Tag Archives: novel

Romance Book with Arranged Marriage Theme

Dalam kehidupan nyata, Arranged Marriage yang pernah saya tahu tidak ada yang berakhir bahagia. Walaupun saya rasa beberapa Arranged Marriage di luar sana benar benar berakhir bahagia, namun, tetap saja, memutuskan untuk menikah dan menghabiskan sisa hidup dengan seseorang yang tidak dikenal sama sekali atau dengan seseorang yang pikiran maupun tindakannya tidak dihargai oleh salah satu pihak, seberapapun terpaksanya seperti gambling dengan niat yang tidak tuntas. Bertarung tanpa keyakinan akan menang. 

Sehingga walaupun dalam dunia fiksi tema ini populer, saya seharusnya tidak punya dorongan yang kuat untuk membacanya. Terlalu fantastis. 
 Tapi rasa penasaran mendorong saya untuk tidak mengabaikan tema ini sepenuhnya dalam bacaan saya. Saya ingin tahu bagaimana penulis menggambarkan sistem ini berjalan.

Dari blogwalking ke beberapa blog dan juga dari jam jam yang dihabiskan untuk membaca sinopsis di toko buku, saya memperoleh referensi novel lokal bertema serupa dengan review oke dan penggemar yang cukup banyak. Novel tersebut antara lain: 

  1. Mahogany Hills 
  2. Marry Now Sorry Later
  3. Jodoh untuk Naina
  4. Dimi is Married
  5. Marriagable
  6. Orange

Saya baru membaca 3 novel terakhir, namun tidak diduga 2 novel terakhir membuat saya jatuh cinta dengan karya karya penulisnya 😄.  

Marriagable dengan dialognya yang kocak berhasil membuat saya mengabaikan unsur kebetulannya yang banyak, narasinya yang sedikit, dan tema klise AM yang terpaksa usia ini. Di novel Marriagable mereka berdua menghabiskan waktu setahun untuk mengenal satu sama lain dan kesannya jauh dari gambling.  

Orange membuat saya jatuh cinta karena penekanan sang heroine bahwa dia akan bersungguh sungguh dalam pernikahan mereka dan ujungnya pernikahan tersebut dibatalkan karena tokoh hero sadar ialah tindakan yang egois membuat seseorang berada dalam pernikahan tanpa benar benar tahu apa yang sebenarnya diharapkan oleh masing masing pihak dalam perjanjian itu. 

Arranged marriage tanpa peduli nilai dan keseharian pihak yang lain seperti judi. Bukan berarti saya setuju dengan pacaran yang belasan tahun. Mengenal value seseorang tidak hanya lewat pacaran. Bisa jadi dan sangat mungkin value ini tertutup karena pacaran sifatnya dua arah dan ada unsur harus menyenangkan pasangan di dalam. Di logika saya walaupun cinta tak wajib ada sebelum menikah namun kedua belah pihak harus berkomitmen menghargai satu sama lain dulu untuk membangun rumah tangga. Bagaimana bisa berkomitmen untuk menghargai jika sebelumnya mereka tidak kenal pribadi calonnya. Hal ini membuat saya menyadarkan Arranged Marriage juga layak mendapatkan happy ending-nya sendiri. 

Tenggelamnya Kapal van Der Wijk : Between the Novel and The Film

I still remember how I was sobbing when I read the book for the first time.. (I am not proud of that, though. I was a high school student anyway, and I hadn’t familiar with tragic love story that day. Okay, I become defensive here). I still remember how I felt hatred for Hayati (the female leading role) when I read her last letter to Zainuddin (the male leading role)»”how could she become not loyal to him? How could she be blinded?”. I still remember how I felt connected with the story because of the main issue where the story begin. The culture of Minangkabau, the background, the culture that I adopted, the society I have been raised within, one of the reason why our character couldn’t be together. I still remember the unattractive blue cover from the book which were published by Balai Pustaka. I still remember how I worshiped the story against its plagiarism issue.

So when the movie launched, watching the tragic story of the two lover is a must in my agenda. Otherwise, I read much positive review about this film..

After I watched the movie, I should say, those good review told the truth. Good. I wasn’t feel bored when I was spending almost half and two hour look at the screen. The movie was even able to change my bad judgment about Hayati!! The movie could showed me the original story in book without losing its message.

But nothing is perfect, and adopted a book to movie has its own challenge.. I began with what I found surprising in good way about the movie:
1. The Minangkabau accent (especially Hayati’s uncle/Mamak) and all of the way its used were almost authentic and consistent 🙂 .
2. The 90’s background of Indonesia also felt real.
3. The poetic and hyperbole conversation they used in letter as how the story been told. Similar.

And here some of flaws I felt when watch the movie:
1. Batipuh written in the movie settled in Padang. Hmmm, as I know Batipuh is a small area near Padang Panjang, Tanah Datar, I supposed.
2. The special effect when Hayati arrived at Harbor near Kapal van Der Wijk is hmmmm…just Rough…
3. Maybe this just for me, but why when heart broken scene felt “too much” for me and rather than touchy I found it somehow funny (my bad sense of humor, maybe)

Beside all of those flaw, this movie succeed to remind me those piece heartbroken story mingled with revenge, culture border, and hope…