Chance of Life

Kanker memang bukan tema asing dewasa ini. Salah satu penulis novel genre kesukaan saya menghasilkan belasan postingan menyentuh tentang pengalaman beliau sebagai survivor kanker payudara. Postingan yang sama simpatiknya, dipulikasikan di mana mana oleh beberapa blogger dalam tahun terakhir. Topik tentang penyakit yang satu ini segenerik penyakit kardiovaskular atau penyakit infeksi. Namun, saat tante saya-adik ayah saya yang paling muda- didiagnosa kanker payudara,istilah kanker ini buat saya menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih personal, lebih nyata, lebih dekat.

Kemudian ketika berita meninggalnya beliau saya terima beberapa minggu yang lalu, saya berusaha mengatasi perasaan bingung, sedih, dan kaget.

Faktor resiko beliau kalau tidak bisa dibilang tidak ada, sangatlah minim -setahu saya. Tak ada riwayat genetik kanker dari satupun anggota keluarga, lingkungan yang tidak mendukung gaya hidup modern penuh junk food, profesi yang jauh dari kimia atau radiasi. Fakta bahwa penyakit yang satu ini menjadi masif karena tetap terdapat kemungkinan 1 dari 8 perempuan beresiko memperoleh kanker payudara tanpa peduli riwayat genetik, riwayat perkawinan, atau gaya hidup (walaupun data ini representatif dari populasi wanita di US) bukanlah fakta yang menimbulkan semangat.

Kanker- ketiadaksanggupan melogikakan penyebabnya, proses tanpa kepastian memperpanjang waktu kita yang fana- membuat saya juga merasa takut. I wonder how to lose some control that I believe I hold about my own body and life (although those both not really “mine” to savor). Being powerless in all form just suck. But, I do realize fear itself and not count the worth of time we spent, top all the feeling that categorized as “suck”.

Ah… saya harus banyak banyak bersyukur atas kesempatan yang diberikanNya. I often resent about my life. I got my dream doomed, I got depressed because of the inadequate feeling about who I am, I got bored without ability to figured out what to do next (aka galau menurut bahasa remaja sekarang :)). I forget sometimes, at least I have a chance, a time to fall in love again, to offer warm embrace, to make someone smile, to found another dream, to discover small happiness from read a book, to make a try, and to live (although it was never easy)…

Tante, semoga khusnul khotimah…

Advertisements

2 thoughts on “Chance of Life”

  1. Turut berduka cita untuk almarhumah 😦 Aku juga paling takut sama kanker sih…kayak salah satu penyakit yang bener-bener bisa mengubah hidup seseorang selamanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s