Tag Archives: Siem Reap

Why Visit Siem Reap?

Siem Reap – atau Kamboja umumnya – memang tidak menawarkan keindahan alam luar biasa yang membuat terkesima hingga terlupa untuk bernafas. Angkor, mungkin hanya satu satunya kekhasan scenery yang ditawarkan oleh negeri yang masih berjuang untuk bangkit dari konflik berkepanjangan dan sejarah kejam politik negeri ini. Namun ada bagian dari Siem Reap membuat saya terkesan, tersentuh, takjub, nyaman karena kesederhanaannya, dan mampu membuat saya mensyukuri setiap napas yang saya hirup. Anyway, berikut bagian dari Siem Reap yang menurut saya, membuat kota ini harus dikunjungi.

  1. Angkor
blog3
Angkor Wat, salah satu kuil di situs budaya Angkor

Siem Reap ialah kota dimana salah satu situs sejarah penting dunia, Angkor, kota kuno di abad 9-15 berada. Dengan luas hampir 400 km2, dan puluhan kuil yang tersebar di kawasan ini, kedekatannya dengan sejarah sangat memesona. Situs ini bisa membuat kamu terkagum kagum karena ukuran geografisnya, arsitekturnya, serta riwayat dan sensasi kuno yang melekat dengan fisik bangunan ini. 

Kendati demikian, dengan udara panas, luas wilayah yang besar dan banyaknya massa yang mengunjungi situs ini, mungkin tidak semua orang menggangap tempat ini appealing. Tempat ini juga bukanlah tempat yang saya sarankan untuk dikunjungi jika tujuan liburan kamu untuk berbulan madu. 

Untuk mengunjungi situs ini, wisatawan butuh Angkor pass. Biaya Angkor pass kunjungan satu hari 20 §. Mereka yang tertarik untuk menjelajahi ataupun mempelajari seluruh wilayah Angkor secara mendetail-yang tidak memungkinkan untuk dikunjungi satu hari saja- disediakan Angkor pass untuk 3 hari dan seminggu. 

Berkunjung ke Angkor, juga harus memperhatika  aturan tertentu, mengingat tempat ini bukan cuma tempat sejarah tapi juga tempat keagamaan. Make sure we follow the rule, and appreciate the people and history.

blog4
Aturan berkunjung di Angkor

2. Transportasi

Memudahkan Siem Reap  dijangkau lewat jalur udara ataupun jalur darat mungkin sudah salah satu tujuan pembangunan di Kamboja. Bandara  Siem Reap berstatus sebagai bandara internasional, walaupun tetap saja belum ada penerbangan langsung dari Indonesia ke Siem Reap. Untuk mencapai Siem Reap lewat udara, harus transit menggunakan maskapai negara tetangga : Thailand, Malaysia, atau Singapura, dengan harga paling murah sekitar 2.500.000 IDR sekali jalan. Berpergian lewat udara ialah cara cepat yang jauh menghemat waktu dibanding dengan menggunakan jalur darat (ya iyalah :)), tapi jalur darat masih memungkinkan jika kamu memiliki jiwa petualang, waktu yang cukup, atau kemampuan finansial minimalis.

Jika memilih jalur darat, kota ini dicapai dengan melewati perbatasan  Thailand, Vietnam, atau Laos.

Kasus mainstream, seperti saya, memilih melewati perbatasan Thailand- Cambodia di Poipet. Perjalanan ini, saya mulai dari menaiki bus jurusan Pattaya-Aranyaprathet dengan ongkos 270 baht dari terminal bus Pattaya (bus yang menuju border juga bisa didapat di terminal di kota lain seperti Bangkok). Durasi perjalanan dari Pattaya kurang lebih 5-6 jam, namun tak ada patokan tempat berhenti yang pasti. Jadilah dimana  harus berhenti dari bus ini pada perjalanan saya dipercayakan melalui komunikasi tersendat dengan  kondektur dan sopir. Dengan sistem perterminalan dan perbusan di Thailand yang lebih baik dari sistem transportasi Jakarta, (dan dibantu dengan akses internet yang sangat memadai) akses ke Kamboja dari Thailand tergolong lebih mudah dibanding ke beberapa tempat di Indonesia :). Loket dengan tujuan yang lebih jelas, keberangkatan bus yang tidak ngaret, tempat tunggu yang lebih nyaman, jadi nilai lebih untuk Thailand dibanding Indonesia.

Selepas diturunkan dari bus yang menurut asumsi saya di Poipet dan menuju ke kantor imigrasi, saya menggunakan tuktuk dengan ongkos 50 baht per orang.  Di imigrasi jangan shock jika tampilan daerah imigrasi mirip kawasan pasar. Sebagai pemegang paspor Indonesia, dengan bebas visa untuk 30 hari kunjungan ke Kamboja, kita bisa memasuki negara ini secara resmi tanpa visa. Dari sini, saya menggunakan bus yang disediakan oleh pihak imigrasi untuk di drop ke terminal Poipet. Bus ini gratis, tetapi karena sepanjang perjalanan saya ditemani guide dadakan tidak resmi berbahasa Inggris yang berbaju rapi dan ramah namun lusuh, biaya perjalanan saya menjadi bertambah. But, I guess he deserve the tip. Moreover, the fact that it kind of hard to got a job in Cambodia, make me feel glad that I spend the money for that one. Asal jangan keseringan aja ya.

blog2
Terminal internasional di Poipet

Berkebalikan dengan kawasan imigrasi awal yang penuh orang, terminal turis di Poipet dan daerah sekitarnya sangat sepi. Tidak banyak pilihan kendaraan di terminal tersebut sesampainya saya disana, padahal baru pukul 15.30 waktu setempat dan matahari yang bersinar masih cukup cerah .

Dari terminal turis ini ke Siem Reap bisa menggunakan taksi, bus, atau minivan. Bus hanya tersedia pada jam jam tertentu, sedangkan minivan tersedia jika kuota penumpang mencukupi, karena pilihan yang tersedia untuk  saya dan teman teman tinggal taksi, maka kamipun memilih taksi. Biaya untuk taksi ialah  12 § per orang.

blog1
Pilihan transportasi dan waktu keberangkatan dari teminal di Poipet

Total kurang lebih 9 jam durasi perjalanan jika dihitung dari keberangkatan bus di Pattaya pada pukul 09.15 hingga “mendarat”di Siem Reap pada pukul 18.10.

Untuk pilihan transportasi dalam kota sendiri, pilihan umum yang ada ialah sewa sepeda, sewa motor, atau naik tuktuk. Opsi tersebut biasanya disediakan oleh penginapan atau agen tur di Siem Reap. Dengan biaya naik tuk tuk di Siem Reap sekitar 20 USD per hari sudah dapat diantar ke seluruh tempat di Siem Reap.

3. Mata uang dan ATM

Kamboja menggunakan 2 jenis mata uang: dollar dan riel.Kenyataan ini agak agak ironis. Saya sedih dengan implikasi keberadaan mata uang nasional tidak menjadi “tuan” di negerinya sendiri. Dan begitulah nasib riel.

ATM di sini menguangkan dua jenis mata uang tersebut. Untuk pengguna kartu ATM (debit) bank nasional, yang telah saya uji BCA, ATM disini mampu kok untuk menguangkan tabungan dengan konversi kedua mata uang tadi. Fakta ini saya peroleh setelah trial menggunakan 4 jenis mesin ATM dan suskes di percobaan ke 4. Biaya cas untuk ambil di atm ini sekitar 75,000 rupiah. Jadi kartu ATM atau debit dapat digunakan untuk jaga jaga jika kehabisan dana atau bujet dalam  perjalanan 🙂

blog5
ATM yang bisa menguangkan si kartu debit BCA

4. Harga

Untuk makan dan tempat tinggal, di Siem Reap, rata-rata mirip dengan di Indonesia, bahkan cenderung lebih murah jika digunakan riel sebagai alat bayarnya.

5. Makanan

Dari pengalaman saya pribadi, mencari makanan halal di Siem Reap, tidak sulit. Hal ini erat hubungannya karena bapak tuktuk yang saya sewa seorang muslim yang memang terbiasa dengan pelancong muslim juga. Dari segi rasa, saya suka dengan makanan ini, karena untuk lidah saya pas, tidak terlalu berbumbu namun juga tidak hambar. Saya juga suka dengan asinan sebagai makanan sampingan di sini, baik asinan resto maupun asinan jalanan. Harga makanan di sini juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia, tergantung kamu bel makanannya dimana. Hukum dimana harga street food tentu jauh lebih murah dibanding restoran tentu juga berlaku disini. 

blog6
Menu sarapan pagi saya, nasi ayam. Murah tapi sedap banget.

Di sini juga pertama kali saya belajar makan biji teratai (lotus).

Yup, teratai yang biasa ditemui di kebun raya bogor itu.

Dan rasanya…hambar..

6. Bahasa

Kebanyakan warga Siem Reap yang saya temui bisa berbahasa inggris disamping berbahasa Khmer sebagai bahasa ibu. Beberapa bahkan bisa bahasa melayu, mandarin, ataupun prancis. Mengingat sumber utama penghasilan warga sini ialah tourism hal ini tidaklah aneh. Tetapi tetap saja membuat saya kagum.

7. Cuaca

Dengan cuaca yang mirip dengan cuaca Indonesia, tidak perlu persiapan khusus untuk mengunjungi Siem Reap. Biaya untuk persiapan melancong terkait cuaca juga bisa diminimalisir.

8. Masyarakat dan Budaya Kamboja

Berkunjung ke suatu tempat tanpa mengenal masyarakat dan tatanan sosialnya, menurut saya pribadi,  akan terasa seperti menatap manekin. Ruh-nya kurang.  Nah, di Siem Reap, berinteraksi dengan masyarakat lokal ialah hal yang harus dilakukan para pelancong, karena masyarakat di sini…. hangat dan kehangatan itu mampu meyentuh hati. Tidak terasa seperti jenis sikap yang diberikan semata karena  ekonomi mereka bergantung dari pariwisata. Lebih karena sikap orang yang jatuh tapi memutuskan untuk bangkit dan memaafkan masa lalu. Dan ketidakmudahan itu terkadang menyentil dengan tidak sengaja.

Jadi adakah yang tertarik bekunjung ke Siem Reap?