Pikiran Random tentang Kegagalan

Dalam hidup pasti seseorang pernah gagal: gagal pas ngelamar kerja, gagal PDKT, gagal masuk universitas, gagal nyalon jadi anggota DPR, gagal dalam suatu proyek. Bentuk kegagalan bisa banyak.

Cara memaknai kegagalan (dan kesuksesan) pun kayaknya berbeda beda tiap orang, dan rata-rata kebanyakan orang memberikan penghiburan bahwa: kegagalan itu tidak semestinya membuat langkah seseorang terhenti.

Ada banyak pepatah untuk mendorong seseorang mengabaikan rasa takut dan berani mencoba. Salah satunya yang bilang bahwa “you have nothing to lose” yang sesungguhnya gak bener juga, because when you lose, you have to fight you inner demon that questioning your sense of self worth.

I guess fail cost you big.

Apa sebenarnya yang ada dikepala kita saat gagal?

Menurut saya, saat gagal, yang terancam itu adalah nilai yang kita pegang. Mungkin satu diantara hal hal ini

  • Merasa kurang baik, gak cukup berusaha, yang berujung membuat diri sendiri depresi
  • Menyalahkan keadaan, Tuhan atau dunia luar

Karena gagal itu gak enak, maka persiapan untuk sukses harus maksimal. Tapi kan gak ada di dunia ini yang bisa menjamin saat kita melangkah, hasilnya akan sama seperti yang kita mau.

Apa kita harus tidak takut gagal baru berani melangkah?

Nggak. Ada quote yang bilang bahwa merasa takut wajar, tapi saat kita biarkan ketakutan itu menyetir dan mendominasi hidup kita disitulah kita kalah. Gagal saat kita gak berani mencoba.

Bagaimana kita bisa menerima kegagalan tanpa kehilangan nilai yang kita pegang?

Nggak ada jawaban yang pas untuk ini. Maybe we can remember, failed is something just happen. Maybe because of ‘us’, ‘circumstances’, or both. But our life still goes on. So it is better to make the best of it and move on.

Advertisements

This is a Desperate Posting…

Banyak kejadian akhir akhir ini yang membuat sedih. Mulai dari penyerangan di mako brimop hingga aksi bom bunuh diri yang melibatkan anak sendiri yang usianya masih sangat belia. I just refuse to think human could do that, but I could not stop my self. Are they kind of psychotic person, someone without any trace of empathy? Maybe I would never know and never understand.

Saya pernah mendengar bahwa saat suatu kejadian buruk menimbulkan ingatan yang sangat kaya secara emosional, maka amygdala otak akan menyimpannya sebagai memori yang mempengaruhi kesehatan psikologis, sehingga dikenallah istilah PTSD (post traumatic stress disorder). Saya gak kebayang kalau gak cuma menyimpan kenangan buruk dari peristiwa penyerangan atau pengeboman, namun juga kerap mengulang kejadian tersebut di kepala lagi dan lagi. It could make you insane.

Korban yang selamat, mereka yang melihat sendiri ledakan itu terjadi, istri yang ditinggalkan, orang dekat dari pelaku tindakan tersebut yang mungkin merasa tidak berdaya atau disiksa perasaan bersalah, how could they cope? Sometimes it sad how your brain play trick with your emotion. Sometimes I wish healing could be easier. I was sorry, although I didn’t know to whom I address my remorse. Myself? The victim of recent case? People with PTSD? I only wish prayer could mean something, but sometimes I am not sure anymore.

Cerita tentang pengalaman pendaftaran sekolah pascasarjana

Saya pernah tiga kali mendaftar sekolah pascasarjana, dua sekolah pascasarjana dalam negeri: Teknik Biomedik ITB pada tahun 2014, Ilmu Kefarmasian UI pada tahun 2017 serta satu sekolah pascasarjana luar negeri: Pharmaceutical Modelling Uppsala University di tahun 2016. Dari pendaftaran ketiganya, masing masing punya proses sendiri, yang berbeda beda, sehingga saya terpikir untuk membuat postingan ini.

Sebelum mendaftar sekolah pascasarjana, baik dalam negeri maupun luar negeri, perlu mengetahui dulu persyaratan pendaftaran untuk bisa diterima di universitas yang bersangkutan. Jadi kalau sudah punya target bidang dan universitas yang dituju, dan sudah memutuskan untuk lanjut ke jenjang Master, persyaratan penerimaannya di website fakultas/universitas target harus disimak.

Tahapan awal biasanya selalu dimulai dengan penyiapan dokumen. Ijazah dan transkrip nilai saat sarjana merupakan dokumen yang wajib ada saat pendaftaran. Untuk kampus luar negeri dokumen tersebut harus dalam Bahasa Inggris. Sistem grading saat sarjana untuk beberapa universitas luar juga harus menjadi perhatian, karena belum tentu sistem gradingnya sama dengan di Indonesia, dan beberapa bidang justru mensyaratkan nilai grading minimum. Untuk di Uppsala University, nggak perlu dilakukan konversi dari sistem grading ke sistem sana, jadi cukup Bahasa di ijazah dan transkrip yang dikonversi ke Bahasa Inggris. Kalau gak punya ijazah atau transkrip berbahasa inggris, tinggal minta tolong untuk cetak versi bahasa inggris ke Universitas asal saat sarjana.

Dokumen lain yang umumnya diminta sebagai syarat melanjutkan pascasarjana ialah sertifikat bahasa. Untuk melanjutkan ke luar negeri, selalu diperlukan sertifikat IELTS dan TOEFL(bukan TOEFL itp). Walau sudah punya sertifikat, namun perhatikan juga skor yang disyaratkan, baik skor rata-rata atau skor per bagian tes. Persyaratan skor minimum bisa beda beda antar universitas maupun antar bidang. Untuk mendaftar ke ITB masih bisa menggunakan sertifikat TOEFL ITP sementara di UI, tidak diminta sertifikat TOEFL/IELTS, namun harus mengikuti ujian Bahasa Inggris dengan format mirip TOEFL minus bagian speaking.

Beberapa bidang dan universitas mensyaratkan adanya surat rekomendasi. Untuk pascasarjana ITB, diperlukan surat rekomendasi, tapi tidak untuk UI maupun Uppsala University. Beberapa bidang dan universitas (terutama luar negeri), termasuk Uppsala University, juga mensyaratkan adanya statement of intent. Statement of intent merupakan suatu gambaran ringkas dan padat mengenai latar belakang yang memicu ketertarikan untuk melamar program, tujuan melamar program, seberapa jauh mengenal program yang ditargetkan. Statement of intent merupakan salah satu hal yang paling menentukan apakah si pelamar akan diterima atau tidak. Tulisan tersebut bukan sekedar menonjolkan pelamar secara akademik atau menonjolkan kemampuan si pelamar dalam bahasa tulisan, namun juga memberikan representasi sifat personal dari si pelamar. Jadi pentingnya statement of intent tidak perlu diragukan lagi. Untuk mendaftar ke UI dan ITB, masih belum memerlukan statement of intent.

Nilai TPA, merupakan syarat selanjutnya yang perlu dipenuhi jika ingin mendaftar sebagai mahasiswa pascasarjana ITB. Nilai TPA yang diakui ITB hanya dari TPA bappenas yang juga bisa difasilitasi oleh ITB. Untuk mendaftar ke UI tidak ada tes potensi akademik, namun harus mengikuti ujian tulis SIMAK UI. SIMAK UI ialah ujian tulis yang mencakup soal TPA, matematika dan bahasa inggris. Baik TPA Bapennas maupun SIMAK gak boleh dianggap remeh, karena menurut saya pribadi soalnya lumayan susah😁.

Beberapa universitas luar negeri maupun dalam negeri mensyaratkan adanya tahapan uji wawancara. Di ITB uji wawancara diperlukan untuk melamar sekolah pasca namun tidak di UI. Di Uppsala University tidak ada tahapan wawancara.

Persyaratan penting lainnya yang selalu ada untuk penerimaan mahasiswa baik universitas dalam negeri maupun luar negeri ialah biaya pendaftaran. Ada hal yang perlu diperhatikan juga saat pembayaran, bukan sekedar jumlahnya bayaran. Universitas dalam negeri biasanya memiliki kerjasama dengan bank lokal untuk mengatur biaya ini, sementara untuk luar negeri pembayaran hanya bisa dilakukan dengan kartu kredit/PayPal.

Dugaan saya pribadi, nilai kritis penerimaan di UI ditentukan di SIMAK, di ITB ditentukan di TPA dan wawancara, sedangkan di Uppsala University ditentukan di statement of intent. Saya paling nyaman mendaftar pascasarjana di Uppsala University, karena proses keseluruhannya online. Kalau di UI harus datang ke kampus UI untuk ujian, ITB juga harus datang ke kampusnya untuk wawancara.

Pascasarjana UI dan ITB hanya boleh melamar untuk satu bidang studi, sementara untuk Uppsala University dan Universitas Swedia lain bisa memilih tiga bidang atau universitas yang berbeda. Memang di Swedia sistem pendaftarannya, baik sarjana atau master di satu pintu, namun tetap syarat syarat antar bidang bisa berbeda.

Untuk bukti penerimaan universitas di luar negeri berupa Letter of Acceptance (LoA). LoA dikenal ada dua: unconditional dan conditional. LoA yang merupakan dokumen bukti pernyataan diterima sesungguhnya ialah unconditional. LoA conditional menyatakan penerimaan bersyarat, dengan syarat yang harus dilengkapi untuk memastikan memperoleh posisi di universitas tersebut.

Untuk yang punya niat mendaftar sekolah pascasarjana juga harus peduli dengan jadwal penerimaan, karena biasanya dalam setahun ada dua kali pendaftaran yang dibuka pada waktu waktu tertentu. Kalau kelewat, harus menunggu di periode selanjutnya.

Untuk penutup, pendapat saya lagi ini😅, sebenarnya mendaftar kuliah pascasarjana tidak rumit jika langkah langkah dan persyaratannya diikuti sebisa mungkin.

Depression, Suicide, and Hope

Hari ini kaget pas baca berita seseorang musisi berusia 28 tahun, Avicii, meninggal akibat bunuh diri. Selalu menyedihkan setiap mendengar berita begini: saat seseorang melihat dunia sebagai suatu tempat tanpa harapan sehingga kematian menjadi sesuatu yang tidak menakutkan, kematian jauh lebih baik dari pada mempertahankan hidup di dunia.

Pikiran yang mungkin suram namun bukan tanpa validitas

Siapa yang tidak setuju bahwa hidup itu gak gampang? Bahwa komplikasi dalam hidup kadang membuat takut dan ingin menyerah? Mungkin tidak sedikit orang yang pernah berada di satu momen mikir “hidup kok begini banget ya?”.

Lebih sedih lagi, saat pikiran itu muncul, orang orang di sekitar justru menganggap pikiran begitu akibat dari kurang iman, tidak pandai bersyukur, orang yang gampang mengeluh.

Even the thought is all inside our mind, it is real. Every real thing we perceive as real, comes from how our brain conjure something. Thus, belong the though of life is full of misery and not worth living for. The saddest thing when people decide, death is better than life, it is in their mind but it is real.

Persepsi umum “masalah selalu ada”, “setiap orang punya masalah”, “baru begitu kok menyerah” banyak terdengar dan membuat seseorang dengan kecenderungan pemikiran depresif jadi merasa jauh lebih buruk. Saat hidup terasa tidak bermakna, harapan hanya hal semu yang ada di otak, nyawa ataupun hari esok terasa gak ada harganya lagi.

Saya pikir, karena itu manusia butuh orang lain. Karena saat kita tidak bisa melihat harapan dari mata atau otak kita sendiri, ada orang lain yang mungkin mampu memproyeksikan harapan itu. Memperlihatkan bahwa hidup tidak cuma penderitaan, airmata, ketidakadilan, atau hal yang semu. Bahwa hidup itu nyata karena manusia tidak benar benar sendirian dengan semua pemikiran yang mungkin tidak bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.

Sometimes hope is not something we could figure out all by ourselves. Sometimes, it just the way some people ‘wired. Some people maybe think too much about the meaning of life more than average and what considered as healthy.

Saya berharap mudah-mudahan makin banyak yang aware dengan kejadian kasus kayak Avicii ini. Sehingga alih-alih menghakimi, kita sesama manusia, lebih memilih untuk mengasihi. Dengan meningkatnya awareness semoga juga banyak individu yang merasa entah depresi, sendirian dan unworthy, jadi nggak ragu untuk reach out seseorang. Depresi itu bukan dosa kok. Bukan pertanda gak punya iman. Bukan pertanda defect. Manusia memang gak ada yang sempurna, karena itu orang lain di sekitar yang akan memvaliditas bahwa walaupun kita gak sempurna, dengan ketidaksempurnaan ini, kita bisa diterima, dan cukup untuk dicintai.

Pikiran Random tentang Alasan Alasan Untuk Terlalu Peduli dalam Ngomongin Orang

Kemaren saya terlibat suatu percakapan yang membuat saya berpikir. Salah satu teman saya membahas tentang selebgram. Tapi menurut saya pribadi, bahasannya kelewat jauh. Teman saya ini sampai mengetahui dunia-termasuk aspek pribadi serta aib – si selebgram yang (1) tidak bisa diklarifikasi benar atau salah (2) bukan suatu pesona yang diciptakan untuk branding (3) bukan suatu masalah yang layak dibahas dalam suatu forum karena kamu yang ngebahas tidak akan bisa membantu juga (4) bukan masalah yang patut diumbar karena sifatnya aib. Dan teman saya ini tidak sendiri, karena bahasan ini bermula difasilitasi oleh suatu forum di dunia maya.

Saya berpikir apakah orang orang yang membahas ini begitu pedulinya? Menurut saya, peduli itu otentik, tulus, sedangkan dalam kasus ini bagian tulusnya itu tidak ada.

Salah satu teman saya berargumen, bahwa resiko menjadi selebritis itu memang harus siap untuk kehidupan pribadi dia dibahas oleh banyak orang, dimana kejelekan atau aib pribadi bisa tetap disimpan di ranah pribadi itu tidak bakal ada. Hal ini juga bakal menambah popularitas dia dan bukankah itu menguntungkan dia sebagai selebritis?

Mungkin.

But it is not about him/her,

It is never about their choice

It is about your choice

Saya lantas kemudian berpikir, sebagai orang yang gak luput juga dari rasa kepo tentang orang lain, saya juga terkadang suka membuat pembenaran, bahwa dengan menceritakan /mengulik kehidupan/kejelekan orang lain saya bisa belajar tentang hidup dari pengalaman orang tersebut, sehingga kadang nggak sadar bahwa sebenarnya sedang menggumbar aib orang lain.

Jadi kejadian ini mungkin jadi pengingat buat saya :

Membicarakan orang lain bukan berarti kamu peduli.

Membicarakan orang lain bukan berarti kamu banyak belajar juga.

Mungkin lebih baik, jika mau bicara tentang hal pribadi, make that person present.

Pikiran Random tentang Hidup Beda Frekuensi

Pernah tidak, kalian punya sahabat yang dekat banget, yang obrolan tentang hal random gak ada habisnya, entah jokes garing, bahasan novel yang baru keluar, hingga bahasan filosofi hidup, kemudian pada suatu titik, kalian nemu sesuatu yang ingin kalian bagi secara impulsif namun gak jadi karena kalian ngerasa si dia tidak akan tertarik lagi dengan bahasan itu, dan justru membahas hal tersebut bakal membuat kamu merasa pathetic?

Life bring you, whom once close, to different frequency. You suddenly came to realize you were not in synch again.

Hal itu sering saya rasakan akhir akhir ini. Entah saya nya yang memang sedang bawaannya baper atau memang mungkin bahwa hidup ‘beda frekuensi’ ini sejogjanya bisa membuat perasaan seseorang jadi mellow.

Dulu, saat masih sekolah, saya juga pernah grow apart akibat beda tempat sekolah, beda kesibukan, komunikasi yang gak selancar sekarang dengan sahabat saya. Tapi saat itu proses ‘tumbuh menjauh’ sama sekali gak disadari. Tiba tiba kita sudah tidak di frekuensi yang sama lagi. Nah, saat ini, saya menyadari momen itu. Saya tahu saya gak bisa mencegahnya. Dan hubungan yang renggang dalam hidup ialah suatu keniscayaan.

Tapi tetap saja, di fase dimana teman justru menjadi makin sedikit, mengikhlaskan suatu hubungan dengan sahabat yang benar benar pernah sesinkron itu dengan saya, berat.

Maybe this one is a blessing yet a curse for being a human, for have a feeling…

Cerita soal Hype Skin Care Korea

Saya termasuk pecinta skin care Korea. Perkenalan saya dengan satu skin care Korea berlanjut ke perkenalan satu paket brand skin care dan saya pun ikut teracuni dengan hype ini. Walaupun skin care yang saya beli belum resmi diijinkan oleh regulasi kosmetik di Indonesia, dan bisa jadi nge skip pembayaran pajak bea cukai, saya merasa skin care Korea worth the hype.

Tipe kulit muka saya ialah berminyak. Tipe yang paling banyak masalahnya, dari jerawatan, pori pori besar, bintik hitam, komedo, hingga kusam, melengkapi penderitaan pemilik tipe kulit saya ini. Ditambah lagi produk anti aging, sudah harus mendapat perhatian serius untuk saya yang sudah lewat 25 an.

Berawal dari pencarian produk pembersih komedo yang mengenalkan saya dengan exfolating toner merek Benton, saya pertama kali uji coba skin care-nya korea. Muncullah perubahan yang menurut saya begitu kentara, dan saya pun tergoda untuk membeli rangkaian essence, emulsion, dan ikut hype sheet mask yang ada dimana mana. Akhirnya jadi familiar dengan rangkaian step korean skin care yang gak-praktis-tapi-saya-lakukan karena suka dengan hasilnya. Kemudian mulai melirik produk lain.

Pernah, setelah satu rangkaian produk ini tuh habis, saya tidak beli lagi. Perubahannya juga langsug terlihat. Kulit saya jadi kusam, bintik hitam di kulit terlihat jelas. Akhirnya saya pun tidak sanggup berpisah dengan rangkaian produk ini. I vowed my eternal love that come firstly from infatuation.

Saya sebenarnya kalau boleh memilih lebih suka membeli produk dalam negeri. Mendapatkannya nggak susah, kemudian jelas merupakan sumbangan untuk ekonomi nasional, budaya, alam, serta teknologi kita sendiri. Saya sedih melihat kosmetik Indonesia jauh tertinggal, yet I could not force myself to buy local product this time. Setelah saya pikirkan dengan tidak terlalu mendalam ketertinggalan kosmetik kita sebenarnya gak cuma efek dari teknologi yang Indo kurang, tapi juga ekonomi, politik, dan budaya. Sejauh ini, saya cuma bisa bersikap optimis, suatu saat Indonesia bisa menghasilkan produk kosmetik berdaya saing global seperti brand Korea.

The speaking words of thought