Pengalaman pendaftaran sekolah pascasarjana

Saya pernah tiga kali mendaftar sekolah pascasarjana, dua sekolah pascasarjana dalam negeri: Teknik Biomedik ITB pada tahun 2014, Ilmu Kefarmasian UI pada tahun 2017 serta satu sekolah pascasarjana luar negeri: Pharmaceutical Modelling Uppsala University di tahun 2016. Dari pendaftaran ketiganya, masing masing punya proses sendiri, yang berbeda beda.

Sebelum mendaftar sekolah pascasarjana, baik dalam negeri maupun luar negeri, perlu mengetahui dulu persyaratan pendaftaran untuk bisa diterima di universitas yang bersangkutan. Jadi kalau sudah punya target bidang dan universitas yang dituju, dan sudah memutuskan untuk lanjut ke jenjang Master, persyaratan penerimaannya di website fakultas/universitas target harus disimak.

Tahapan awal biasanya selalu dimulai dengan penyiapan dokumen. Ijazah dan transkrip nilai saat sarjana merupakan dokumen yang wajib ada saat pendaftaran. Untuk kampus luar negeri dokumen tersebut harus dalam Bahasa Inggris. Sistem grading saat sarjana untuk beberapa universitas luar juga harus menjadi perhatian, karena belum tentu sistem gradingnya sama dengan di Indonesia, dan beberapa bidang justru mensyaratkan nilai grading minimum. Untuk di Uppsala University, nggak perlu dilakukan konversi dari sistem grading ke sistem sana, jadi cukup Bahasa di ijazah dan transkrip yang dikonversi ke Bahasa Inggris. Kalau gak punya ijazah atau transkrip berbahasa inggris, tinggal minta tolong untuk cetak versi bahasa inggris ke Universitas asal saat sarjana.

Dokumen lain yang umumnya diminta sebagai syarat melanjutkan pascasarjana ialah sertifikat bahasa. Untuk melanjutkan ke luar negeri, selalu diperlukan sertifikat IELTS dan TOEFL(bukan TOEFL itp). Walau sudah punya sertifikat, namun perhatikan juga skor yang disyaratkan, baik skor rata-rata atau skor per bagian tes. Persyaratan skor minimum bisa beda beda antar universitas maupun antar bidang. Untuk mendaftar ke ITB masih bisa menggunakan sertifikat TOEFL ITP sementara di UI, tidak diminta sertifikat TOEFL/IELTS, namun harus mengikuti ujian Bahasa Inggris dengan format mirip TOEFL minus bagian speaking.

Beberapa bidang dan universitas mensyaratkan adanya surat rekomendasi. Untuk pascasarjana ITB, diperlukan surat rekomendasi, tapi tidak untuk UI maupun Uppsala University. Beberapa bidang dan universitas (terutama luar negeri), termasuk Uppsala University, juga mensyaratkan adanya statement of intent. Statement of intent merupakan suatu gambaran ringkas dan padat mengenai latar belakang yang memicu ketertarikan untuk melamar program, tujuan melamar program, seberapa jauh mengenal program yang ditargetkan. Statement of intent merupakan salah satu hal yang paling menentukan apakah si pelamar akan diterima atau tidak. Tulisan tersebut bukan sekedar menonjolkan pelamar secara akademik atau menonjolkan kemampuan si pelamar dalam bahasa tulisan, namun juga memberikan representasi sifat personal dari si pelamar. Jadi pentingnya statement of intent tidak perlu diragukan lagi. Untuk mendaftar ke UI dan ITB, masih belum memerlukan statement of intent.

Nilai TPA, merupakan syarat selanjutnya yang perlu dipenuhi jika ingin mendaftar sebagai mahasiswa pascasarjana ITB. Nilai TPA yang diakui ITB hanya dari TPA bappenas yang juga bisa difasilitasi oleh ITB. Untuk mendaftar ke UI tidak ada tes potensi akademik, namun harus mengikuti ujian tulis SIMAK UI. SIMAK UI ialah ujian tulis yang mencakup soal TPA, matematika dan bahasa inggris. Baik TPA Bapennas maupun SIMAK gak boleh dianggap remeh, karena menurut saya pribadi soalnya lumayan susah😁.

Beberapa universitas luar negeri maupun dalam negeri mensyaratkan adanya tahapan uji wawancara. Di ITB uji wawancara diperlukan untuk melamar sekolah pasca namun tidak di UI. Di Uppsala University tidak ada tahapan wawancara.

Persyaratan penting lainnya yang selalu ada untuk penerimaan mahasiswa baik universitas dalam negeri maupun luar negeri ialah biaya pendaftaran. Ada hal yang perlu diperhatikan juga saat pembayaran, bukan sekedar jumlahnya bayaran. Universitas dalam negeri biasanya memiliki kerjasama dengan bank lokal untuk mengatur biaya ini, sementara untuk luar negeri pembayaran hanya bisa dilakukan dengan kartu kredit/PayPal.

Dugaan saya pribadi, nilai kritis penerimaan di UI ditentukan di SIMAK, di ITB ditentukan di TPA dan wawancara, sedangkan di Uppsala University ditentukan di statement of intent. Saya paling nyaman mendaftar pascasarjana di Uppsala University, karena proses keseluruhannya online. Kalau di UI harus datang ke kampus UI untuk ujian, ITB juga harus datang ke kampusnya untuk wawancara.

Pascasarjana UI dan ITB hanya boleh melamar untuk satu bidang studi, sementara untuk Uppsala University dan Universitas Swedia lain bisa memilih tiga bidang atau universitas yang berbeda. Memang di Swedia sistem pendaftarannya, baik sarjana atau master di satu pintu, namun tetap syarat syarat antar bidang bisa berbeda.

Untuk bukti penerimaan universitas di luar negeri berupa Letter of Acceptance (LoA). LoA ada dua: unconditional dan conditional. LoA yang merupakan dokumen bukti pernyataan diterima sesungguhnya ialah unconditional. LoA conditional menyatakan penerimaan bersyarat, dengan syarat yang harus dilengkapi untuk memastikan memperoleh posisi di universitas tersebut.

Mereka yang punya niat mendaftar sekolah pascasarjana juga harus peduli dengan jadwal penerimaan, karena biasanya dalam setahun ada dua kali pendaftaran yang dibuka pada waktu waktu tertentu. Kalau kelewat, harus menunggu di periode selanjutnya.

Untuk penutup, pendapat saya lagi ini😅, sebenarnya mendaftar kuliah pascasarjana tidak rumit jika langkah langkah dan persyaratannya diikuti sebaik mungkin.

A Good Deed

Kadang-kadang, ada satu hal baik yang dilakukan orang lain tetapi bisa memberikan efek yang cukup besar untuk seseorang dan memberi kesan nyantol di hati dalam waktu yang lama. Padahal, mungkin bagi si pelaku hal itu merupakan hal kecil sederhana remeh temeh.

Salah satu peristiwa dimana saya menjadi penerima kebaikan penuh kesan ini terjadi saat proses penelitian. Satu hari salah satu spare part hplc tidak bisa dipakai karena aus. Barang spare laboratorium sespesifik seperti ini gak mungkin bisa saya temuin di marketplace dan berfungsi baiknya alat ini sangat krusial untuk kelanjutan penelitian saya. Belum lagi finansial saya sedang bermasalah pada masa itu. Dalam kebingungan, saya menceritakan masalah saya ke salah seorang teman. Teman saya ini menyarankan saya untuk menghubungi kenalannya, seorang teknisi alat laboratorium untuk sekedar nanya dimana saya bisa memperoleh spare part yang dimaksud. Long story short, kenalan teman saya ini malah ngasih spare part tersebut double dan gratis untuk saya. Gak bersedia diganti bahkan untuk ongkos kirim sekalipun. Saat kebingungan dan banyak nanya soal pemakaiannya pun, dia sampai menawarkan asistensi gratis karena merasa bagian dari pekerjaan dia sebagai teknisi alat yang dipakai lab (yang tentu saja saya tolak). Saya nggak pernah ketemu sama orang ini sebelumnya dan orang ini beneran gak bakal dapat apa-apa loh bantuin saya. Saya terharu sekali. Saya ndak pernah sekalipun ketemu bahkan tahu bentuk wajah penolong saya ini, tapi bantuan yang diberikan luar biasa banyaknya.

Sebenarnya kalau dipikir hal baik dari orang lain yang kadang tidak saya sadari banyak yang saya dapatkan. I took them for granted.

Saya cukup skeptis dengan hubungan antar manusia. Dulu, salah seorang kolega saya pernah bilang bahwa hubungan antar manusia ini hanya dihubungkan dengan ‘kepentingan’. People doing something that benefit them-or that they see it would. Namun, persepsi saya banyak berubah karena kebaikan kebaikan di sekitar saya. Saya percaya orang baik yang tulus bener bener ada dan kalaupun ‘kepentingan’ yang menjadi dasar suatu hubungan, I guess it isn’t necessary a bad thing. Manusia dengan kebaikanlah yang sering memberi harapan dalam hidup yang gak mudah (dan kadang saya pikir kejam) ini.

I wish I will stay true to that kind of kindness and sincerity too, somehow.

See You Again, Bukittinggi

Kota Bukittinggi merupakan kota yang sempat saya tinggali selama 2020 hingga 2021. Untuk saya pribadi, kota ini jadi kota ideal untuk settle saking nyamannya saya dengan Bukittinggi dari udaranya yang sejuk, nilai dan jejak sejarahnya, hingga komunitas warganya yang menyenangkan. Sayang, kurang dari satu tahun saya tinggal di sini, saya harus meninggalkan Bukittinggi.

Kegiatan saya selama tinggal di Bukittinggi cukup terbatas karena pandemi, tapi pengalaman tinggal kurang dari satu tahun ini tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan. Aktivitas saya di Bukittinggi  ini gak ada spesial spesialnya yaitu :

1. Working and resign

Selain menyenangi kota Bukittinggi, saya juga menyenangi pekerjaan saya yang saya jalani walaupun saya menjalaninya dalam waktu yang pendek.  Saya memutuskan resign salah satunya karena perbedaan nilai budaya saya dengan tempat saya bekerja.

2. Eat and feed up

Bukittinggi merupakan tempat kuliner paling oke se-Sumatera Barat (menurut saya). Ibukota provinsinya saja kalah jauh :). Saya nambah bobot hampir 5 kg dalam waktu yang singkat. Setelah tidak tinggal di Bukittinggi, bobot badan saya juga langsung berkurang drastis.

Kadang kadang saya mikir juga, apa karena saya melihat dari kacamata pendatang ya makanya Bukittinggi seems so livable :). Maybe it is. But I do hope I will  see you again and again someday, Bukittinggi.

End Year Note

Last year, 2020, was a long year, most remembered by covid pandemic. And after a year, 2021, seems didn’t make living with covid easier. I recalled that in the July/August the pandemic hit so hard in Indonesia because of Delta varian. There was a week in July when I heard everyday either people going sick, the urgent need of drug/blood supply, or people just dying. However, 2021 for me, not only the second/second half covid year but also a year when I quit my second full time job, the year I hold my graduation paper, the year I fully moved from west java, the year I wrote and publish two articles, the year I took manyyy online courses (although I didn’t finish some of them). This year maybe not a best one but I did live happy and I did learnt a lot.

Belajar dari perjuangan para atlet..

Sejak olimpiade, saya kembali aktif nontonin olahraga badminton. Salah satu efek di rumah saja dan saking berkurang banyaknya kegiatan harian saya. Pasca olimpiade keterusan ngamatin Sudirman, Uber dan Thomas, hingga Superseries. Senang melihat dukungan dan komentar positif untuk para atlet, perjuangan para atlet, persahabatan di lapangan dan di luar lapangan, serta sikap sportif dan menerima kekalahan sepanjang permainan, ditengah riuhnya persoalan politik, perbedaan persepsi terkait covid, yang ingar bingar di dunia maya.

Resilensi yang ditunjukkan atlet menjadi hal yang paling saya kagumi. Saya perhatikan, saat atlet memperoleh hasil yang gak diharapkan atau berhenti bertanding, banyak yang menghujat. Sebagian menghujat karena sedih dan kecewa. Memperoleh hasil yang gak diharapkan membuat kita merasa gagal dan gagal itu nggak enak. Apalagi selain gagal memenuhi target sendiri juga gak memenuhi harapan orang yang dititipkan ke kita. Gagal membuat kita bertanya-tanya apa kesalahan kita, mempertanyakan kemampuan kita, mempertanyakan semua hal-hal yang udah kita lalui dan lakukan hingga sampai di titik itu. The saddest thing about losing is, once we lost, what else can we do unless accepting it although not wanting it. World would not felt the same but somehow life still goes on. I think as an athlete it showed. Saya ngebayangin gimana para atlet profesional saat gagal mencapai target atau jadi juara. Udah berat dampaknya secara psikologis kena hujatan dari orang gak dikenal pula. Tekanan dari mana mana. Tapi mereka tetap lanjut dan berusaha yang terbaik. Keren sekali.

I felt like the respect their earned through how they tried their best and fought hard no matter the result. They always remind me this lesson:  Losing would never be shameful. Our will to fight and give our best are what define us as who we really are. In life, we can’t avoid big or small lose, but most important: losing never define us, we give our best, we try to improve and that was enough. That our will through hard work make us a respectable human being.

I Think…

Sometimes life is extremely painful, unjust, and fearsome, that your heart seem would just ripped out, but little by little, as we found kindness, more and more, our hatred towards the world would not look like a closure we were searching for. Maybe life is still a fucked up place but it still worth living anyway.

Sometimes we didn’t got answer for all of our question, but in our attempt to understand, we found ourselves closer to our essence, to each other, to spiritual being, to another living being. Sometimes it was the closure we needed. The undescribed closeness that mysteriously touch our heart.

We all bring this insecure feeling deep down in our shoulder, but still, our capability to love unconditionally make us stay afloat.

We living unavoidably as sinner in this world, but we learn everyday to make amend, to forgive, and to heal.

We all pretend, we appear as our best selves in front of other when sometimes we feel like we would crumble all by ourselves, but we fight for our dignity and will to survive. It has to mean something.

We need to believe that our life and our soul mean something in this world, we try hard to prove it, but why does it matter anyway? Don’t you think being decent person good enough?

Kecerdasan Buatan (AI), Kecerdasan Manusia, In Between

Akhir akhir ini, saya cukup rajin ikut kursus di coursera, edx, futurelearn, dan kemenaker. Dari kursus yang saya ikuti, saya sering nemuin istilah yang cukup keren, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), machine learning, dan deep learning. Nggak cuma nemuin istilah, sebagai orang yang tidak punya pengalaman kerja atau latar belakang di bidang IT/teknik, kursus kursus tadi juga membuat saya kagum dengan kemampuan mesin mengolah algoritma sehingga bisa menjalankan fungsi pikir yang mirip dengan manusia saat ini. Mesin yang bukan makhluk hidup bisa ngasih tau saya toko mana yang jualan barang yang saya cari saat belanja online, bisa ngasih saran saya untuk video lain yang menarik untuk saya tonton di youtube, bisa menganalisa data dengan kecepatan dan ketepatan yang lebih hebat. Ngasih pengetahuan atau saran yang objektif pula, gak pakai emosi atau drama dramaan. Keren sekali. Pantas saja novel atau film fantasi/scifi sering bertemakan dari prediksi di masa depan  manusia banyak digantikan oleh mesin.

Dengan segitu banyaknya kelebihan mesin dan segitu banyaknya kekurangan manusia, saya sempat bertanya-tanya, apa bagusnya kecerdasan manusia dibanding kecerdasan mesin (and maybe in what sense that makes human intelligence better than machine)? Mesin juga bisa belajar, disupervisi atau tidak, bisa menganalisa lebih objektif juga (nggak pake perasaan/drama), dan bisa membuat keputusan. Kalau gitu peran kecerdasan manusia apa donk? Apa perasaan/emosi saja intelligence yang manusia punya dan mesin nggak? -sementara emosi/perasaan tidak otomatis membuat pengambilan keputusan yang lebih bijak. Not slightly better than machine.

Manusia dan mesin sama sama memiliki memori, kemampuan menyimpan pengetahuan. Mesin lebih cepat melakukan pemanggilan kembali pengetahuan itu, gak milih milih data mana yang harus disimpan atau cherry picking ala manusia, gak bohongin algoritmanya (dengan sengaja) supaya hasil keliatan bagus. Mesin juga punya pola pikir, kemampuan memproses informasi, yang lebih terprediksi, stabil, dan jelas dibanding manusia. Pola pikir ini juga bisa dikembangkan sendiri oleh mesin tanpa bantuan manusia. Hebat banget. Saya jadi kembali bertanya tanya sendiri (lagi)  apakah selain emosi memang kecerdasan buatan jauh lebih baik?

Menurut beberapa orang dan beberapa sumber, kecerdasan manusia yang gak bisa ditiru mesin (saat ini) adalah bidang kecerdasan kognitif. Katanya Cambridge sih kecerdasan kognitif ini merupakan kemampuan menjalankan fungsi kehidupan melalui serangkaian proses mental dari mengumpulkan informasi dan mengolahnya melalui pemikiran, pengalaman, dan perasaan. Merujuk ke kursus neuroscience Learning is an Active Process, sifat neuron manusia yang plastis-lah nggak bisa ditiru mesin. Informasi atau pengalaman manusia gak harus relevan dalam pola yang sama dan linier satu sama lain, tapi manusia bisa menyelesaikan suatu masalah dari pengetahuan/pengalaman yang tadi sehingga membentuk pengetahuan/pola pikir yang baru. Human is learning. Manusia kayak ngumpulin berbagai hal (pengalaman, pengetahuan), memilih yang mana yang penting/aplikatif dalam penyelesaian masalah, dan menggunakan proses/pengetahuan/pengalaman tersebut untuk menyelesaikan suatu masalah yang juga mungkin baru. Manusia juga mampu belajar dari kesalahan dan belajar sesuatu yang baru dari berbagai hal yang kesannya gak relevan satu dan lain. Hal ini yang membuat manusia berbeda dari mesin, serta unik sebagai individu dibanding yang lain. Saat transfer pengetahuan, mesin penerima akan berpikir/bertindak persis sama dengan pemberi, namun manusia tidak, walaupun ilmu yang ditransfer sama. Satu orang guru akan memberikan informasi yang sama kepada semua murid dalam satu kelas, namun setiap murid akan mencerna dan menerapkan informasi dengan berbeda beda.

Jadi, kalau melihat fenomena sekarang, gak bakalan bisa sih manusia nyaingin mesin jika bergantung dalam mengumpulkan informasi. Pola belajar mengandalkan hapalan kurang effektif.  Kurang tepat memaksa untuk menyeragamkan pemikiran tentang benar/salah, baik/buruk tanpa belajar reasoning. Standar atau contoh perlu ada dalam kategori tertentu, tapi rasanya kurang tepat jika satu patokan menjadi nilai mutlak dalam hidup/menyelesaikan masalah. Aplikasi/aksi dalam penerapan kemampuan berpikirlah yang menjadi implikatif dari fungsi kognitif. Dan aksi ini membuat manusia memperoleh pengetahuan/pengalaman baru, mempelajari/expand proses baru, mengubah pola pikir, sehingga manusia bisa nggak berhenti belajar.

Learning makes human as human, not merely a machine.

Machine learning gak sekompleks manusia dalam proses belajarnya karena nggak punya plastisitas neuron kayak manusia. Tapi mesin juga bisa belajar dari pengalaman dan memperbaiki pengalaman tersebut setelah melakukan/mengakuisisi suatu pekerjaan (task). Pengalaman, proses belajar, dan  penugasan mesin membuat mesin lebih pintar, tapi ketiganya (experience, task, process/performance) memiliki relevansi dalam bentuk algoritma tertentu. Kalau data atau pengalaman yang diperoleh berbeda, mesin tidak bisa mengakuisisi hasil dari data/pengalaman baru. Lebih sederhananya mesin lebih baik dalam melakukan tugas yang rutin. Bukan hasil yang baik/sempurna yang membuat kecerdasan manusia unik dan lebih baik dari mesin, tapi dalam prosesnya lah yang membuat kecerdasan manusia berbeda.  Kemampuan untuk terus belajar (dari sesuatu yang baru) dan kemampuan untuk menerapkannya dalam kehidupan.

Jadi kalau masalah hidup banyak, ya disyukurin juga sih karena proses belajarnya juga banyak di situ. Dikasi masalah = dikasih kemampuan mengasah kognitif ;).  And that makes us human, rite? Just don’t give up yet.

Daftar Tontonan Selama Pandemi (part 2)

Menonton setial tv sebagai kegiatan selama pandemi saya masih berlanjut, sehingga tentu saja daftar ini bisa saya tambahkan. Bear with me 🙂

1. Babylon berlin (3 season, 28 ep)

Drama serial dari jerman ini merupakan obsesi baru saya. Saya gak bisa menemukan hal yang jelek soal drama ini. Saya bahkan sampai mencari sejarah lift naik turun yang ternyata bernama paternoster lift, mencoba memahami ideologi sosiologi dan komunisme dari Karl Marx, Trotsky, dan Stalin, mencari tahu mengenai sejarah Blutmei, bahkan sampai mencari tahu sejarah peracikan ampul. Semuanya ini bahkan gak ada hubungannya dengan cerita utama Babylon Berlin. Kisah utama Babylon Berlin merupakan kisah detektif inspektur Gereon Rath yang menyelesaikan kasus kriminal di masa Republik Weimar. Republik Weimar yang menjadi latar belakang drama ini tidak terasa sekedar tempelan, sehingga merasa kalau ada di zaman itu, kita jadi merasa bisa memahami karakter yang ada sekaligus menyadari bahwa backstory akan mempengaruhi cerita utama secara keseluruhan. Menurut beberapa artikel, menonton ini, membuat kita merasa ada di dalam- bukan menyaksikan sejarah yang kita sudah tahu akan seperti apa ujungnya. Apalagi ditunjang dengan sinematografi yang bagus banget. Pemandangan lahan berkuda, hutan dengan rel kereta api, hingga suasana malam di Berlin dibuat indah, terasa nyata seperti keindahan bayangan tentang wilayah Jerman di masa lalu (kayaknya).

Karakter karakter Babylon Berlin juga sangat menarik. Semua tokoh di sini digambarkan sebagai manusia yang kompleks bukan sekedar tokoh dua dimensi. Favorit saya tentu saja Charlotte  Ritter. Salut sekali saya dengan karakternya dan juga dengan Liv Lida Fries aktris pemeran Chatlotte ini. Saya sampai berharap akhir dari serial ini setidaknya ngasih sedikit kebahagiaan buat dia. Mungkin gak bisa juga saya bilang dia gak bahagia ya, karena walaupun hidup Charlotte ini menyedihkan untuk standar siapa saja, jadi psk part time dan tulang punggung keluarga yang miskin, ipar abusif, seksisme di kantor, udah berusaha sebaik apapun hasilnya seringnya pahit, hidup di zaman republik weimar lagi, yang sudah pasti berujung ke mana, tapi saya nggak pernah merasa karakternya merupakan karakter yang menyedihkan. She is so alive and sparking bright despite her circumstance without being nauseating about life positivity. Saya ngefans juga dengan hubungan Charlotte Ritter dan Gereon Rath. Gereon Rath merupakan manusia bermasalah namun cara dia memperlakukan Charlotte dan menangani kasus, saya gak bisa membenci tokoh ini. Saya nggak sabar menunggu season 4 serial ini yang kabarnya akan tayang di tahun ini.

Gereon Rath dan Charlotte Ritter

2. Alice in Borderland (1 season, 8 ep)

Saya telah lebih dulu membaca manganya dibanding nonton serial versi Netflix. Ceritanya si protagonis, Arisu, terjebak dengan dua sahabatnya di Tokyo versi Borderland. Borderland ini memaksa mereka harus mengikuti permainan hidup atau mati terus menerus. Pihak yang menyelesaikan ‘game’ diberikan visa (semacam kartu izin untuk tinggal di Borderland) sedangkan pihak yang ‘game over’ akan mati. Jika visa expired, pemegangnya mati, jadi sebelum visa expired, penduduk Borderland harus memperpanjang visa dengan mengikuti permainan berikutnya. Premisnya mirip fusi serial liar game dan battle royale.

Serial versi Netflixnya nggak jelek tetapi saya merasa ada yang kurang dari versi serial tvnya. Sinematografinya oke, Yamazaki Kento dan Tsuchiya Tao sebagai protagonis juga oke, alur cerita nggak menyimpang dari manganya. Saya merasa versi tv kurang menyampaikan sudut pandang dan kepribadian masing masing tokohnya seperti di manga. Kalau di manga, latar belakang dan cara berpikir Arisu terasa personal sehingga saat Arisu terjebak di borderland saya merasa lebih ‘terikat’ dengan Arisu sebagai individu, sementara saya gak menemukan keterikatan ini di serial Netflix. Game-gamenya juga kurang berasa gregetnya dibandingkan dengan game versi liar game, tapi mungkin ini karena saya sudah tau game sepanjang cerita dari manga sehingga elemen kejutannya hilang. Season 2 serial ini sudah diumumkan akan tayang tahun ini juga oleh Netflix.

3. The Queen’s Gambit (1 season, 8 ep)

Menonton serial The Queen’s Gambit merupakan pengalaman yang menyenangkan. Queen’s Gambit menceritakan hidup Beth Harmond dari seorang anak jenius yang dibesarkan di panti asuhan hingga menjadi juara dunia catur.Walaupun nggak paham apa-apa soal catur, saya sangat menikmati kompleksitas si Beth Harmond, saya bersimpati dengan pengalaman dan pilihannya, saya menyukai selera fashionnya. I love almost everything about this show. Anya Taylor-Joy did an amazing job.

4. Serial Cormoran Strike (4 season)

Serial ini diangkat dari buku karya Robert Galbraith (alias JK Rowling). Cormoran Strike merupakan seorang detektif partikelir. Setiap buku memuat satu kasus dari klien biro detektif punya si Cormoran dan khusus di buku pertama, diceritakan bagaimana Cormoran mulai membuka bisnisnya sekaligus pertemuan pertama dengan Robin Ellacott (sekretaris yang nanti akan menjadi partner bisnisnya).

Saya suka banget cerita detektif, tetapi entah kenapa buku-buku Cormoran Strike ini biasa aja buat saya. Mungkin karena saya merasa cerita di bukunya terlalu panjang. Saya jauh lebih menyukai versi serial tvnya daripada versi buku. Saya berharap serial tvnya masih akan terus diproduksi walaupun buku terakhirnya penuh kontroversi.

5. Ore no ie no hanashi (1 season, 10 ep)
Drama ore no ie no hanashi (cerita rumah saya) merupakan satu satunya winter dorama yang berhasil saya tamatkan.  Layaknya drama slice of life jepang yang lain, Ore no ie no hanashi juga merupakan drama yang menghangatkan hati. Apalagi adanya elemen Noh dan Wrestling yang jadi bagian ceritanya. Menarik. Banyak masalah keluarga yang cukup serius diangkat di serial ini, tapi disampaikan dengan ‘tidak seserius itu’.

Miyama Juichi pulang ke rumah untuk merawat ayah yang sudah 10 tahun tidak doi temui. Keluarga Juichi merupakan keluarga ternama terutama sang ayah Miyama Jusoburo yang diberi gelar ‘living national treasure” karena seni permainan Noh yang diturunkan generasi keluarga ini. Saat muda, Juichi sebagai anak tertua menolak untuk melanjutkan tradisi sebagai pemain Noh dan memilih kabur dari rumah menjadi pegulat. Suatu hari, Juichi mendapat kabar bahwa sang ayah kritis dan akan meninggal, namun sang ayah selamat dan memutuskan untuk menikah dan menyerahkan seluruh harta keluarga kepada Sakura perawatnya. Premisnya kira kira seperti itu. Akhirnya memuaskan tapi sedih dan membuat saya cukup kaget.

***

Note from the Covid 19 Crisis

The covid-19 emergence would be written in history as one of the devastating crisis during 20th century. Highly contagious, strict mobility restriction to avoid further widespread of SARS-Cov-2 applied all around the world. The social consequence and personal level impact are enormous. To name any, the increasing laid off, domestic violence, cabin fever.

I got to come back home not long after receiving my degree, just before the covid emergence. Been a year already and covid changes lives in so many way. Mask now is necessity. No need to go to vacation just for the sake of it.

I guess I was lucky that this covid did not made me lose job and my parent are healthy despite their old age. Too much people lose their loved one in this pandemic era. But I also left to wonder, what normal means in the future?

Etik

Dua bulan yang lalu, saya mengikuti satu pembelajaran yang menurut saya sangat menarik. Topiknya mengenai etik. Konteks pembelajaran ini dilakukan untuk memastikan setiap penelitian akademik (bukan hanya penelitian klinis) yang mengikutsertakan manusia memenuhi kaidah etik. Etik bukanlah konsep yang hitam putih.

Penelitian yang mengikutsertakan manusia, sebenarnya cukup banyak dilakukan bahkan di Indonesia, dari kuisoner sederhana mengenai pemilihan jajanan hingga uji klinis vaksin covid yang baru-baru ini dilakukan. Semua penelitian yang mengikutsertakan manusia ini harus mendapatkan keterangan lolos kaji etik dari komite etik. Keterangan lolos kaji etik memastikan bahwa protokol penelitian-yang mengikutsertakan manusia itu-memperhatikan prinsip etik penelitian sehingga data berikut informasi menjadi hasil yang sahih dan valid. Namun, yang menjadi tujuan adanya kaji etik dalam penelitian bukanlah untuk memastikan seseorang mendapatkan data yang valid, melainkan memastikan bahwa mereka yang melakukan penelitian ini, dalam mencapai tujuannya, memperlakukan manusia lain yang ikut serta dengan baik, hormat, dan adil.

Sebagaimana konsep absurd moral lain, penerapan konsep etik merupakan suatu konsep yang sulit untuk diukur. Konsep etik sangat jauh berbeda dengan konsep hukum. Tidak ada penghakiman yang bisa memutuskan dengan pasti etik itu seperti apa. Tidak ada orang yang bisa menentukan bagaimana nilai hormat dan adil dalam kehidupan sosial dan kepentingan komunitas. Penentu batasan etik yang paling mendasar bukanlah orang lain, tetapi individu itu sendiri. Bagaimana seseorang memperlakukan orang lain dalam nilai baik, hormat, dan adil akan sesuai dengan apa makna baik, adil, dan hormat bagi individu itu sendiri. Sehingga kaji etik merupakan suatu konsensus nilai nilai moralitas.

Standar layak etik disepakati agar tidak mengulang sejarah buruk masa lalu. Sejarah memperlihatkan kompleksitas manusia tidak bisa disatukan oleh satu istilah seperti akal sehat atau nilai nilai manusiawi.

Beberapa penelitian kesehatan meninggalkan sejarah yang cukup suram, misalnya penelitian yang dilakukan selama periode Nazi German oleh Dr Mengele dan penelitian terhadap tahanan berkulit hitam yang terkena sifilis di Tuskegee. Terungkapnya sejarah kelam tersebutlah yang melahirkan prinsip etik: dalam penelitian yang mengikutsertakan manusia, pihak sponsor dan peneliti harus memperhatikan 3 prinsip etik yakni Hormat (Respect for human), Baik (Beneficent)  dan Adil (Justice). Hal-hal terkecil dalam kaji etik harus memperhatikan bahwa semua orang yang dilibatkan tidak boleh diperlakukan sebagai objek, sehingga kata seperti “pengujian/penelitian ini menggunakan sukarelawan sehat” tidak layak untuk dipakai.

Sejarah penelitian tersebut menurut saya merupakan salah satu hal ironis dalam hidup. Bukankah penelitian klinis dilakukan karena keinginan memberikan nilai kehidupan yang lebih baik pada manusia? Apa gunanya jika penelitian tersebut jika dalam perjalanannya justru banyak merendahkan manusia? Tapi manusia memang makhluk yang kompleks, terkadang egoisme atau keinginan membuktikan diri, membuat kita menciptakan alasan alasan untuk menganggap satu pihak layak dikorbankan demi kalangan lain, atau demi kausal lain yang lebih besar.

Saya sendiri merasa bahwa konsep etik merupakan konsep yang layak dibahas tidak hanya untuk kalangan peneliti atau kalangan yang berasal dari ilmu kesehatan. Konsep etik merupakan konsep humanis. Etik harus memperhatikan kelompok rentan, etik harus memastikan nilai yang akan diperoleh saat mengikutsertakan orang lain, apakah nilai tersebut memang berarti tertentu, etik harus menjamin tidak ada orang yang dirugikan dalam suatu kelompok.

I guess this conversation remind me about what is the important thing in life. Not that big grand thing you bring in to this world is the most important, life is about how you treat another with respect, justice and kindness. No matter how hard it is, no matter who the person is, no matter where they came from.

PS: Terima kasih untuk bapak Triono Soendoro.