Pindah

Akhirnya saya pindah (lagi).

Kepindahan kali ini tidak seekstrim kepindahan saya yang sebelumnya, saat saya pertama kali meninggalkan rumah dan kampung halaman untuk kuliah, ataupun saat saya menyeberang ke pulau tetangga demi aktualisasi diri (alasan sebenarnya ialah demi mencari segenggam berlian T_T). Tetap saja.

Pindah memberi perspektif baru dalam dimensi. Perpindahan memberi kesan pergerakan serta perubahan, walaupun semu. Pindah memberi perasaan bahwa kita cukup berani untuk meninggalkan kenyamanan.
Pindah menimbulkan perasaan merindu. Merindukan kepulangan. Merindukan rumah. Merindukan makna.

Pindah menambah nilai sesuatu yang memberi saya makna saat proksimitasnya tidak lagi sedekat biasanya.

Dulu saat saya pindah kuliah saya jadi menyadari betapa beratnya pekerjaan ibu saya yang tidak hanya berkarir namun juga masih melakukan pekerjaan rumah tangga, mencuci dan menyetrika baju saya sampai saya tamat sekolah. Betapa mulianya beliau dan ayah saya yang menghargai mimpi saya. Saat pindah selepas menamatkan perguruan tinggi, saya menyadari betapa berharganya sahabat dan saudara saat dukungan mereka tidak bisa lagi seintens biasanya, yang dulu bisa menyemangati saya hanya dengan pertemuan singkat dan senyuman biasa. Sekarangpun saat pindah sejauhratusan km, saya menyadari betapa saya menemukan keluarga pada teman teman kosan saya

Pindah memaksa saya untuk belajar lagi. Perpindahan membuat saya belajar bahwa perubahan itu tidaklah selalu buruk dan tidaklah semenakutkan yang terkadang saya pikirkan

Belajar beradaptasi. Belajar mengenal lingkungan saya walaupun ada kekhawatiran dalam ketidakfamiliarannya. Dulu, saya bisa mandi di akhir minggu jam berapapun saya mau, tak peduli kemarau panjang di Indonesia juga berefek di tempat tinggal saya dulu. Di tempat yang baru saya harus mandi menyesuaikan dengan waktu dimana pompa air bisa berfungsi maksimal. Saya harus belajar menyesuaikan keuangan saya dengan harga ‘rental’ yang berbeda. Tetapi di tempat yang baru saya tidak terlalu dibuat trauma dengan fatamorgana lalu lintas tempat tinggal-kantor yang benar benar tidak bisa diprediksi.

Pindah membuat saya menyadari bahwa pergerakan dan perubahan adalah kepastian dalam hidup yang bisa dipilih akan ditujukan kemana.

Dulu kepindahan saya diinisiasi karena pilihan untuk kuliah, kemudian pilihan untuk merantau, kepindahan kali ini ialah kepindahan yang lebih berat secara moril karena ‘dipaksa’ oleh perusahaan tempat saya bekerja. Saya bisa memilih untuk tidak ikut pindah, berhenti bekerja di perusahaan yang sama, mencari pekerjaan baru atau melanjutkan sekolah. Pilihan yang sangat menggoda namun tidak bisa saya ambil. Saya ingin keputusan tersebut ialah keputusan yang saya ambil sepenuhnya karena saya siap dengan segala konsekuensinya, bukan karena terpaksa keadaan.

Bukankah pindah itu proses yang spritualis?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s