Delayed

Sebenarnya sabar itu apa?

Saya ingat, saya pernah menulis bahwa kesabaran tak seharusnya berbatas, manusia-lah yang berbatas.

Hari ini, saya menjadi bagian dari 6000 penumpang yang ditelantarkan di bandara oleh salah satu maskapai nasional Indonesia. Sesungguhnya saya rindu pulang, rindu dekapan ibu saya, rindu pelukan ayah saya, bahkan saya rindu pertengakaran saya dengan kakak saya. Terutama setelah beberapa hal yang terjadi akhir akhir ini: penolakan yang saya terima dari salah satu perusahaan, kepindahan sahabat dan teman kos saya, kejadian jambret yang saya alami, audit perusahaan saya, saya mau (tak peduli betapa saya tak ingin mengakuinya) sedikit simpati. Pulang, menemukan alasan saya bertahan, mengingat kembali harapan dan mimpi saya. Tapi apa daya, pesawat yang harusnya saya tumpangi di delayed tanpa informasi yang jelas. Bahkan dari semalam sampai sore tadi belum ada satupun penerbangan ke rute yang saya tuju.  Ah, mungkin Dia tak inginkan saya menemui orang tua saya dengan perasaan yang campur aduk tanpa kejelasan. Bahwa ada rahasia di balik batalnya saya kembali ke kampung halaman saya.

Mom, Dad, sorry for haven’t come home again…

Mungkin kesabaran ialah menerima kenyataan bahwa keberangkatan mesti tertunda. Mungkin kesabaran ialah menerima bahwa ada keputusan yang harus dibuat : menunggu atau membatalkan keberangkatan, tak peduli seberapa tak menyenangkan konsekuensinya. Mungkin kesabaran hanya sebuah kepercayaan tanpa jaminan di ujungnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s