A meaningful job

Apakah bekerja perlu bermakna?

Pekerjaan walaupun tidak bisa mencerminkan seorang individu, namun tetap merupakan aspek penting yang besar dalam kehidupan. Walaupun benar manusia lebih dari sekedar pekerjaan, tapi waktu yang dihabiskan untuk bekerja dalam hidup tidaklah sedikit. Ada salah satu pertanyaan trivial yang cukup popular yang masih menggelitik saya. Apakah kita hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup?

Pengalaman pekerjaan tetap saya bermula dari karyawan pabrik. Divisinya: bagian pengendalian mutu bahan kemas produk farmasi. Saya bertugas memeriksa hasil perhitungan tinggi botol, box kemasan, kesesuaian warna kemasan dari produk yang dikeluarkan pabrik, terkadang membuat spesifikasi yang harus dipenuhi. Saya banyak berurusan dengan administrasi, penjadwalan, dan pelulusan produk. Saya tidak super cinta dengan pekerjaan saya, namun saya juga tidak membenci pekerjaan ini. Banyak hal yang saya pelajari selama bekerja. Saya menyukai lingkungan pekerjaan saya, walaupun tentu saja tidak ada yang lepas dari drama kantor. Pendapatan saya cukup solid untuk generasi seusia saya, dan lagi, saya masih bebas tanggungan. Namun setelah 5 tahun bekerja saya memutuskan untuk berhenti.

Saya bukanlah orang ambisius yang mementingkan karir dan mengejar materi. Saya juga bukan orang yang ingin bekerja sesuai passion. Buat saya passion adalah untuk bersenang senang dan akan membebebani saat dijadikan alasan untuk mencari uang.

Saya berhenti karena alasan yang cukup absurd dan karena saya punya privilise untuk memilih saat itu. Saya melakukan pekerjaan yang sama tapi seiring waktu berlalu saya merasa tidak pernah melakukan pekerjaan itu dengan baik. Saya merasa saya harus berusaha untuk lebih baik namun alih alih saya malah merasa tidak pernah menjadi lebih baik sedikitpun. Such a silly comparison right?Saya mulai kehilangan motivasi, tidak peduli berapa banyak dialog yang saya habiskan dengan diri sendiri ataupun kolega tentang situasi saya. I couldn’t stop myself to feel that I wasn’t good enough. I began to questioning myself as a worthy individual, I began to wonder was I that replaceable? Setiap hari yang saya habiskan untuk bekerja terasa menyiksa. Saya menandai kalender dengan tanda silang setiap hari tanpa tahu sebenarnya apa yang saya tunggu. Then, that same year a friend of mine passed away, I’ve got brokenhearted. Namun hal itu belum cukup untuk membuat saya berhenti bekerja. Saya hanya melewati hari tanpa arah. Still I felt badly miserable. Beruntungnya saat itu saya mulai menjadi pengajar les untuk anak anak di daerah dekat tempat saya tinggal. Satu hal yang saya dapatkan dari pekerjaan sampingan ini, ialah perasaan ‘ah, setidaknya saya bisa melakukan sesuatu yang berguna walaupun tidak sempurna’. I began to think that my life at least a precious thing to waste. Dan saya mulai berpikir ‘ah, saya mau melakukan pekerjaan yang membuat saya merasa seperti ini dan mungkin saya akan merasa hidup saya setidaknya berguna’. Beberapa saat kemudian, setelah berpikir (yang saya pikir cukup matang), saya mengajukan permohonan resign.

Saya pernah membaca tentang prinsip ikigai yang menyangkut 3 komponen: kemampuan untuk memenuhi aspek ekonomi, kepuasan pribadi, dan menjadi berguna untuk orang lain. I know people have their own definition of what kind of job they want to do and what was worth of it. I wish we all could found it, and have the fulfillment in it.

Satu dekade

Sepuluh tahun ini apakah saya menjadi individu yang cukup berharga?

Tahun 2019 hampir berakhir. Tulisan di dunia maya, baik di blog maupun social media banyak membahas tentang perjalanan hidup sedekade. Ada orang yang menerbitkan buku, ada yang lulus kuliah dan memperoleh pekerjaan pertama, ada yang menikah, ada yang pindah domisili, ada yang buka usaha, ada yang jalan jalan dengan keluarganya. People making change, going milestone, while I stay the same. Made me questioning did I live a worthless life? Being me, living or not would not made any difference. Pikiran yang sungguh tidak menyenangkan.

But when I decided to stop thinking about achievement or rank and began to focus in the process of living itself, I felt more content. I told myself that I already came long way. I felt that I like being the person I am now. It was okay as long as I could try to be better person, to stay still true to myself, be a person that respected another living being and proud of the way I living my life. I did not have the obligation that I should to achieve anything in this life. I do not need to define myself to other people just to become a decent person. I was still living. I could try to whatever tomorrow would take. I would be kinder. And realising it, enduring life for a day, a year, or a decade didn’t seem so bad.

Poverty, Children, and The Wonder of Living Paradox

Saya menemukan grafik ini beberapa minggu yang lalu.

(sumber: twitter @pradiphtatia)

Usually, I would not going to diving deep to such a topic with varied interpretation that wasn’t involving my life directly, like this one. But, the timing when I encounter this particular picture, made the message delivered seemclearer and louder than usual.

1

Beberapa minggu sebelumnya, saya kehilangan dompet di kantin kampus. Disamping uang tunai, yang mungkin nilainya buat sebagian orang tidak seberapa, saya juga kehilangan dokumen berharga (identitas pribadi, kartu perbankan) yang disimpan di dompet yang sama. Dengan uang di kantong saya tinggal 20,000, domisili KTP luar jawa dan tinggal sendirian di kosan, saya panik dan ketakutan.

Long story short: those documents miraculously returned to me that same day, but I was left with more emotional turmoil.

2.

Dompet saya diserahkan kembali oleh ibu dari anak kecil yang jualan tissu di kampus. Entah berapa kali saya melihat anak tersebut, namun kenyataan bahwa saya datang ke rumah mereka bahkan bertemu orang tua mereka tidak pernah saya pikirkan senyata ini, dengan cara seperti ini. Ayah si anak cerita: ia berasal dari daerah yang sama dengan saya. Satu propinsi. Satu kabupaten. Terima kasih untuk alamat di KTP. Terima kasih juga untuk bahasa daerah, sehingga saya ngobrol banyak hal dengan bapak dan ibu yang membantu saya ini.

Si ibu sedang hamil besar. Saya bertanya, berapa bulan dan kapan lahiran. Si Ibu pun menjawab dia nggak pernah periksa, nggak tau. Seperti itu dari kehamilan pertama. Kontrakan yang ditempati tujuh orang dengan lima anak dengan satu wanita hamil ini, layaknya kontrakan kecil yang saya temui di belakang pabrik saya bekerja dulu, mungkin cuma 3 x 7 m dengan tempat tidur kecil satu satunya ornamen di rumah itu yang tertangkap mata saya dari teras.

Si ibu bercerita tentang anak tertua, anak perempuan kelas empat SD dan anak yang nomor dua berjualan tissu setiap hari di kantin. Anak kedua yang menemukan dompet saya. Saya tidak tahu kenapa saya bertanya tentang berapa lama mereka tinggal di sini, apa si ayah sering pulang kampung. Mungkin, saya merasa harus menunjukkan rasa terima kasih saya, namun saya tidak tahu caranya. Saya berbasa basi tapi saya tak ingin menghakimi. Saya tak bisa menghentikan spekulasi dan pertanyaan yang muncul di kepala saya dengan melihat kedua orang tua yang mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan saya, melihat anak paling kecil bersinglet yang bermain di teras, melihat kotak dagangan somai di samping motor bebek, melihat anak sulung perempuan yang menatap dari rumah ke luar jendela.

3.

Saya ingat sang anak, saat saya panik memikirkan bagaimana saya bisa kehilangan dompet dari ransel. Sejujurnya saya mencurigai si anak sebelum saya dihubungi oleh sang ibu. Kecurigaan saya tidak berkurang walaupun dompet saya kembali. Uangnya tidak kembali. Namun tetap saja, dokumen yang hilanglah yang lebih penting nilainya buat saya. I was glad and grateful, but I can’t get rid of my suspicion. And I shaming myself for staining one good deed with one suspicious thinking.

I was trying to convincing myself, being a poor person didn’t mean you would do bad thing. How could my feeling dominated more by suspicion and pity rather than empathy. What kind of human I become?

4.

KTP si ibu ketinggalan di dompet saya. Kami berjanji bertemu dan saya menyadari satu hal saat melihat KTP si ibu: bulan dan tahun lahirnya sama dengan saya. The fact that made me wonder more about my life and her. About the choice that I already made, about the value that I always hold all along.

I remind myself that I and her were a different person. But I couldn’t help myself for thinking:

Is she merely a brave person, a careless one, or maybe both? And if so, what I become then? Am I only being a coward behind this sensibility persona or is sensibility just something that should to put in front of mind every time I made a decision? How about the children? How about a children future? How much social system influences poverty and vice versa? How should we put the limit of individual matter and population matter? Are God being so divine that we should not interfere about its creation?

Ahh, What kind of paradox of life we should face everyday, I wonder.

5.

Sebelumnya, saya merasa saya ialah orang yang berpikiran cukup terbuka. Saya punya prinsip dan nilai yang saya pegang sendiri, manusia yang lain juga demikian dan saya tidak perlu ikut campur di dalamnya. Namun saat kejadian itu saya menyadari, konsekuensi sosial ialah hal yang tidak mungkin dihindari sebagai manusia. Individu-individu lah yang membentuk populasi dan tatanan sosial.

A story about Schizophrenia

Thanks to ‘Joker’, awareness about schizophrenia seems to positively climb up nowadays. The nuance of mental illness as serious and yet so complicated look apprehended by more and more people. So then, I decide to wrote about this issued as well. Few years back, I introduced to schizophrenia because of academic demand. None of that, prepare me about how personal this illness felt to me.

***

Salah satu sahabat saya pengidap schizophrenia. Diagnosis pertama tegak saat dia masih remaja. Waktu itu saya dan dia mahasiswi tingkat pertama. Sahabat saya ini gadis yang cantik, paling cantik di sekolah dulu. Tidak hanya cantik, sifatnya pun anggun, rapi, taat beribadah, tidak ‘petakilan’ dan punya pemahaman soal nilai religius yang adhere. Saya dan dia bertetangga, hanya dipisahkan oleh 5 rumah warga. Beda jalan, namun masih satu kompleks. Saya bersahabat dengan dia sejak masih TK, dari SD sampai SMA kami selalu pergi ke sekolah bareng. Lebih lagi, keluarga kami pun berteman baik. My mother often said, she is not merely that closest friend to me, but also a family. Even our parent arrange us to stay nearby when we graduate from high school, in case we both accepted in the same university.

Setamat SMA, saya dan dia sama-sama pindah ke kota besar. Kami masuk universitas yang berbeda, sayapun tidak bertemu dia lagi selama setengah tahun, juga tidak berkomunikasi hingga libur semester tiba. Saya pulang, kemudian menyempatkan untuk menemui sahabat saya ini ke rumahnya, namun saya diberitahu, dia tidak ada di rumah. Beberapa hari kemudian, saya dan beberapa teman dekat dari SMA datang lagi, hasilnya sahabat saya ini masih tidak bisa ditemui. Hingga akhir libur semester pun datang dan saya memutuskan untuk tetap datang lagi, namun dengan hasil yang tetap sama. Tentu saja, saat itu kemajuan teknologi komunikasi masih jauh dibanding saat ini.

Kepulangan saya yang berikutnya, malah ibu saya melarang saya untuk nyamperin dia lagi. Dia berhenti kuliah untuk sementara dan menolak keluar rumah, menolak bertemu dengan orang orang yang dia kenal. Saya dengan kesotoyan maksimal, berargumen dengan ibu, merasa bahwa mungkin perubahan lingkungan dari SMA ke universitas, dari lingkungan kampung kecil dimana orang mengenal kamu hingga siapa kakek nenekmu ke kota, dari lingkungan akrab ke daerah yang asing, memberikan beban yang berat (which was what I feel during my first year in university). Ialah hal yang bagus untuk kembali berkoneksi dengan orang orang yang dia kenal baik dari SMA ujar saya saat itu. Ibu saya tetap tidak setuju dan bercerita tentang setelah usaha terakhir saya untuk nyamperin dia (saat sahabat saya ada di rumah namun tidak mau bertemu saya), dia menangis hebat dan tidak mau keluar rumah selama beberapa hari, diikuti melakukan hal hal bizarre, menghebohkan seantero kampung, hingga akhirnya diobati psikiater setelah tentunya dibawa ke ‘orang pintar’ karena banyak yang percaya bahwa teman saya ini diguna guna karena kecantikannya.

My mother said when I was being there, I put a lot of pressure towards her. I told my mom I didn’t understand how could it be like that. I didn’t even met her even in slightly minutes. Ibu saya kemudian berkata dia tertekan karena: “Kamu lulus SNMPTN, sedangkan dia gak, dan di tes masuk universitas yang lain juga gagal. Dia juga gak bisa nemu teman di kampus barunya karena terbiasa dengan adanya teman teman dekat yang sudah dikenal dari kecil”. I refuse to believe it. It was me who should envied her (and I did envied her). My better academic achievement was kind to cement my identity or I would be forever seen as being that sidekick of the most popular plus most beautiful girl in school (or as the sister of the most rebelious son in the county). I didn’t find it easier to make friends too because of the sense of familiarity I had with her and other childhood friend. I didn’t have confidence to try to talk to someone first and also feel inferior that I was from small village with all this mediocre attribute while my peers always seem so gloriously towny. And for her, I suspected, people would gravitate towards her because her serene personality and her so composed beauty.

I was kind of…mad..because it feel like it had been my mistake that she was the way it was. I was felt ashamed. I felt being this shitty friend who bullied her best friend, put a lot of pressure for just being there.But maybe I also felt guilty for my seventeen years old self that always envied her trait of beauty and serene personality, her surmountable admirer, her loving upper middle class parent and family. And then I was hoping that would come the time when I would not felt intimidated to spent almost my times with her.

That how my friendship with her was strained. I still send her birthday wishes, I still came to her house every eid day. But it was as platonic as it seem. Hari hari dimana dia bercerita tentang salah satu surat cinta yang ia peroleh, kejutan dari pacar pertama, perjalanan pulang sambil ngemil jajanan, terasa jauh dan lama berlalu. In my memory I even remember her more fondly than I remember myself during high school day. It feel like I lose one of best friend. Funny, because she was still there, but at the same time, not being there.

Jauh bertahun tahun kemudian, kami telah menamatkan pendidikan dan bekerja di pulau yang berbeda, satu hari saat saya pulang, dia menanyakan tentang kemungkinan menurunkan dosis antipsikosis yang rutin diminumnya kepada saya. Saya menjawab sesimpel menganjurkan dia untuk kontrol dan berkomunikasi dengan dokternya yang biasa, tapi percakapan kami tidak berhenti disitu, karena hari itu, dia bercerita tentang hal yang dia alami bersama penyakit ini. To my surprised, because from what I known and experienced myself, she was not that…chatty. Jadi, momen saya duduk lama bersama dia, mendengarkan seperti sepuluh tahun lalu, momen yang saya pikir tidak akan pernah terjadi lagi, ialah momen berharga sekaligus paling sedih yang saya inget dalam tahun tahun terakhir.

Sahabat saya memulai ceritanya dari tahun awal perkuliahan. Dia, sebagai mahasiswi baru tinggal di kos kosan yang sama dengan mahasiswi senior satu program studi. Teman saya merasa dia menerima perlakuan berbeda dari anak baru lainnya. Tidak dipinjami buku catatan, tidak diajak diskusi ataupun makan siang bareng di kos ataupun di kelas sementara teman satu kelas yang sama akrab dengan sang kakak senior . Sebagian mungkin karena memang teman saya ini pendiam, dan sebagian mungkin karena kepopuleran dia diantara mahasiswa pria menimbulkan rasa iri untuk remaja putri lain. Popular with boys without female confidant did not as interesting as how manga depict that. Dia mulai merasa terisolasi dan menarik diri dari pergaulan. Beruntungnya gejala ini diperhatikan oleh keluarganya, dan dia dipindahkan dari kosan ke rumah sendiri walaupun tanpa pengawasan orang tua. Namun, hubungannya dengan mahasiswi lain di tempat kuliah tidak membaik. She really wasn’t a mean person, nor was reserved or uniteresting. She just like every other teenage girl, looking for our place while hadn’t know which one that suit us most. I guess another girl around her didn’t mean any harm nor inflict any bullying. Maybe some those girl harbour some envy for someone whom they see as more beautiful, more charming, smarter, and sometimes they could not stand befriend her. First year in university was kind of lonely, and have no friend to talk to seem unbearable. But the strange thing is, when it happened to us, rather than to found another environment, we began to doubt ourselves, we ask ourselves what was wrong with us? And we barricade ourselves more from the world, partly because we afraid to hurt. We didn’t want to see people, because it made us feel terrible .

If I recall those day, it was like punch in chest. Because I do feel lonely, inferior, in my first year in uni. But I met many kind person and met many warm friends. Maybe it was they who save me. Maybe deep in my heart, I felt like that I should to be there for her in those times and I was so lucky for meet this kind of person.

Emotional aside, theoretically schizophrenia always seem have a trigger but not that trigger being the cause. Depression and isolation was part of negative symptoms. Schizophrenia diagnosed by occurences of both negative and positive symptoms, although in many cases it was not always clear.

Kisah simptom positif sahabat saya ialah kisah yang mungkin disepakati aneh oleh banyak orang. Keluar rumah di pagi buta hanya untuk mengaji dengan microphone volume maksimal di mesjid, menyerang ayahnya sendiri karena memang yang dia lihat bukan sang ayah, tapi manusia bungkuk bermuka menyeramkan, kabur dari rumah naik kendaraan umum sendirian, merobek baju pengantinnya sendiri sehari sebelum dia menikah. When she told me that stories, I know she really felt that was something she must do, that she did seing what she saw. Buat orang lain mungkin dia terdengar atau terlihat tidak beres. Namun, bukankah kita semua menganggap apa yang kita lihat dan dengar adalah nyata? Kenyataannya, apa yang kita lihat hanyalah interpretasi pikiran dari sinyal yang dikirim indra yang bahkan masih belum kita pahami prosesnya. Betapa kuat sekaligus menipunya pikiran manusia dalam membuat kategori kategori mana yang nyata dan mana yang ilusi. Dan betapa arogannya saat kita berpikir apa yang tidak bisa kita lihat tidaklah nyata.

When she told me stories, said about the future she was hoping then, it was felt like we never been that difference. And that was made us friend at the first place.

***

Saya masih sering mendengar tentang dia. Dia menjalani kehidupan yang umum: berkeluarga, punya anak, dan bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta. Tapi selalu ada cerita cerita: sulitnya memberinya disiplin soal jam pelajaran, perseteruan dengan murid, suasana yang canggung saat pertemuan (karena pertimbangan yang sangat hati hati saat berinteraksi). People said it wasn’t common nor normal. But that keep me thinking.

What was normal and what was not? What was good and what was not? Was being normal is a good thing? Doesn’t that normality is kind of overrated?

But then, for most of the question that I didn’t find the answer, I thought only this: being nice would were never being overrated.

The thing about ‘If’

If I stop overthinking…

Would life become easier?

Will I still be myself then

If I being genuinely truest to myself

Would I become more joyous?

Will I be a decent person still?

If I stop questioning

Would world become less scary?

Will I still find life fascinating?

If I accomplished more recognition

Would I believe in my self worth as human inclusivity?

Will I still find solace in desolation?

But there is no if in dying

Said, we all are going to die

What would I like to think about life that count?

An (Unverified) Hypothesis about Cancer

Background story:

Kepulangan untuk liburan lebaran tahun lalu saya ditandai dengan satu hari insiden kehilangan handphone dan bertepatan dengan hari meninggalnya Iyan. Saya dikenalkan dengan Iyan lewat Pita Kuning, lembaga yang mengkhususkan diri dalam bantuan perawatan paliatif untuk anak anak penderita kanker. Iyan meninggal akibat kanker, Acute Myeloid Leukimia. Iyan belum genap 6 tahun.

Saat pulang untuk lebaran tahun ini, sehari sesudahnya, ibu saya mengajak untuk membezuk salah satu anggota keluarga yang sakit sampai mata beliau tidak mampu melihat. Saya kemudian diberitahu bahwa beliau didiagnosa leukimia setelah sehari sebelumnya prosedur lumbar puncture dilaksanakan. Sepulangnya disambut berita ibu Ani Yudhoyono.

Pertemuan dengan sepupu saya saat lebaran, mengingatkan saya juga dengan Tante yang meninggal akibat kanker payudara beberapa tahun lalu.

Tahun ini berita serupa soal kanker datang bertubi tubi. Sahabat SMA saya menghubungi saya sebelum ramadhan akibat mertuanya terkena kanker getah bening. Dalam bulan Ramadhan, ibu salah seorang teman kuliah saya menjalani operasi pengangkatan kanker sekaligus bedah plastik di Dharmais, setelah operasi pengangkatan tumor dilakukan hampir 5x sebelumnya.

Afterthought :

Sulit menyandingkan kanker setara dengan yang lain akibat sangat kompleksnya penyakit ini. Penderita kanker bisa muda atau tua, kaya atau miskin, wanita karir atau ibu rumah tangga, Urban Amerika atau Pedalaman Sumatera, tinggi resiko atau malah minim resiko, dari masalah kulit hingga otak, tak pandang bulu. Syarat utama kanker hanya satu: punya DNA.

Penanganannya dengan obat obat kanker (sitotoksik) juga tidak kalah rumitnya. Jenis obatnya, pengembangannya, efek sampingnya, prognosisnya. Some(often)times it helps but another time it is not.

Cancer is terrifying, expensive, physically and mentally exhausting.

I feel that its approach us closer as each day passed nowadays. Sometimes it made us feel helpless.

The conclusion

Saya dan abang saya kemudian diskusi ngobrol soal ini. Kita sampai di kesimpulan yang mengguncangkan iman kanker (mungkin) ialah bentuk evolusi yang tak bisa dihindari. Bahwa manusia sudah terlalu banyak di dunia sehingga kanker muncul sebagai seleksi alam melengkapi kelaparan, perang, wabah. We tried to say that it is a life fact. It didn’t make us less sad in the end.

Our Endless Pursuit of Happiness

Apa yang membuat kita bahagia?

Ini, mungkin pertanyaan paling hakiki yang sukar ditemukan jawabannya. Salah satu teori yang paling sering saya dengar: kebahagiaan datang dari hati yang bersyukur, perasaan cukup, attitude of gratitude.

But I found that was not that simple.

Bahagia karena hal hal kecil entah itu hobi receh, karena tawa yang kita bagi dengan orang sekitar, karena keluarga tempat kita pulang, atau karena kebaikan kecil yang kita terima, memang ialah hal yang mungkin. Tetapi selalu bersyukur, tanpa ada emosi, up dan down, untuk saya, merupakan sesuatu yang terlalu utopis. Ideal tapi tidak realistis.

Saat lebih muda, kebahagiaan menurut saya setara dengan meraih impian dan kebebasan finansial. Tak bisa dipungkiri, mimpi yang hancur dan ekonomi yang kekurangan dapat menjadi momok yang menghantui puluhan tahun kehidupan. Saya, secara personal, merasa sangat sakit saat mimpi saya tidak tercapai, seberapa kuat pun saya berusaha menurut versi saya. Saya pernah nyaris depresi karena tidak punya uang sama sekali dan bingung besok akan makan dengan apa.

Namun kemerdekaan finansial dan mimpi yang tercapai bukan pula hal yang akan memberikan kebahagiaan secara konstan. Saat memperoleh kemerdekaan finansial, saya malah merasa hidup menjadi tidak berarti. I felt that I didn’t give any meaningful contribution in life despite I earn money. Saat mencapai impian, malah saya akan punya impian lain untuk dicapai. And feeling like that, I beat myself up because it would sound so ungrateful. I thought that God and another people, my friends and family, would despise me.

Pada titik yang sedikit lebih ekstrim, ada yang menikah untuk bahagia, dan kemudian malah menemukan bahwa kebahagiaan tidak selalu relevan dengan berumah tangga, atau romantisme menemukan belahan jiwa (jika ada). Saya rasa banyak kasus di dunia nyata yang membuat skeptis dengan konsep ini. Contoh berumah tangga tapi terbentur finansial, berumah tangga tapi tidak cinta, berumah tangga dan kesulitan menjaga komitmen. Saya setuju dengan pendapat: salah kalau tujuan berumah tangga untuk mencari kebahagiaan atau melengkapi diri.

Saya pernah membaca satu artikel mengenai filosofi jepang, tentang tiga inti kebahagiaan: yang memberi kecukupan finansial, yang membuat kita menikmati saat melakukannya dan yang membuat kita memberikan makna bagi sesuatu di sekitar kita. Saya bertanya tanya apakah ini memang jawabannya? Salah satu dari kumpulan pertanyaan abstrak tanpa jawaban.

Is it possible to have happiness?

Is it really need to put meaning in it?

I found myself is still unable to answer…

Rather than happiness, I was more content with peaceful, inner peace term instead. Pursuing happiness is always impossible to me, but made a peace within self is an act that I thought possible. You don’t need to be always happy, or to incredibly love yourself. But, being recognize yourself that you were human with turmoil emotion: sad, anger, envy, caring, careless, kind, longing, seem just enough.