A thought about book: “The Poppy War”

Saya baru saja selesai membaca buku terjemahan berjudul ‘The Poppy War” atau perang opium. Sudah cukup lama saya  tidak membaca genre fantasi dan buku ini tidak mengecewakan.  Bagaimana narasi buku ini berkembang sangat menarik. Selain itu, tokoh utamanya, Rin, membuat saya merasakan simpati, kekaguman, dan kesedihan, bolak balik sampai saya tidak bisa mendeskripsikan saya ingin Rin ini menjadi tokoh seperti apa. This was quite a powerful storytelling.

I didn’t sure how should I felt about something during reading this book. This book started with ordinary opening for YA fantasy, but the more it progressed, it gave me this sorrowful…experience about how harrowing life could be and it reminded me how some human-no matter how understandable it was-just a sad living being. It did have its boring moment for me, but the fact that this book has some historical truth, psychological and privillege themed, and not to mention the way it told about pain management, made this book…sad and hard to read sometimes.

Kesedihan saya tidak berakhir dengan cepat setelah membaca buku ini. Satu hal yang membuat saya menjauhi buku buku fantasi ialah karena tipe buku ini biasanya tipe buku yang saya akan hebohkan tentangnya kepada teman teman saya. Like I did with Harry Potter, Divergen, Hunger Games, Lockwood. Selesai membaca buku ini, saya malah makin merasa kehampaan karena sekarang sepertinya saya tidak akan mendapatkan antusiasme itu lagi. I realized now, gushing around about book that hooked you with a friend whom also had similar interest and enthusiasm also a privilleged thing. Circumstances change and it could leave you just being a different person.

Good book gives impact to the reader, and The Poppy War is a powerful book that make me sad about life, about human, and also made me feel a little bit lonely.

Bad Genius the Series

Selasa kemaren saya selesai menonton serial tv asal thailand yang diangkat dari film berjudul sama: bad genius. Saya memang sudah terlebih dahulu menyaksikan film bad genius ini, sekitar 2 tahun lalu, saat langganan viu premium langsung aktif karena saya pengguna kartu perdana three (ini bukan promo yaa:)).

Bad genius merupakan salah satu film thailand yang meninggalkan kesan untuk saya. Dalam bad genius, eksekusi cerita tentang contek mencontek siswa SMA bisa menjadi menegangkan, menghibur, membawa kritik sosial, dan (mungkin) menjadi sarana refleksi diri. Saya juga kagum dengan akting dari pemeran pemerannya, terutama Aokbab yang memerankan Lynn. Sebagai tokoh utama, Lynn yang diperankan Aokbab seperti jadi ikon dari siswa ‘bad genius‘. Kharismatik, pemberani, percaya diri, dan sangat menyenangkan untuk disaksikan.

Bad Genius movie poster

Mulanya, saya tidak begitu tertarik untuk mengikuti serial bad genius ini tapi karena bisa ditonton gratis tanpa subscribe di wetv dan karena saya benar benar butuh pengalih perhatian, akhirnya saya mulai juga menonton serial ini. Bad genius the series ini tidak mengecewakan.

Bad Genius The Series poster

Serial yang diangkat dari film ataupun remake tidak mungkin tidak dibayang-bayangi oleh pendahulunya, apalagi jika pendahulunya baik dari segi cerita dan  akting sudah bagus dan nyaris sempurna. Beban yang berat untuk tim yang membuat ulang memang, apalagi jika mempertimbangkan penonton sebagai konsumen. Bagusnya, bad genius the series bisa keluar dari bayang bayang pendahulunya tanpa mengubah jalan cerita dan tema yang menggerakkan serial ini. Para pemain yang baru versi serial juga mampu bersinar dan memberi warna sendiri. Bagi saya, menonton bad genius versi serial sama menyenangkannya dengan menyaksikan versi filmnya dulu. Bahkan kalau boleh dibilang, menonton versi serialnya ini terasa lebih lengkap dibanding film yang cuma berdurasi selama lebih kurang dua jam. Versi serial terasa lebih emosional karena hubungan antar tokoh lebih tergali sehingga kepribadian masing-masing juga menjadi lebih kelihatan. Walaupun dari film menjadi serial 12 episode, cerita bad genius juga tidak terkesan terlalu dipanjang-panjangkan.

Hal yang cukup mengangetkan saya di serial ini ialah June sebagai Lynn. Lynn yang diperankan Aokbak di versi film sangat mengena di pikiran saya dan sebelumnya saya khawatir Lynn versi serial yang diperankan June tidak mampu menghadirkan penokohan dengan kekuatan serupa, apalagi tokoh sentralnya kan si Lynn ini. Untungnya, Lynn versi June tidak cuma menarik dilihat tapi juga aktingnya bagus. Lynn versi film tampil kharismatik dan dingin. Lynn versi serial berjiwa pemberontak dan sinis. Dua-duanya sama sama menarik dan sama sama bad genius.

Lynn versi Movie yang karismatik
Lynn versi Serial yang pemberontak

Ide cerita bad genius the series masih tentang Lynn seorang anak pintar yang awalnya memberi contekan karena kasihan hingga akhirnya menjadikan jasa pemberian contekan ini sebagai bisnis. Bisnis yang mulanya skala pertemanan akhirnya berkembang menjadi bisnis skala nasional. Dari yang semula untuk persahabatan menjadi demi keuntungan ratusan ribu baht. Yang awalnya terlihat demi kebutuhan seakan menjadi pemberontakan terhadap sistem dan ketidakadilan dalam kehidupan.

Bad genius the series juga masih berpusat pada empat karakter utama. Tiga tokoh selain Lynn ialah Grace sahabat pertama Lynn di sekolah-yang akhirnya menjadi sahabat dekat-yang bercita-cita menjadi pemain sandiwara; Pat, pacar Grace yang sudah kaya dari lahir dan hidup penuh kemewahan, dan; Bank, penerima beasiswa saingan Lynn dan hidup sulit bersama ibunya yang sakit-sakitan. Saya suka dengan eksplorasi hampir semua hubungan tokoh di sini, terutama hubungan Lynn dan Grace-yang dimulai dari kisah persahabatan sederhana hingga menjadi tidak begitu sederhana lagi-serta hubungan Lynn dan Bank. Lynn yang awalnya melihat Bank sebagai simbol moral dan Bank yang awalnya menganggap Lynn sebagai rival. Hubungan mereka berdua sebagai love interest agak kurang umum ditampilkan dalam kisah sma. Dalam romansa remaja, konflik keduanya bukanlah karena penghalang mainstream seperti orang ketiga ataupun orang tua atau status sosial, tapi moral compass masing-masing. Saya sempat simpati kepada Bank yang sangat sakit hati (dan mungkin patah hati) saat mengetahui Lynn ternyata memberikan contekan kepada siswa lain demi uang, dan kepada Lynn yang tidak percaya Bank yang jujur berbohong demi uang.

Tidak cuma dari pengembangan penokohan, alur cerita dan tensi dari tema yang menegangkan juga dikembangkan dengan baik di serialnya. Tidak semua rencana berjalan mulus dan sesuai harapan, tidak semua hal menghasilkan konsekuensi yang terlihat sepadan.

💇🏻‍♂️🙅🤦

Jika ada yang mesti saya kritisi dari serial ini ialah gaya rambutnya Jaonaay yang meranin Bank. Duh, ndak paham saya dengan selera remaja cowok bergaya rambut ala Bank ini. Mana mirip dengan si rambut jamur serial Liar Game. Walaupun dengan gaya rambut yang sungguh agak…hmmm…, tetap bad genius the series layak banget untuk ditonton.

Daftar Tontonan Saya Selama Masa Pandemi

Selama masa pandemi Covid 19, saya jadi punya banyak waktu untuk eksplorasi daftar tontonan. Selain sempat keranjingan menonton dokumenter dari DW, berikut beberapa serial tv yang menjadi daftar tontonan saya:

1. Monster

Dokter Tenma, dokter bedah muda dengan masa depan menjanjikan, membuat keputusan besar dengan menyelamatkan seorang pasien kedaruratan anak, alih alih menuruti perintah direktur rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa tokoh politik yang datang belakangan namun diprioritaskan penanganannya karena jabatan pentingnya kar. Keputusan ini membuat dokter Tenma dicampakkan tunangannya dan diturunkan posisinya di rumah sakit. Hal ini tidak berlangsung lama, beberapa saat kemudian tokoh-tokoh yang membuat Tenma kesulitan ditemukan meninggal dan kedudukan Tenma di rumah sakit menjadi lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi, beberapa tahun setelahnya, Tenma mengetahui bahwa si anak yang pernah diselamatkannya bertanggungjawab dalam peristiwa kematian orang orang disekitarnya. Tenma bertekad untuk mencari dan membunuh Johann, si anak yang pernah diselamatkannya tersebut.

Secara garis besar, begitulah ide cerita monster. Namun, menariknya anime yang diangkat dari manga populer karangan Naoki Urusawa ini tidak bisa digambarkan dengan baik hanya dengan sinopsis yang saya tuliskan di atas. Monster mengeksplorasi manusia, membuat penonton/pembaca bertanya tanya apakah semua manusia diciptakan setara dan bagaimana cara manusia mendefinisikan hidup.

Monster menjadi anime paling berkesan dan paling tak terlupakan selama sejarah saya menonton anime. Temanya yang unik, penggalian aspek psikologis dari karakter karakternya-bahkan karakter minor sekalipun- yang begitu menarik dan tidak saya temukan di serial anime lain, ditambah latar sejarah jerman sebelum dan setelah runtuhnya tembok berlin dan realisme yang disajikan di sepanjang cerita, membuat anime ini menjadi salah satu thriller terbaik yang saya tonton.

2. Unforgotten

Unforgotten merupakan salah satu serial dari Inggris bertema kriminal yang berfokus pada kasus kasus yang terjadi di masa lalu (cold case). Hingga saat ini, serial unforgotten terdiri atas 3 season, dengan 6 episode untuk masing masing season. Setiap season menampilkan satu kasus. Season pertama diawali dengan temuan tulang manusia yang dikubur di lantai bekas apartemen, season kedua dengan penemuan koper berisi kerangka manusia, dan season ketiga dengan temuan kerangka lain di jalur pembuatan jalan tol. Sudah sedikit terbayang kan bagaimana ceritanya?

Menurut saya, meskipun alur cerita Unforgotten tipikal untuk drama bergenre sejenis tapi penyajiannya yang rapi menjadikan drama ini enak ditonton, dan juga, karakter karakter yang ditampilkan di setiap season tidak kalah menarik. Saya terutama sangat menyukai karakter DCI Cassie Stuart yang diperankan Nikola Walker. Powerful, yet not intimidating. Just stunning. I wish I can be as clever and as compassionate as her when I got old. Sinematografinya, dengan latar wilayah Inggris, juga memanjakan mata.

3. Kotaki kyodai to shikuhaku

Kotaki kyodai merupakan serial drama jepang yang ditulis oleh Nogi Akiko. Sejauh ini, saya belum pernah dikecewakan oleh kualitas drama yang ditulis beliau. Setiap drama yang ditulis Nogi Akiko, yang saya tonton, selalu menarik, empatetik, dan punya alur cerita yang jelas dan fokus, termasuk kotaki kyodai.

Drama bergenre slice of life ini satu episodenya berdurasi kurang lebih 30 menit. Dua orang ojisan, kakak beradik dengan kepribadian bertolak belakang dan pengangguran, menjalani profesi menjadi rental oyaji. Kedua rental oyaji ini dihadapkan dengan berbagai tawaran aneh dari klien di tiap episode, mulai dari tawaran memalsukan tanda tangan klien korban kdrt hingga tawaran curhat. Biasanya transaksi dilakukan di Shabadaba, kafe yang dikunjungi regular oleh ojisan. Siapa yang menduga dengan 11 episode dan durasi kurang dari 30 menit, serial ini, dengan tone sinematografinya, nilai humanis yang dibawanya, dan kejutan tak terduga, menjadi drama yang sangat… wholesome. Salah satu drama jepang tentang hidup yang terbaik di tahun 2019.

4. Unsung Cinderella

Unsung Cinderella merupakan drama musim semi yang masih tayang hingga saat ini. Drama yang sempat ditunda penayangannya akibat pandemi covid. Drama ini diangkat dari manga berjudul sama karya Arai Mamare, menceritakan tentang profesionalisme Aoi Midori (Satomi Ishihara), seorang farmasis rumah sakit. Aoi midori begitu berdedikasi dan cinta dengan pekerjaannya.

Sebagai lulusan farmasi, saya sangat mengapresiasi kerja keras tim produksi ‘unsung cinderella’. Drama ini menyemangati banyak apoteker rumah sakit dalam melakukan pekerjaan, menjadi pembelajaran yang baik untuk meluaskan perspektif mahasiswa farmasi yang masih belum lulus, serta memberikan gambaran pada masyarakat, penonton yang lebih luas tentang apoteker di rumah sakit. Pekerjaan dan beban kerja apoteker rumah sakit digambarkan dengan akurat di drama ini. Pun, kesulitan apoteker rumah sakit yang diceritakan dengan baik.

Tapi…

Sebagai penikmat dorama, saya tidak bisa bilang drama medis ini drama yang memikat saya. Kasus yang diangkat, walaupun akurat dan sentimental, tidak terasa unik ataupun empatetik untuk saya pribadi. Karakter Midori juga kurang menarik untuk saya. Midori ialah seorang farmasis ideal namun saya tidak bisa merasa terhubung dengan karakternya. Saya merasa Aoi Midori terlalu…idealis. Not that was a bad thing, but I just felt she become one dimensional character. I just didn’t-couldn’t-buy it. Sinematografinya juga kurang menarik di mata saya. Unsung cinderella is not a bad dorama, but I don’t felt it…special as a medical series. For me, this drama feels typical and mediocre as a medical one.

Walaupun demikian, saya tetap akan merekomendasikan drama ini untuk ditonton setiap orang. Setidaknya drama ini dapat memberikan gambaran tentang fungsi farmasis rumah sakit ke kalangan sosial yang lebih luas.

5. Hospital Playlist

Drama korea tentang persahabatan dan percintaan lima dokter senior ini ialah salah satu drama korea yang berhasil saya tonton hingga episode terakhir. Mungkin karena drama ini dimulai dengan biasa biasa saja, di episode episode awal, dan karakter dari kelima dokter berikut alurnya tidak terasa terlalu dramatis. Drama slice of life dengan latar cerita medis yang cukup menghangatkan hati, walaupun untuk beberapa orang drama ini akan berpotensi membosankan. Untungnya jumlah episode di drama ini tidak sebanyak kdrama pada umumnya, tapi tetap saja ceritanya gantung. Hahaha. Sepertinya tim produksi menyadari potensi drama ini untuk makin mengikat penonton jika ditayangkan dalam season selanjutnya.

Arti Sebuah Konsistensi

Ada seorang penulis yang karya awalnya cukup booming dan sangat saya sukai. Sayangnya, beliau cuma mengeluarkan satu karya itu saja.

Seorang penulis lain dengan karya awal yang “nggak banget” menurut opini saya, bisa mengeluarkan karya karya lanjutan, yang pada karya akhir beliau jauh lebih saya sukai (with better rating too in review)

Ada seorang sahabat saya, yang dulu suka nge-blog. Namun, seiring arus dan tuntutan kehidupan :(), dia tidak pernah lagi menulis virtual dan blognya pun terabaikan. She is a good writer, and when we were apart, her stories through the blog make me feel closer to her. So, when she stopped altogether blogging, I felt a little bit sad.

Konsistensi/sustainability really shouldn’t be overlook.

Drama Jepang Favorit Sepanjang 2019

Beda dengan tahun sebelumnya, tahun 2019 daftar tontonan drama jepang saya menurun drastis. Walaupun demikian, dari pilihan yang terbatas tersebut saya tetap bertekad untuk menulis judul yang paling menarik (tidak dalam orderan) versi saya tentunya.

1. Kore wa Keihi De Ochimasen

Drama ini terfokus pada seorang pegawai swasta bagian akunting bernama Moriwaka Sanako (Mikako Tabe). Moriwaka sangat teliti, disiplin, dan serius. Salah satu tugas Moriwaka ialah melakukan verifikasi pengeluaran karyawan yang berurusan dengan pekerjaan. Tidak ada konflik besar menghebohkan di drama ini. Rintangan yang ditemukan Moriwaka di setiap pekerjaan merupakan rintangan yang mungkin ditemui siapa saja dalam bekerja. Dilema pegawai kantoran yang sangat umum ditemukan menarik bagi saya pribadi karena sangat relatable. Sangat menarik juga melihat karakter Moriwaka yang tegas dan disiplin sehingga terkesan sebagai pribadi yang kaku dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan pekerjaannya di setiap episode. Drama ini ringan dan saya suka dengan pendekatan ceritanya, termasuk bagian mini romansanya yang manis, tidak memiliki porsi yang kelewat besar tapi tetap memberikan pesona sendiri untuk cerita. Drama yang memotivasi untuk tetap melakukan yang terbaik dalam apapun yang kita kerjakan walaupun pasti rintangan dan bahkan pertentangan dalam diri sendiri selalu ada.

2. Tokusatsu Gagaga

This one hit too close to home. Drama ini berfokus pada seorang karyawati wanita otaku bernama Nakamura Kano yang berusaha menyembunyikan kegemarannya akan hal hal yang berhubungan dengan tokusatsu agar orang orang di sekitarnya tidak tahu terutama ibunya sendiri.

Menurut saya setiap orang jadi menarik saat ia memiliki hobi. Drama ini juga menggambarkan bagaimana hobi bisa membentuk kepribadian seseorang dan mungkin kebanyakan otaku akan mengalami bahkan merasakan hal yang sama dengan Nakamura Kano.

3. Ore no hanashi wa nagai

Drama ini menghangatkan hati. Menceritakan seorang pengangguran jago berargumen bernama Mitsuru umur 31 tahun yang tinggal berdua dengan ibunya. Tidurnya pagi dan bangun sore, suka ngakalin uang jajan, bertekad gak berhenti menganggur dan jago debat: adaa saja argumennya yang sulit dipatahkan orang lain. Suatu hari kakak perempuan dan keluarganya memutuskan tinggal sementara bersama Mitsuru. Si kakak membawa misi untuk membuat Mitsuru berhenti jadi pengangguran.Mitsuru ini orang yang sampis banget kalau di kehidupan nyata, menyebalkan dan kebantu ganteng doang. Tapi saya suka bagaimana drama ini tidak menghakimi Mitsuru. Drama keluarga yang menghangatkan hati (I already said that, didn’t I:)). Plot ceritanya nggak ada yang dramatis tapi sungguh menyenangkan melihat obrolan keluarga Mitsuru di drama ini.

Honourable mention: Zekkyou dan Saka no tochu no ie.

A brief note about pursuing a degree..

Some people ask me, how it feel to back to school again in your late 20/early 30.

I, firstly, often said it was difficult, but (I would then said) nothing good come easy.

I thought, at certain age, specially after the first degree, we become rather confuse about life. About what do we want. Why life become a routine for us. What purpose of our life.I had a hard time maintaining enthusiasm to study in graduate degree too sometimes. In the beginning of the second semester, two colleagues of mine already dropped out, maybe just because sort of out of motivation.

Another worries comes from financial point and career wise. Graduate degree took more money and time. There wasn’t a guarantee that your career or income could improve by doing graduate degree. Some people could maintain their income and could boost their career through advanced degree. But some not. Some people did graduate degree and no improvement whether in their attitude nor their point of view either.

At the end I would said still it was never easy.

But is it worth all those?

I could not give a point black and white answer. Because it would took another question to be answered. What you consider to be worth to pursue in life? What kind of sacrifice you willing to make? Was graduate degree resonance with it?

A meaningful job

Apakah bekerja perlu bermakna?

Pekerjaan walaupun tidak bisa mencerminkan seorang individu, namun tetap merupakan aspek penting yang besar dalam kehidupan. Walaupun benar manusia lebih dari sekedar pekerjaan, tapi waktu yang dihabiskan untuk bekerja dalam hidup tidaklah sedikit. Ada salah satu pertanyaan trivial yang cukup popular yang masih menggelitik saya. Apakah kita hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup?

Pengalaman pekerjaan tetap saya bermula dari karyawan pabrik. Divisinya: bagian pengendalian mutu bahan kemas produk farmasi. Saya bertugas memeriksa hasil perhitungan tinggi botol, box kemasan, kesesuaian warna kemasan dari produk yang dikeluarkan pabrik, terkadang membuat spesifikasi yang harus dipenuhi. Saya banyak berurusan dengan administrasi, penjadwalan, dan pelulusan produk. Saya tidak super cinta dengan pekerjaan saya, namun saya juga tidak membenci pekerjaan ini. Banyak hal yang saya pelajari selama bekerja. Saya menyukai lingkungan pekerjaan saya, walaupun tentu saja tidak ada yang lepas dari drama kantor. Pendapatan saya cukup solid untuk generasi seusia saya, dan lagi, saya masih bebas tanggungan. Namun setelah 5 tahun bekerja saya memutuskan untuk berhenti.

Saya bukanlah orang ambisius yang mementingkan karir dan mengejar materi. Saya juga bukan orang yang ingin bekerja sesuai passion. Buat saya passion adalah untuk bersenang senang dan akan membebebani saat dijadikan alasan untuk mencari uang.

Saya berhenti karena alasan yang cukup absurd dan karena saya punya privilise untuk memilih saat itu. Saya melakukan pekerjaan yang sama tapi seiring waktu berlalu saya merasa tidak pernah melakukan pekerjaan itu dengan baik. Saya merasa saya harus berusaha untuk lebih baik namun alih alih saya malah merasa tidak pernah menjadi lebih baik sedikitpun. Such a silly comparison right?Saya mulai kehilangan motivasi, tidak peduli berapa banyak dialog yang saya habiskan dengan diri sendiri ataupun kolega tentang situasi saya. I couldn’t stop myself to feel that I wasn’t good enough. I began to questioning myself as a worthy individual, I began to wonder was I that replaceable? Setiap hari yang saya habiskan untuk bekerja terasa menyiksa. Saya menandai kalender dengan tanda silang setiap hari tanpa tahu sebenarnya apa yang saya tunggu. Then, that same year a friend of mine passed away, I’ve got brokenhearted. Namun hal itu belum cukup untuk membuat saya berhenti bekerja. Saya hanya melewati hari tanpa arah. Still I felt badly miserable. Beruntungnya saat itu saya mulai menjadi pengajar les untuk anak anak di daerah dekat tempat saya tinggal. Satu hal yang saya dapatkan dari pekerjaan sampingan ini, ialah perasaan ‘ah, setidaknya saya bisa melakukan sesuatu yang berguna walaupun tidak sempurna’. I began to think that my life at least a precious thing to waste. Dan saya mulai berpikir ‘ah, saya mau melakukan pekerjaan yang membuat saya merasa seperti ini dan mungkin saya akan merasa hidup saya setidaknya berguna’. Beberapa saat kemudian, setelah berpikir (yang saya pikir cukup matang), saya mengajukan permohonan resign.

Saya pernah membaca tentang prinsip ikigai yang menyangkut 3 komponen: kemampuan untuk memenuhi aspek ekonomi, kepuasan pribadi, dan menjadi berguna untuk orang lain. I know people have their own definition of what kind of job they want to do and what was worth of it. I wish we all could found it, and have the fulfillment in it.

Satu dekade

Sepuluh tahun ini apakah saya menjadi individu yang cukup berharga?

Tahun 2019 hampir berakhir. Tulisan di dunia maya, baik di blog maupun social media banyak membahas tentang perjalanan hidup sedekade. Ada orang yang menerbitkan buku, ada yang lulus kuliah dan memperoleh pekerjaan pertama, ada yang menikah, ada yang pindah domisili, ada yang buka usaha, ada yang jalan jalan dengan keluarganya. People making change, going milestone, while I stay the same. Made me questioning did I live a worthless life? Am I, being me, living or not would not made any difference?

Pikiran yang sungguh tidak menyenangkan.

But when I decided to stop thinking about achievement or rank and began to focus in the process of living itself, I felt more contend. I told myself that I already came long way. I felt that I like being the person I am now. It was okay as long as I could try to be better person, to stay still true to myself, be a person that respected another living being and proud of the way I living my life. I did not have the obligation that I should to achieve anything in this life. I do not need to define myself to other people just to become a decent person. I was still living. I could try to whatever tomorrow would take. I would be kinder. And realising it, enduring life for a day, a year, or a decade didn’t seem so bad.

You Deserve to.. Just Feel….

Dalam hari yang paling buruk,

Ada yang tak bisa berhenti berpikir:

Kenapa merasa segini menderita, saat tidak melakukan kesalahan apa-apa?

Kenapa rasanya sangat sakit, jika hal hal tentang perasaan tidaklah sepenting itu?

Kenapa harus bernapas setiap hari, jika kita bukan pribadi yang cukup layak untuk dihargai sebagai manusia?

Orang yang lain bilang

‘Tuhan itu adil’,

Ah, kenapa ucapan itu terdengar sama tidak nyatanya dengan ketulusan pengejaannya?

Sesungguhnya,

Bukannya menolak Tuhan ataupun melupakan neraka,

Hanya salahkan jika tak bisa menemukan arti surga?

Bukannya ketakutan akan hari esok,

Tapi ada suara di kepala yang tak berhenti berkata :”tak akan ada yang berubah, sekeras apapun kamu mencoba”

Jika merasa sakit tidak layak sebagai manusia,

Jika melenyapkannya pun tak bisa semudah ‘seharusnya’

Jika tidak boleh untuk ‘tidak menerima’,

Lantas untuk apa kita ‘ada’?

NB: Heard another suicide news again today, and I remember that I ever wrote this one ages ago. This was my reminder for telling myself that every human deserve to feel about the way he/she feel about something. That I did not have to judge another person based on his/her feeling, choice, and faith.

Poverty, Children, and The Wonder of Living Paradox

Saya menemukan grafik ini beberapa minggu yang lalu.

(sumber: twitter @pradiphtatia)

Usually, I would not going to diving deep to such a topic with varied interpretation that wasn’t involving my life directly, like this one. But, the timing when I encounter this particular picture, made the message delivered seemclearer and louder than usual.

1

Beberapa minggu sebelumnya, saya kehilangan dompet. Disamping uang tunai, yang mungkin nilainya buat sebagian orang tidak seberapa, saya juga kehilangan dokumen berharga (identitas pribadi, kartu perbankan) yang disimpan di dompet yang sama. Dengan uang di kantong saya tinggal 20,000, domisili KTP luar jawa dan tinggal sendirian di kosan, saya panik dan ketakutan.

Long story short: those documents miraculously returned to me that same day, but I was left with more emotional turmoil.

2.

Dompet saya diserahkan kembali oleh ibu dari anak kecil yang jualan tissu di kantin. Entah berapa kali saya melihat anak tersebut, namun kenyataan bahwa saya datang ke rumah mereka bahkan bertemu orang tua mereka tidak pernah saya pikirkan senyata ini, dengan cara seperti ini. Ayah si anak cerita: ia berasal dari daerah yang sama dengan saya. Satu provinsi. Satu kabupaten. Terima kasih untuk alamat di KTP. Terima kasih juga untuk bahasa daerah, sehingga saya ngobrol banyak hal dengan bapak dan ibu yang membantu saya ini.

Si ibu sedang hamil besar. Saya bertanya, berapa bulan dan kapan lahiran. Si Ibu menjawab dia nggak pernah periksa, nggak tau. Seperti itu dari kehamilan pertama. Kontrakan yang ditempati tujuh orang dengan lima anak dengan satu wanita hamil ini, layaknya kontrakan kecil yang saya temui di belakang pabrik saya bekerja dulu, mungkin cuma 3 x 7 m dengan tempat tidur kecil satu satunya ornamen di rumah itu yang tertangkap mata saya dari teras.

Si ibu kemudian bercerita tentang anak tertua, anak perempuan kelas empat SD dan anak yang nomor dua berjualan tissu setiap hari di kantin. Anak kedua yang menemukan dompet saya. Saya tidak tahu kenapa saya bertanya tentang berapa lama mereka tinggal di sini, apa si ayah sering pulang kampung. Mungkin, saya merasa harus menunjukkan rasa terima kasih saya, namun saya tidak tahu caranya. Saya berbasa basi tapi saya tak ingin menghakimi. Saya tak bisa menghentikan spekulasi dan pertanyaan yang muncul di kepala saya dengan melihat kedua orang tua yang mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan saya, melihat anak paling kecil bersinglet yang bermain di teras, melihat kotak dagangan somai di samping motor bebek, melihat anak sulung perempuan yang menatap dari rumah ke luar jendela.

3.

Saya ingat sang anak, saat saya panik memikirkan bagaimana saya bisa kehilangan dompet dari ransel. Sejujurnya saya mencurigai si anak sebelum saya dihubungi oleh sang ibu. Kecurigaan saya tidak berkurang walaupun dompet saya kembali. Uangnya tidak kembali. Namun tetap saja, dokumen yang hilanglah yang lebih penting nilainya buat saya. I was glad and grateful, but I can’t get rid of my suspicion. And I shaming myself for staining one good deed with one suspicious thinking.

I was trying to convincing myself, being a poor person didn’t mean you would do bad thing. How could my feeling dominated more by suspicion and pity rather than empathy. What kind of human I become?

4.

KTP si ibu ketinggalan di dompet saya. Kami berjanji bertemu dan saya menyadari satu hal saat melihat KTP si ibu: bulan dan tahun lahirnya sama dengan saya. The fact that made me wonder more about my life and her. About the choice that I already made, about the value that I always hold all along.

I remind myself that I and her were a different person. But I couldn’t help myself for thinking:

Is she merely a brave person, a careless one, or maybe both? And if so, what I become then? Am I only being a coward behind this sensibility persona or is sensibility just something that should to put in front of mind every time I made a decision? How about the children? How about a children future? How much social system influences poverty and vice versa? How should we put the limit of individual matter and population matter? Are God being so divine that we should not interfere about its creation?

Ahh, What kind of paradox of life we should face everyday, I wonder.

5.

Sebelumnya, saya merasa saya ialah orang yang berpikiran cukup terbuka. Saya punya prinsip dan nilai yang saya pegang sendiri, manusia yang lain juga demikian dan saya tidak perlu ikut campur di dalamnya. Namun saat kejadian itu saya menyadari, konsekuensi sosial ialah hal yang tidak mungkin dihindari sebagai manusia. Individu-individu lah yang membentuk populasi dan tatanan sosial. Tatanan/kewajiban yang mempengaruhi individu. Mengekang terkadang, tetapi kita tidak bisa-tidak mungkin- meloloskan diri.