Tentang Penulis dan Karyanya

Hal yang  paling menentukan saya untuk membeli dan membaca buku ialah siapa penulisnya. Kesan pertama saat membaca buku dari seorang pengarang biasanya melekat kuat di pikiran saya. Prinsip umum saya: bahwa dari suatu tulisan terlihat bagaimana cara si pengarang bercerita, apa kelebihan, kekurangan, ciri  khas cerita yang dibawakannya, serta apa konsep dan nilai yang dipegang oleh sang pengarang. Nilai tersebut jarang bergeser baik untuk buku kedua, ketiga, atau bahkan mungkin buku kesepuluh.

Kesan pertama yang tidak terlalu memuaskan membuat saya berpikir berkali kali untuk membaca buku dari pengarang yang sama, apalagi membeli bukunya. Sebaliknya kesan pertama yang memuaskan membuat saya menjadi pembaca yang konsisten bahkan cenderung fanatik ( sorry for usiang such a hard word 😄) terhadap buku dari pengarang tersebut. Jeffery Deaver, Karen Rose, Darren Shan, Julie James, Windry Ramadhina ialah pengarang yang karyanya selalu meninggalkan perasaan yang menyenangkan setelah kegiatan membaca itu usai, baik pada buku kelima atau ketujuhpun. Biasanya saya lebih memilih membaca karya pengarang tersebut saat membaca atau membeli buku. 

Walaupun demikian, saya lemah terhadap sugesti dari teman – teman ataupun rating tinggi di goodreads, meski buku tersebut ialah buku dari pengarang yang tidak menjadi favorit saya. Untuk kasus demikian, saya selalu bersedia memberi kesempatan kedua untuk diri saya sendiri. Dalam hal kesempatan kedua tersebut, selama ini saya jarang beralih dari tidak begitu suka menjadi si pembaca konsisten. Salah satu – dan sejauh ini satu satunya- peralihan yang sukses, baru saya dapat dari Stephanie Meyer. Saya benar benar tidak menangkap satupun hal yang menarik dari  bestseller Twilight yang pernah saya baca saat kuliah dulu, tak peduli betapa hebohnya teman – teman saya mendeskripsikan hal-hal yang harusnya saya suka di novel ini. Setelah The Host diterbitkan, saya jauh lebih menyukai cerita ini dibanding serial pendahulunya (yang membuat saya sangat kesal selesai membaca buku itu), namun tetap saja gagal menarik saya ke dalam fandomnya Stephenie Meyer. Karya kedua yang saya baca dari Linda Howard dan Tere Liye membuat saya berhenti membaca buku karangan beliau sama sekali. 

Beberapa karya seorang pengarang malah membuat saya trauma cukup lama sehingga saya berhenti di karya pertama yang saya baca, tak peduli betapa sugestifnya resensi, review, ataupun testimoni untuk buku lain dari pengarang yang sama. Saya sebenarnya tergoda untuk membeli buku dari beliau, tetapi takut mengalami trauma lanjutan. Karya Christian Simamora dan Dewi Lestari ialah contohnya. Bukan karena buku tersebut tidak bagus, hanya saya yang gagal menemukan sesuatu yang berkesan yang biasanya menempel di kepala setelah membaca sebuah buku. Saya lebih sering beralih membaca atau membeli buku dari pengarang baru atau dari genre yang saya sukai.

Keputusan untuk menyukai, membaca atau membeli buku dari pengarang yang mana ialah hak penikmat karya itu sendiri akan tetapi buku yang diselesaikan ialah karya yang patut diapresiasi. Karya yang bagus akan selalu menemukan pembacanya walaupun mustahil untuk menyenangkan setiap mereka yang membacanya.

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Penulis dan Karyanya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s