Daftar Tontonan Selama Pandemi (part 2)

Menonton setial tv sebagai kegiatan selama pandemi saya masih berlanjut, sehingga tentu saja daftar ini bisa saya tambahkan. Bear with me 🙂

1. Babylon berlin (3 season, 28 ep)

Drama serial dari jerman ini merupakan obsesi baru saya. Saya gak bisa menemukan hal yang jelek soal drama ini. Saya bahkan sampai mencari sejarah lift naik turun yang ternyata bernama paternoster lift, mencoba memahami ideologi sosiologi dan komunisme dari Karl Marx, Trotsky, dan Stalin, mencari tahu mengenai sejarah Blutmei, bahkan sampai mencari tahu sejarah peracikan ampul. Semuanya ini bahkan gak ada hubungannya dengan cerita utama Babylon Berlin. Kisah utama Babylon Berlin merupakan kisah detektif inspektur Gereon Rath yang menyelesaikan kasus kriminal di masa Republik Weimar. Republik Weimar yang menjadi latar belakang drama ini tidak terasa sekedar tempelan, sehingga merasa kalau ada di zaman itu, kita jadi merasa bisa memahami karakter yang ada sekaligus menyadari bahwa backstory akan mempengaruhi cerita utama secara keseluruhan. Menurut beberapa artikel, menonton ini, membuat kita merasa ada di dalam- bukan menyaksikan sejarah yang kita sudah tahu akan seperti apa ujungnya. Apalagi ditunjang dengan sinematografi yang bagus banget. Pemandangan lahan berkuda, hutan dengan rel kereta api, hingga suasana malam di Berlin dibuat indah, terasa nyata seperti keindahan bayangan tentang wilayah Jerman di masa lalu (kayaknya).

Karakter karakter Babylon Berlin juga sangat menarik. Semua tokoh di sini digambarkan sebagai manusia yang kompleks bukan sekedar tokoh dua dimensi. Favorit saya tentu saja Charlotte  Ritter. Salut sekali saya dengan karakternya dan juga dengan Liv Lida Fries aktris pemeran Chatlotte ini. Saya sampai berharap akhir dari serial ini setidaknya ngasih sedikit kebahagiaan buat dia. Mungkin gak bisa juga saya bilang dia gak bahagia ya, karena walaupun hidup Charlotte ini menyedihkan untuk standar siapa saja, jadi psk part time dan tulang punggung keluarga yang miskin, ipar abusif, seksisme di kantor, udah berusaha sebaik apapun hasilnya seringnya pahit, hidup di zaman republik weimar lagi, yang sudah pasti berujung ke mana, tapi saya nggak pernah merasa karakternya merupakan karakter yang menyedihkan. She is so alive and sparking bright despite her circumstance without being nauseating about life positivity. Saya ngefans juga dengan hubungan Charlotte Ritter dan Gereon Rath. Gereon Rath merupakan manusia bermasalah namun cara dia memperlakukan Charlotte dan menangani kasus, saya gak bisa membenci tokoh ini. Saya nggak sabar menunggu season 4 serial ini yang kabarnya akan tayang di tahun ini.

Gereon Rath dan Charlotte Ritter

2. Alice in Borderland (1 season, 8 ep)

Saya telah lebih dulu membaca manganya dibanding nonton serial versi Netflix. Ceritanya si protagonis, Arisu, terjebak dengan dua sahabatnya di Tokyo versi Borderland. Borderland ini memaksa mereka harus mengikuti permainan hidup atau mati terus menerus. Pihak yang menyelesaikan ‘game’ diberikan visa (semacam kartu izin untuk tinggal di Borderland) sedangkan pihak yang ‘game over’ akan mati. Jika visa expired, pemegangnya mati, jadi sebelum visa expired, penduduk Borderland harus memperpanjang visa dengan mengikuti permainan berikutnya. Premisnya mirip fusi serial liar game dan battle royale.

Serial versi Netflixnya nggak jelek tetapi saya merasa ada yang kurang dari versi serial tvnya. Sinematografinya oke, Yamazaki Kento dan Tsuchiya Tao sebagai protagonis juga oke, alur cerita nggak menyimpang dari manganya. Saya merasa versi tv kurang menyampaikan sudut pandang dan kepribadian masing masing tokohnya seperti di manga. Kalau di manga, latar belakang dan cara berpikir Arisu terasa personal sehingga saat Arisu terjebak di borderland saya merasa lebih ‘terikat’ dengan Arisu sebagai individu, sementara saya gak menemukan keterikatan ini di serial Netflix. Game-gamenya juga kurang berasa gregetnya dibandingkan dengan game versi liar game, tapi mungkin ini karena saya sudah tau game sepanjang cerita dari manga sehingga elemen kejutannya hilang. Season 2 serial ini sudah diumumkan akan tayang tahun ini juga oleh Netflix.

3. The Queen’s Gambit (1 season, 8 ep)

Menonton serial The Queen’s Gambit merupakan pengalaman yang menyenangkan. Queen’s Gambit menceritakan hidup Beth Harmond dari seorang anak jenius yang dibesarkan di panti asuhan hingga menjadi juara dunia catur.Walaupun nggak paham apa-apa soal catur, saya sangat menikmati kompleksitas si Beth Harmond, saya bersimpati dengan pengalaman dan pilihannya, saya menyukai selera fashionnya. I love almost everything about this show. Anya Taylor-Joy did an amazing job.

4. Serial Cormoran Strike (4 season)

Serial ini diangkat dari buku karya Robert Galbraith (alias JK Rowling). Cormoran Strike merupakan seorang detektif partikelir. Setiap buku memuat satu kasus dari klien biro detektif punya si Cormoran dan khusus di buku pertama, diceritakan bagaimana Cormoran mulai membuka bisnisnya sekaligus pertemuan pertama dengan Robin Ellacott (sekretaris yang nanti akan menjadi partner bisnisnya).

Saya suka banget cerita detektif, tetapi entah kenapa buku-buku Cormoran Strike ini biasa aja buat saya. Mungkin karena saya merasa cerita di bukunya terlalu panjang. Saya jauh lebih menyukai versi serial tvnya daripada versi buku. Saya berharap serial tvnya masih akan terus diproduksi walaupun buku terakhirnya penuh kontroversi.

5. Ore no ie no hanashi (1 season, 10 ep)
Drama ore no ie no hanashi (cerita rumah saya) merupakan satu satunya winter dorama yang berhasil saya tamatkan.  Layaknya drama slice of life jepang yang lain, Ore no ie no hanashi juga merupakan drama yang menghangatkan hati. Apalagi adanya elemen Noh dan Wrestling yang jadi bagian ceritanya. Menarik. Banyak masalah keluarga yang cukup serius diangkat di serial ini, tapi disampaikan dengan ‘tidak seserius itu’.

Miyama Juichi pulang ke rumah untuk merawat ayah yang sudah 10 tahun tidak doi temui. Keluarga Juichi merupakan keluarga ternama terutama sang ayah Miyama Jusoburo yang diberi gelar ‘living national treasure” karena seni permainan Noh yang diturunkan generasi keluarga ini. Saat muda, Juichi sebagai anak tertua menolak untuk melanjutkan tradisi sebagai pemain Noh dan memilih kabur dari rumah menjadi pegulat. Suatu hari, Juichi mendapat kabar bahwa sang ayah kritis dan akan meninggal, namun sang ayah selamat dan memutuskan untuk menikah dan menyerahkan seluruh harta keluarga kepada Sakura perawatnya. Premisnya kira kira seperti itu. Akhirnya memuaskan tapi sedih dan membuat saya cukup kaget.

***

Note from the Covid 19 Crisis

The covid-19 emergence would be written in history as one of the devastating crisis during 20th century. Highly contagious, strict mobility restriction to avoid further widespread of SARS-Cov-2 applied all around the world. The social consequence and personal level impact are enormous. To name any, the increasing laid off, domestic violence, cabin fever.

I got to come back home not long after receiving my degree, just before the covid. Been a year already and covid change lives in so many way. Masks now is necessary. No need to go to vacation just for the sake of it.

I guess I was lucky that this covid did not made me lose job and my parent are healthy despite their old age. Too much people lose their loved one in this pandemic era. But I also left to wonder, what normal means in the future?

Etik

Dua bulan yang lalu, saya mengikuti satu pembelajaran yang menurut saya sangat menarik. Topiknya mengenai etik. Konteks pembelajaran ini dilakukan untuk memastikan setiap penelitian akademik (bukan hanya penelitian klinis) yang mengikutsertakan manusia memenuhi kaidah etik. Etik bukanlah konsep yang hitam putih.

Penelitian yang mengikutsertakan manusia, sebenarnya cukup banyak dilakukan bahkan di Indonesia, dari kuisoner sederhana mengenai pemilihan jajanan hingga uji klinis vaksin covid yang baru-baru ini dilakukan. Semua penelitian yang mengikutsertakan manusia ini harus mendapatkan keterangan lolos kaji etik dari komite etik. Keterangan lolos kaji etik memastikan bahwa protokol penelitian-yang mengikutsertakan manusia itu-memperhatikan prinsip etik penelitian sehingga data berikut informasi menjadi hasil yang sahih dan valid. Namun, yang menjadi tujuan adanya kaji etik dalam penelitian bukanlah untuk memastikan seseorang mendapatkan data yang valid, melainkan memastikan bahwa mereka yang melakukan penelitian ini, dalam mencapai tujuannya, memperlakukan manusia lain yang ikut serta dengan baik, hormat, dan adil.

Sebagaimana konsep absurd moral lain, penerapan konsep etik merupakan suatu konsep yang sulit untuk diukur. Konsep etik sangat jauh berbeda dengan konsep hukum. Tidak ada penghakiman yang bisa memutuskan dengan pasti etik itu seperti apa. Tidak ada orang yang bisa menentukan bagaimana nilai hormat dan adil dalam kehidupan sosial dan kepentingan komunitas. Penentu batasan etik yang paling mendasar bukanlah orang lain, tetapi individu itu sendiri. Bagaimana seseorang memperlakukan orang lain dalam nilai baik, hormat, dan adil akan sesuai dengan apa makna baik, adil, dan hormat bagi individu itu sendiri. Sehingga kaji etik merupakan suatu konsensus nilai nilai moralitas.

Standar layak etik disepakati agar tidak mengulang sejarah buruk masa lalu. Sejarah memperlihatkan kompleksitas manusia tidak bisa disatukan oleh satu istilah seperti akal sehat atau nilai nilai manusiawi.

Beberapa penelitian kesehatan meninggalkan sejarah yang cukup suram, misalnya penelitian yang dilakukan selama periode Nazi German oleh Dr Mengele dan penelitian terhadap tahanan berkulit hitam yang terkena sifilis di Tuskegee. Terungkapnya sejarah kelam tersebutlah yang melahirkan prinsip etik: dalam penelitian yang mengikutsertakan manusia, pihak sponsor dan peneliti harus memperhatikan 3 prinsip etik yakni Hormat (Respect for human), Baik (Beneficent)  dan Adil (Justice). Hal-hal terkecil dalam kaji etik harus memperhatikan bahwa semua orang yang dilibatkan tidak boleh diperlakukan sebagai objek, sehingga kata seperti “pengujian/penelitian ini menggunakan sukarelawan sehat” tidak layak untuk dipakai.

Sejarah penelitian tersebut menurut saya merupakan salah satu hal ironis dalam hidup. Bukankah penelitian klinis dilakukan karena keinginan memberikan nilai kehidupan yang lebih baik pada manusia? Apa gunanya jika penelitian tersebut jika dalam perjalanannya justru banyak merendahkan manusia? Tapi manusia memang makhluk yang kompleks, terkadang egoisme atau keinginan membuktikan diri, membuat kita menciptakan alasan alasan untuk menganggap satu pihak layak dikorbankan demi kalangan lain, atau demi kausal lain yang lebih besar.

Saya sendiri merasa bahwa konsep etik merupakan konsep yang layak dibahas tidak hanya untuk kalangan peneliti atau kalangan yang berasal dari ilmu kesehatan. Konsep etik merupakan konsep humanis. Etik harus memperhatikan kelompok rentan, etik harus memastikan nilai yang akan diperoleh saat mengikutsertakan orang lain, apakah nilai tersebut memang berarti tertentu, etik harus menjamin tidak ada orang yang dirugikan dalam suatu kelompok.

I guess this conversation remind me about what is the important thing in life. Not that big grand thing you bring in to this world is the most important, life is about how you treat another with respect, justice and kindness. No matter how hard it is, no matter who the person is, no matter where they came from.

PS: Terima kasih untuk bapak Triono Soendoro.

In Memoriam : Yuko Takeuchi dan Haruma Miura

Dalam dua bulan ini, banyak sekali berita menyedihkan datang dari dunia hiburan Jepang. Berita kematian Yuko Takeuchi dan Haruma Miura salah satunya.

Haruma Miura merupakan aktor Jepang yang banyak mengenalkan saya dengan dunia dorama dan film jepang. Bloody Monday dan Kimi ni Todoke ialah dorama dan film beliau yang sempat saya tonton saat saya masih sekolah dan belum kenal ponsel pintar, lebih dari 10 tahun yang lalu.

Saya pertama kali melihat Yuko Takeuchi di layar kaca melalui film Be with You. Cantik dan eteral ialah hal pertama yang ada pikiran pertama saya saat melihat akting beliau di sini. Saya masih ingat, saya mendapat file film ini dari salah satu teman dari Jogja saat PKL di salah satu industri farmasi daerah Bandung, sehingga jadi semacam simbol persahabatan untuk saya.

Yuko Takeuchi dan Haruma Miura merupakan artis yang bisa dibilang punya reputasi yang baik di Jepang. Tidak ada skandal obat terlarang, minum di bawah umur, walaupun puluhan tahun yang lalu Yuko Takeuchi sempat bermasalah dengan pernikahannya, tapi beliau melewatinya dengan baik. Tahun kemaren Yuko Takeuchi menikah lagi dan di awal tahun ini melahirkan anak kedua, sementara Haruma Miura di bulan ini harusnya sibuk promosi drama terbaru yang dibintangi bersama Matsuoka Mayu. Bisa dibayangkan, betapa terkejutnya publik saat mendengar berita kematian mereka berdua. Haruma Miura ditemukan meninggal di bulan Juli, Yuko Takeuchi ditemukan meninggal dua hari yang lalu.

Duh, mendengar mereka meninggal membuat saya sangat sedih. Saya sedih karena dunia sebegitu tidak ramahnya kepada manusia. Mungkin pada dasarnya saya percaya: human is kind but fragile. Apalagi di masa pandemi sekarang ini. Gampang sekali merasa terisolasi.

Saya menangis saat mendengar kematian Yuko Takeuchi. She seems so happy, I thought. She smiles so brightly and beautifully in her last frame. I remember saw her photo with her husband and their baby.

I know depression and pain have no face. We just felt in deep water and don’t know how to breath sometimes. Haven’t I ever wish to just lying dead in the morning just because all of ‘this’ felt so unbearable?

The mercy of God is by make us can live today.

*

Kesan Bacaan: “The Poppy War”

Saya baru saja selesai membaca buku terjemahan berjudul ‘The Poppy War” atau perang opium. Sudah cukup lama saya  tidak membaca genre fantasi dan buku ini tidak mengecewakan.  Bagaimana narasi buku ini berkembang sangat menarik. Selain itu, tokoh utamanya, Rin, membuat saya merasakan simpati, kekaguman, dan kesedihan, bolak balik sampai saya tidak bisa mendeskripsikan saya ingin Rin ini menjadi tokoh seperti apa. This was quite a powerful storytelling.

I didn’t sure how should I felt about something during reading this book. This book started with ordinary opening for YA fantasy, but the more it progressed, it gave me this sorrowful…experience about how harrowing life could be and it reminded me how some human-no matter how understandable it was-just a sad living being. It did have its boring moment for me, but the fact that this book has some historical truth, psychological and privillege themed, and not to mention the way it told about pain management, made this book…sad and hard to read sometimes.

Kesedihan saya tidak berakhir dengan cepat setelah membaca buku ini. Satu hal yang membuat saya menjauhi buku buku fantasi ialah karena tipe buku ini biasanya tipe buku yang saya akan hebohkan tentangnya kepada teman teman saya. Like I did with Harry Potter, Divergen, Hunger Games, Lockwood. Selesai membaca buku ini, saya malah makin merasa kehampaan karena sekarang sepertinya saya tidak akan mendapatkan antusiasme itu lagi. I realized now, gushing around about book that hooked you with a friend whom also had similar interest and enthusiasm also a privilleged thing. Circumstances change and it could leave you just being a different person.

Good book gives impact to the reader, and The Poppy War is a powerful book that make me sad about life, about human, and also made me feel a little bit lonely.

Bad Genius the Series

Selasa kemaren saya selesai menonton serial tv asal thailand yang diangkat dari film berjudul sama: bad genius. Saya memang sudah terlebih dahulu menyaksikan film bad genius ini, sekitar 2 tahun lalu, saat langganan viu premium langsung aktif karena saya pengguna kartu perdana three (ini bukan promo yaa:)).

Bad genius merupakan salah satu film thailand yang meninggalkan kesan untuk saya. Dalam bad genius, eksekusi cerita tentang contek mencontek siswa SMA bisa menjadi menegangkan, menghibur, membawa kritik sosial, dan (mungkin) menjadi sarana refleksi diri. Saya juga kagum dengan akting dari pemeran pemerannya, terutama Aokbab yang memerankan Lynn. Sebagai tokoh utama, Lynn yang diperankan Aokbab seperti jadi ikon dari siswa ‘bad genius‘. Kharismatik, pemberani, percaya diri, dan sangat menyenangkan untuk disaksikan.

Bad Genius movie poster

Mulanya, saya tidak begitu tertarik untuk mengikuti serial bad genius ini tapi karena bisa ditonton gratis tanpa subscribe di wetv dan karena saya benar benar butuh pengalih perhatian, akhirnya saya mulai juga menonton serial ini. Bad genius the series ini tidak mengecewakan.

Bad Genius The Series poster

Serial yang diangkat dari film ataupun remake tidak mungkin tidak dibayang-bayangi oleh pendahulunya, apalagi jika pendahulunya baik dari segi cerita dan  akting sudah bagus dan nyaris sempurna. Beban yang berat untuk tim yang membuat ulang memang, apalagi jika mempertimbangkan penonton sebagai konsumen. Bagusnya, bad genius the series bisa keluar dari bayang bayang pendahulunya tanpa mengubah jalan cerita dan tema yang menggerakkan serial ini. Para pemain yang baru versi serial juga mampu bersinar dan memberi warna sendiri. Bagi saya, menonton bad genius versi serial sama menyenangkannya dengan menyaksikan versi filmnya dulu. Bahkan kalau boleh dibilang, menonton versi serialnya ini terasa lebih lengkap dibanding film yang cuma berdurasi selama lebih kurang dua jam. Versi serial terasa lebih emosional karena hubungan antar tokoh lebih tergali sehingga kepribadian masing-masing juga menjadi lebih kelihatan. Walaupun dari film menjadi serial 12 episode, cerita bad genius juga tidak terkesan terlalu dipanjang-panjangkan.

Hal yang cukup mengangetkan saya di serial ini ialah June sebagai Lynn. Lynn yang diperankan Aokbak di versi film sangat mengena di pikiran saya dan sebelumnya saya khawatir Lynn versi serial yang diperankan June tidak mampu menghadirkan penokohan dengan kekuatan serupa, apalagi tokoh sentralnya kan si Lynn ini. Untungnya, Lynn versi June tidak cuma menarik dilihat tapi juga aktingnya bagus. Lynn versi film tampil kharismatik dan dingin. Lynn versi serial berjiwa pemberontak dan sinis. Dua-duanya sama sama menarik dan sama sama bad genius.

Lynn versi Movie yang karismatik
Lynn versi Serial yang pemberontak

Ide cerita bad genius the series masih tentang Lynn seorang anak pintar yang awalnya memberi contekan karena kasihan hingga akhirnya menjadikan jasa pemberian contekan ini sebagai bisnis. Bisnis yang mulanya skala pertemanan akhirnya berkembang menjadi bisnis skala nasional. Dari yang semula untuk persahabatan menjadi demi keuntungan ratusan ribu baht. Yang awalnya terlihat demi kebutuhan seakan menjadi pemberontakan terhadap sistem dan ketidakadilan dalam kehidupan.

Bad genius the series juga masih berpusat pada empat karakter utama. Tiga tokoh selain Lynn ialah Grace sahabat pertama Lynn di sekolah-yang akhirnya menjadi sahabat dekat-yang bercita-cita menjadi pemain sandiwara; Pat, pacar Grace yang sudah kaya dari lahir dan hidup penuh kemewahan, dan; Bank, penerima beasiswa saingan Lynn dan hidup sulit bersama ibunya yang sakit-sakitan. Saya suka dengan eksplorasi hampir semua hubungan tokoh di sini, terutama hubungan Lynn dan Grace-yang dimulai dari kisah persahabatan sederhana hingga menjadi tidak begitu sederhana lagi-serta hubungan Lynn dan Bank. Lynn yang awalnya melihat Bank sebagai simbol moral dan Bank yang awalnya menganggap Lynn sebagai rival. Hubungan mereka berdua sebagai love interest agak kurang umum ditampilkan dalam kisah sma. Dalam romansa remaja, konflik keduanya bukanlah karena penghalang mainstream seperti orang ketiga ataupun orang tua atau status sosial, tapi moral compass masing-masing. Saya sempat simpati kepada Bank yang sangat sakit hati (dan mungkin patah hati) saat mengetahui Lynn ternyata memberikan contekan kepada siswa lain demi uang, dan kepada Lynn yang tidak percaya Bank yang jujur berbohong demi uang.

Tidak cuma dari pengembangan penokohan, alur cerita dan tensi dari tema yang menegangkan juga dikembangkan dengan baik di serialnya. Tidak semua rencana berjalan mulus dan sesuai harapan, tidak semua hal menghasilkan konsekuensi yang terlihat sepadan.

💇🏻‍♂️🙅🤦

Jika ada yang mesti saya kritisi dari serial ini ialah gaya rambutnya Jaonaay yang meranin Bank. Duh, ndak paham saya dengan selera remaja cowok bergaya rambut ala Bank ini. Mana mirip dengan si rambut jamur serial Liar Game. Walaupun dengan gaya rambut yang sungguh agak…hmmm…, tetap bad genius the series layak banget untuk ditonton.

Daftar Tontonan Saya Selama Masa Pandemi

Selama masa pandemi Covid 19, saya jadi punya banyak waktu untuk eksplorasi daftar tontonan. Selain sempat keranjingan menonton dokumenter dari DW, berikut beberapa serial tv yang menjadi daftar tontonan saya:

1. Monster

Dokter Tenma, dokter bedah muda di salah satu RS di jerman, membuat keputusan besar dengan menyelamatkan seorang pasien kedaruratan anak, alih alih menuruti perintah direktur rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa tokoh politik penting. Keputusan ini membuat dokter Tenma dicampakkan tunangannya dan diturunkan posisinya di rumah sakit. Hal ini tidak berlangsung lama, beberapa saat kemudian tokoh-tokoh yang membuat Tenma kesulitan ditemukan meninggal dan kedudukan Tenma di rumah sakit menjadi lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi, beberapa tahun setelahnya, Tenma mengetahui bahwa si anak yang pernah diselamatkannya bertanggungjawab dalam peristiwa kematian orang orang disekitarnya. Tenma bertekad untuk mencari dan membunuh Johann, si anak yang pernah diselamatkannya tersebut.

Secara garis besar, begitulah ide cerita monster. Namun, menariknya anime yang diangkat dari manga populer karangan Naoki Urusawa ini tidak bisa digambarkan dengan baik hanya dengan sinopsis yang saya tuliskan di atas. Monster mengeksplorasi manusia, membuat penonton/pembaca bertanya tanya apakah semua manusia diciptakan setara dan bagaimana cara manusia mendefinisikan hidup.

Monster menjadi anime paling berkesan dan paling tak terlupakan selama sejarah saya menonton anime. Temanya yang unik, penggalian aspek psikologis dari karakter karakternya-bahkan karakter minor sekalipun- yang begitu menarik dan tidak saya temukan di serial anime lain, ditambah latar sejarah jerman sebelum dan setelah runtuhnya tembok berlin dan realisme yang disajikan di sepanjang cerita, membuat anime ini menjadi salah satu thriller terbaik yang saya tonton.

2. Unforgotten

Unforgotten merupakan salah satu serial dari Inggris bertema kriminal yang berfokus pada kasus kasus yang terjadi di masa lalu (cold case). Hingga saat ini, serial unforgotten terdiri atas 3 season, dengan 6 episode untuk masing masing season. Setiap season menampilkan satu kasus. Season pertama diawali dengan temuan tulang manusia yang dikubur di lantai bekas apartemen, season kedua dengan penemuan koper berisi kerangka manusia, dan season ketiga dengan temuan kerangka lain di jalur pembuatan jalan tol. Sudah sedikit terbayang kan bagaimana ceritanya?

Menurut saya, meskipun alur cerita Unforgotten tipikal untuk drama bergenre sejenis tapi penyajiannya yang rapi menjadikan drama ini enak ditonton, dan juga, karakter karakter yang ditampilkan di setiap season tidak kalah menarik. Saya terutama sangat menyukai karakter DCI Cassie Stuart yang diperankan Nikola Walker.  Powerful, yet not intimidating. Just stunning. I wish I can be as clever and as compassionate as her when I got old. Sinematografinya, dengan latar wilayah Inggris, juga memanjakan mata.

3. Kotaki kyodai to shikuhaku

Kotaki kyodai merupakan serial drama jepang yang ditulis oleh Nogi Akiko. Sejauh ini, saya belum pernah dikecewakan oleh kualitas drama yang ditulis beliau. Setiap drama yang ditulis Nogi Akiko, yang saya tonton, selalu menarik, empatetik, dan punya alur cerita yang jelas dan fokus, termasuk kotaki kyodai.

Drama bergenre slice of life ini satu episodenya berdurasi kurang lebih 30 menit. Dua orang ojisan, kakak beradik dengan kepribadian bertolak belakang dan pengangguran, menjalani profesi menjadi rental oyaji. Kedua rental oyaji ini dihadapkan dengan berbagai tawaran aneh dari klien di tiap episode, mulai dari tawaran memalsukan tanda tangan klien korban kdrt hingga tawaran curhat. Biasanya transaksi dilakukan di Shabadaba, kafe yang dikunjungi regular oleh ojisan. Siapa yang menduga dengan 11 episode dan durasi kurang dari 30 menit, serial ini, dengan tone sinematografinya, nilai humanis yang dibawanya, dan kejutan tak terduga, menjadi drama yang sangat… wholesome. Salah satu drama jepang tentang hidup yang terbaik di tahun 2019. 

4. Unsung Cinderella

Unsung Cinderella merupakan drama musim semi yang masih tayang hingga saat ini. Drama yang sempat ditunda penayangannya akibat pandemi covid. Drama ini diangkat dari manga berjudul sama karya Arai Mamare, menceritakan tentang profesionalisme Aoi Midori (Satomi Ishihara), seorang farmasis rumah sakit. Aoi midori begitu berdedikasi dan cinta dengan pekerjaannya.

Sebagai lulusan farmasi, saya sangat mengapresiasi kerja keras tim produksi ‘unsung cinderella’. Drama ini menyemangati banyak apoteker rumah sakit dalam melakukan pekerjaan, menjadi pembelajaran yang baik untuk meluaskan perspektif mahasiswa farmasi yang masih belum lulus, serta memberikan gambaran pada masyarakat, penonton yang lebih luas tentang apoteker di rumah sakit. Pekerjaan dan beban kerja apoteker rumah sakit digambarkan dengan akurat di drama ini. Pun, kesulitan apoteker rumah sakit yang diceritakan dengan baik.

Tapi…

Sebagai penikmat dorama, saya tidak bisa bilang drama medis ini drama yang memikat saya. Kasus yang diangkat, walaupun akurat dan sentimental, tidak terasa unik ataupun empatetik untuk saya pribadi. Karakter Midori juga kurang menarik untuk saya. Midori ialah seorang farmasis ideal namun saya tidak bisa merasa terhubung dengan karakternya. Saya merasa Aoi Midori terlalu…idealis. Not that was a bad thing, but I just felt she become one dimensional character. I just didn’t-couldn’t-buy it. Sinematografinya  juga kurang menarik di mata saya. Unsung cinderella is not a bad dorama, but I don’t felt it…special as a medical series. For me, this drama feels typical and mediocre as a medical one.

Walaupun demikian, saya tetap akan merekomendasikan drama ini untuk ditonton setiap orang. Setidaknya drama ini dapat memberikan gambaran tentang fungsi farmasis rumah sakit ke kalangan sosial yang lebih luas.

5. Hospital Playlist

Drama korea tentang persahabatan dan percintaan lima dokter senior ini ialah salah satu drama korea yang berhasil saya tonton hingga episode terakhir. Mungkin karena drama ini dimulai dengan biasa biasa saja, di episode episode awal, dan karakter dari kelima dokter berikut alurnya tidak terasa terlalu dramatis. Drama slice of life dengan latar cerita medis yang cukup menghangatkan hati, walaupun untuk beberapa orang drama ini akan berpotensi membosankan. Untungnya jumlah episode di drama ini tidak sebanyak kdrama pada umumnya, tapi tetap saja ceritanya gantung. Hahaha. Sepertinya tim produksi menyadari potensi drama ini untuk makin mengikat penonton jika ditayangkan dalam season selanjutnya.

Arti Sebuah Konsistensi

Ada seorang penulis yang karya awalnya cukup booming dan sangat saya sukai. Sayangnya, beliau cuma mengeluarkan satu karya itu saja.

Seorang penulis lain dengan karya awal yang “nggak banget” menurut opini saya, bisa mengeluarkan karya karya lanjutan, yang pada karya akhir beliau jauh lebih saya sukai (with better rating too in review)

Ada seorang sahabat saya, yang dulu suka nge-blog. Namun, seiring arus dan tuntutan kehidupan :(), dia tidak pernah lagi menulis virtual dan blognya pun terabaikan. She is a good writer, and when we were apart, her stories through the blog make me feel closer to her. So, when she stopped altogether blogging, I felt a little bit sad.

Konsistensi/sustainability really shouldn’t be overlooked.

Drama Jepang Favorit Sepanjang 2019

Beda dengan tahun sebelumnya, tahun 2019 daftar tontonan drama jepang saya menurun drastis. Walaupun demikian, dari pilihan yang terbatas tersebut saya tetap bertekad untuk menulis judul yang paling menarik (tidak dalam orderan) versi saya tentunya.

1. Kore wa Keihi De Ochimasen

Drama ini terfokus pada seorang pegawai swasta bagian akunting bernama Moriwaka Sanako (Mikako Tabe). Moriwaka sangat teliti, disiplin, dan serius. Salah satu tugas Moriwaka ialah melakukan verifikasi pengeluaran karyawan yang berurusan dengan pekerjaan. Tidak ada konflik besar menghebohkan di drama ini. Rintangan yang ditemukan Moriwaka di setiap pekerjaan merupakan rintangan yang mungkin ditemui siapa saja dalam bekerja. Dilema pegawai kantoran yang sangat umum ditemukan menarik bagi saya pribadi karena sangat relatable. Sangat menarik juga melihat karakter Moriwaka yang tegas dan disiplin sehingga terkesan sebagai pribadi yang kaku dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan pekerjaannya di setiap episode. Drama ini ringan dan saya suka dengan pendekatan ceritanya, termasuk bagian mini romansanya yang manis, tidak memiliki porsi yang kelewat besar tapi tetap memberikan pesona sendiri untuk cerita. Drama yang memotivasi untuk tetap melakukan yang terbaik dalam apapun yang kita kerjakan walaupun pasti rintangan dan bahkan pertentangan dalam diri sendiri selalu ada.

2. Tokusatsu Gagaga

This one hit too close to home. Drama ini berfokus pada seorang karyawati wanita otaku bernama Nakamura Kano yang berusaha menyembunyikan kegemarannya akan hal hal yang berhubungan dengan tokusatsu agar orang orang di sekitarnya tidak tahu terutama ibunya sendiri. Padahal hobi tokutasatu tersebut juga berperan positif dalam banyak aspek kehidupan Nakamura.

Menurut saya setiap orang jadi menarik saat ia memiliki hobi, namun dalam kehidupan nyata, banyak yang harus menyembunyikan hobi, akibat takut dicap aneh. Drama ini mungkin bisa membuat banyak orang terhubung dengan Nakamura.

3. Ore no hanashi wa nagai

Drama yang menghangatkan hati. Menceritakan seorang pengangguran jago berargumen bernama Mitsuru umur 31 tahun yang tinggal berdua dengan ibunya. Tidurnya pagi dan bangun sore, suka ngakalin uang jajan, bertekad gak berhenti menganggur dan jago debat: adaa saja argumennya yang sulit dipatahkan orang lain. Suatu hari kakak perempuan dan keluarganya memutuskan tinggal sementara bersama Mitsuru. Si kakak membawa misi untuk membuat Mitsuru berhenti jadi pengangguran.Mitsuru ini orang yang sampis banget kalau di kehidupan nyata, menyebalkan dan kebantu ganteng doang. Tapi saya suka bagaimana drama ini tidak menghakimi Mitsuru. Drama keluarga yang menghangatkan hati (I already said that, didn’t I:)). Plot ceritanya nggak ada yang dramatis tapi sungguh menyenangkan melihat obrolan keluarga Mitsuru di drama ini.

Honourable mention: Zekkyou dan Saka no tochu no ie. Dua drama WOWOW ini dapet banget tema psikologisnya.

A meaningful job

Apakah bekerja perlu bermakna?

Pekerjaan walaupun tidak bisa mencerminkan seorang individu, namun tetap merupakan aspek penting yang besar dalam kehidupan. Walaupun benar manusia lebih dari sekedar pekerjaan, tapi waktu yang dihabiskan untuk bekerja dalam hidup tidaklah sedikit. Ada salah satu pertanyaan trivial yang cukup popular yang masih menggelitik saya. Apakah kita hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup?

Pengalaman pekerjaan tetap saya bermula dari karyawan pabrik. Divisinya: bagian pengendalian mutu bahan kemas produk farmasi. Saya bertugas memeriksa hasil perhitungan tinggi botol, box kemasan, kesesuaian warna kemasan dari produk yang dikeluarkan pabrik, terkadang membuat spesifikasi yang harus dipenuhi. Saya banyak berurusan dengan administrasi, penjadwalan, dan pelulusan produk. Saya tidak super cinta dengan pekerjaan saya, namun saya juga tidak membenci pekerjaan ini. Banyak hal yang saya pelajari selama bekerja. Saya menyukai lingkungan pekerjaan saya, walaupun tentu saja tidak ada yang lepas dari drama kantor. Pendapatan saya cukup solid untuk generasi seusia saya, dan lagi, saya masih bebas tanggungan. Namun setelah 5 tahun bekerja saya memutuskan untuk berhenti.

Saya bukanlah orang ambisius yang mementingkan karir dan mengejar materi. Saya juga bukan orang yang ingin bekerja sesuai passion. Buat saya passion adalah untuk bersenang senang dan akan membebebani saat dijadikan alasan untuk mencari uang.

Saya berhenti karena alasan yang cukup absurd dan karena saya punya privilise untuk memilih saat itu. Saya melakukan pekerjaan yang sama tapi seiring waktu berlalu saya merasa tidak pernah melakukan pekerjaan itu dengan baik. Saya merasa saya harus berusaha untuk lebih baik namun alih alih saya malah merasa tidak pernah menjadi lebih baik sedikitpun. Such a silly comparison right?Saya mulai kehilangan motivasi, tidak peduli berapa banyak dialog yang saya habiskan dengan diri sendiri ataupun kolega tentang situasi saya. I couldn’t stop myself to feel that I wasn’t good enough. I began to questioning myself as a worthy individual, I began to wonder was I that replaceable? Setiap hari yang saya habiskan untuk bekerja terasa menyiksa. Saya menandai kalender dengan tanda silang setiap hari tanpa tahu sebenarnya apa yang saya tunggu. Then, that same year a friend of mine passed away, I’ve got brokenhearted. Namun hal itu belum cukup untuk membuat saya berhenti bekerja. Saya hanya melewati hari tanpa arah. Still I felt badly miserable. Beruntungnya saat itu saya mulai menjadi pengajar les untuk anak anak di daerah dekat tempat saya tinggal. Satu hal yang saya dapatkan dari pekerjaan sampingan ini, ialah perasaan ‘ah, setidaknya saya bisa melakukan sesuatu yang berguna walaupun tidak sempurna’. I began to think that my life at least a precious thing to waste. Dan saya mulai berpikir ‘ah, saya mau melakukan pekerjaan yang membuat saya merasa seperti ini dan mungkin saya akan merasa hidup saya setidaknya berguna’. Beberapa saat kemudian, setelah berpikir (yang saya pikir cukup matang), saya mengajukan permohonan resign.

Saya pernah membaca tentang prinsip ikigai yang menyangkut 3 komponen: kemampuan untuk memenuhi aspek ekonomi, kepuasan pribadi, dan menjadi berguna untuk orang lain. I know people have their own definition of what kind of job they want to do and what was worth of it. I wish we all could found it, and have the fulfillment in it.