Protected: Kaleidoskop 2017, About 2018

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Behind the Story of Back to School Again

Sebenarnya cita cita melanjutkan sekolah pascasarjana sudah tertanam di kepala saya sejak akhir masa kuliah, tetapi usaha ke arah sana baru saya mulai setelah satu setengah tahun sejak saya mulai bekerja, dan baru direalisasikan setelah lima tahun saya bekerja.

Keputusan melanjutkan sekolah pascasarjana bukan keputusan yang mudah untuk saya pribadi. There was too many devil advocate who playing the mind game in my head and they kept making me holding back. Di satu sisi, sepertinya adanya devil advocate ini membawa benefit tersendiri, karena “mereka” mengajukan pertanyaan yang mesti dijawab sebelum membuat suatu keputusan, contoh:

  1. Kenapa mau melanjutkan sekolah pascasarjana? Apa sih visi saya sekolah pascasarjana? They would never accept the answer : just because I love to learn. Nope. I was should to thought what career path that I would pursue, once If I finished my study.
  2. Bagaimana cara saya mensupport diri saya jika saya melanjutkan sekolah pascasarjana? Bagaimana hal ini mempengaruhi kondisi keluarga saya? Sebagai anak rantau tentu saja saya tidak bisa menghemat biaya untuk tempat tinggal dan makan sehari hari dengan nebeng di rumah keluarga saya.
  3. How I cope with the great fear and confounding? such as the thought of too old to back to school, against the myth: never found a life partner whose secure enough for woman-with-postgraduate-degree. Am I doing this not because of I want to dismissed my responsibility or bore?
  4. Apa saya siap dengan resiko finansial dari pendidikan pascasarjana? What the advantage my degree would bring? How the postgraduate degree going to worth it? despite the settled job, the luxury of having salary regularly? How about the monthly saving? How about the saving for my retiring? How about the luxury of online shopping?

Dulunya, preferensi saya melanjutkan sekolah pascasarjana, ialah di luar Indonesia. Bukan karena saya tidak yakin dengan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia, tapi karena saya pikir dengan kuliah di luar negeri, saya mendapatkan pengalaman yang gak mungkin saya dapat disini, dan pengalaman itu nilainya mahal. Tapi karena pengajuan sponspor, yang ending ditolak melulu dan selalu pada tahap akhir (curcol), saya nyaris menyerah tahun lalu setelah LoA untuk program yang benar benar saya inginkan diperoleh tapi gagal untuk disponsori.

Titik balik yang membuat saya akhirnya menghadap ke orang tua untuk meminta restu mengejar sekolah pascasarjana, mengosongkan tabungan, dan mengajukan surat resign ialah saat teman sekelas saya saat kuliah meninggal. I thought then, life is too short, I don’t want to live it in regret or self pitying, just because something is not come my way.

Setelahnya, saya pindah, mulai tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri. Saya lebih menghargai nilai kuliah di Indonesia, di daerah yang tidak terlalu jauh dengan lokasi kerja dulu. Contohnya saya tidak perlu jauh jauh mencari support dari keluarga dan sahabat saya, saya masih mungkin untuk kerja part time, saya sudah tidak terlalu asing dengan ritme kehidupan sehari hari maupun kehidupan kampus, saya punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri, sahabat dan keluarga. Hal hal yang mungkin lebih saya perlukan dibandingkan kelebihan yang ditawarkan sekolah di luar negeri.

Then I realize everything make sense eventually. I learnt a lot. And I am grateful.

Tentang Draft yang Belum Terpost-kan

Setiap kali blogwalking saya sering takjub dengan bagaimana tulisan seseorang bisa menjadi suatu media yang sifatnya emosional dan universal. Saya bisa simpati dengan seseorang tanpa bertemu orangnya. Saya bisa terpacu pergi travelling ketika si A menceritakan keindahan kota B. Saya bisa memanfaatkan review orang orang sebelum belanja online atau offline. Semua karena apa dan bagaimana seseorang tersebut menulis dan bercerita.

Kekaguman saya dengan para blogger ini juga yang membuat saya termotivasi untuk membuat blog. Disamping kebutuhan untuk curhat lewat tulisan tentunya. Tulisan para blogger yang lain, sering menginspirasi saya untuk menceritakan pengalaman atau pemikiran saya juga. Tapi karena saya moody-an , sering merasa bahwa tulisan saya tidak akan sebagus dan seberkualitas blogger diluar sana, takut tulisan saya malah menjadi indikator lebih jauh tentang kekurangan saya yang introvert dan somehow misscommunicable saya sering patah semangat di tengah jalan. Akhirnya tulisan tersebut menjadi draft, yang di kemudian hari saya akan kehilangan minat untuk memprosesnya lebih lanjut. Sejauh ini ada draft tentang pengalaman saya tentang menggunakan skin care Korea, cerita tentang travelling dan climbing ke Ijen, pikiran tentang kasus kasus patah hati yang saya baca dari internet, arti konsistensi yang saya dapat dari seorang penulis novel, cerita romansa sahabat saya, cerita tentang keluarga saya, hingga cerita berhenti bekerja setelah nyaris 5 tahun dan kembali ke bangku kuliah. Draft tersebut, merupakan draft yang belum tuntas. Draft yang ingin saya finalkan menjadi suatu published post.

Semoga suatu saat bisa diwujudkan…

Amiin

Some Reminder..

if there is something you did not do because you thought you were too old, remember that with or without doing that you still got older.

Climb the highest mountain, travel as far as we want, go back to school. And be responsible of your choice, because living life does not mean being reckless instead.

to be loved, you should first love yourself and be the best version of you.

take care about your fill, your look, your vision that make you like and love yourself. if another people you care criticize that, take that as an input, not something to make you down. if another people criticize you and you do not care about what they said, why should you let it take you down?

Yang Baru (part 2)

I wrote my last post in May and now is the end of August already. Many changes, in between that time, I could not comprehend how should I make up my mind, how I felt. So, here those changes:

1. Berhenti dari pekerjaan sebelumnya yang telah dijalani selama kurang lebih lima tahun. Ini merupakan keputusan sulit dan lebih sulit lagi untuk dijalani.

2. Patah hati. Dan patah harapan. He got and deserve his happy ending. But I felt shattered and don’t know how to become whole again.

3. Sekolah lagi. Yang diniatkan dan memang disiapkan sebelum resign. But felt unsure and unmotivated after that heartbreak. I thought I lose my purpose, don’t know how to make everything good again. I would like to think that brokenhearted is a lesson that I should to be thankful for ever love that fiercely, for never really lose someone, but that hurt. And that hurt so bad.

4. Ngetrip ke ijen/banyuwangi sendiri. Dari jakarta sendirian menggunakan kereta selama kurang lebih 24 jam. Tanpa bisa bawa motor, belum pernah naik gunung 10 tahun belakangan, tanpa kenalan di daerah sana, dan saat dana terbatas. I met a lot of people, I experienced incredible and magical thing. I restore my faith. But in between, I still felt there is a hole in my heart that I want to cry out loud.

5. I just stop writing. Maybe I want to stop hoping too. I pitied myself. I used that as an excuse… I see everything I have done as useless. So, in attempt to avoid become a hopeless person, I began to write again, as an exercise to be honest to myself again. The tiny little step.

Yang Baru

Many things happened since the last post I wrote. In brief detail, here they were:

1. I began part time job as elementary mathematics and English teacher.

2. I won my first door prize (a luggage)!!

3. I got addicted to online shopping.

4. I got obsessed with K-beauty routine ( that complicated 10 steps skin care)

5. Another office drama episode arouse. My subordinate lied and left early when she should done the overhour, made me more than just disappointed.

6. I began learn French from mosalingua App (Salut)

7. A college friend of mine deceased right after childbirth. This is the most profoundly devastating news I heard recently. I got shaken to the core. I began to wonder many things about death, heaven, being a mortal and so many times I reconsider about my own choice and life.

I should to began again the initation of scheduled writing, just to encourage me to leave the laziness and fear behind.

Romance Book with Arranged Marriage Theme

Dalam kehidupan nyata, Arranged Marriage yang pernah saya tahu tidak ada yang berakhir bahagia. Walaupun saya rasa beberapa Arranged Marriage di luar sana benar benar berakhir bahagia, namun, tetap saja, memutuskan untuk menikah dan menghabiskan sisa hidup dengan seseorang yang tidak dikenal sama sekali atau dengan seseorang yang pikiran maupun tindakannya tidak dihargai oleh salah satu pihak, seberapapun terpaksanya seperti gambling dengan niat yang tidak tuntas. Bertarung tanpa keyakinan akan menang. 

Sehingga walaupun dalam dunia fiksi tema ini populer, saya seharusnya tidak punya dorongan yang kuat untuk membacanya. Terlalu fantastis. 
 Tapi rasa penasaran mendorong saya untuk tidak mengabaikan tema ini sepenuhnya dalam bacaan saya. Saya ingin tahu bagaimana penulis menggambarkan sistem ini berjalan.

Dari blogwalking ke beberapa blog dan juga dari jam jam yang dihabiskan untuk membaca sinopsis di toko buku, saya memperoleh referensi novel lokal bertema serupa dengan review oke dan penggemar yang cukup banyak. Novel tersebut antara lain: 

  1. Mahogany Hills 
  2. Marry Now Sorry Later
  3. Jodoh untuk Naina
  4. Dimi is Married
  5. Marriagable
  6. Orange

Saya baru membaca 3 novel terakhir, namun tidak diduga 2 novel terakhir membuat saya jatuh cinta dengan karya karya penulisnya 😄.  

Marriagable dengan dialognya yang kocak berhasil membuat saya mengabaikan unsur kebetulannya yang banyak, narasinya yang sedikit, dan tema klise AM yang terpaksa usia ini. Di novel Marriagable mereka berdua menghabiskan waktu setahun untuk mengenal satu sama lain dan kesannya jauh dari gambling.  

Orange membuat saya jatuh cinta karena penekanan sang heroine bahwa dia akan bersungguh sungguh dalam pernikahan mereka dan ujungnya pernikahan tersebut dibatalkan karena tokoh hero sadar ialah tindakan yang egois membuat seseorang berada dalam pernikahan tanpa benar benar tahu apa yang sebenarnya diharapkan oleh masing masing pihak dalam perjanjian itu. 

Arranged marriage tanpa peduli nilai dan keseharian pihak yang lain seperti judi. Bukan berarti saya setuju dengan pacaran yang belasan tahun. Mengenal value seseorang tidak hanya lewat pacaran. Bisa jadi dan sangat mungkin value ini tertutup karena pacaran sifatnya dua arah dan ada unsur harus menyenangkan pasangan di dalam. Di logika saya walaupun cinta tak wajib ada sebelum menikah namun kedua belah pihak harus berkomitmen menghargai satu sama lain dulu untuk membangun rumah tangga. Bagaimana bisa berkomitmen untuk menghargai jika sebelumnya mereka tidak kenal pribadi calonnya. Hal ini membuat saya menyadarkan Arranged Marriage juga layak mendapatkan happy ending-nya sendiri. 

The speaking words of thought