything have its silver lining.

The speaking words of thought