Menghargai Cinta

Jatuh cinta mungkin ialah perasaan paling indah di dunia. Magis dan di luar batas logika. Hakikat utopia.

Sahabat saya sedang jatuh cinta. Saya bisa merasakannya. Merasakan ketulusan dia dari caranya bercerita tentang sang pemuda, rencana rencana masa depan yang dia buat untuk berdua.

Mereka berdua seumuran. Sahabat saya cukup berada, sudah menamatkan kuliah profesinya di salah satu universitas terkemuka, anak satu satunya dari keluarga yang bahagia.

Mereka bertemu di tempat kerja. Sahabat saya ini dalam hirarki perusahaan lebih tinggi posisinya dibanding si pria yang belum menamatkan kuliah dan merupakan anak tertua dari tiga bersaudara sebuah keluarga sederhana. Cinta memang seharusnya bisa menjembatani kasta. Dan tak harusnya saya berpraduga.

Dari cerita sahabat saya, dia meyakini pria ini jodohnya, kemana mana berdua, merencanakan pernikahan dan melewatkan setiap hari bersama prianya, memujanya kendatipun sang pria mengabaikannya saat dia sakit, meminta putus tanpa sebab jelas. Buat sahabat saya hubungan mereka jelas ke arah mana. Saya hanya pengamat cerita dan pendengar setia. Namun bawaan alami manusia saya, membuat saya mempertanyakan tentang cinta, menghakimi hubungan mereka berdua.

Saya bukan seorang ahli dalam hubungan antar manusia, namun saya percaya bahwa hakikat cinta adalah ketulusan dalam memberi, bahwa cinta memang harusnya tanpa syarat, tanpa menuntut balasan. Karena ketulusannya itu maka tidakkah selayaknya dia harus dihargai. Kalaupun tidak bisa menghargai hal absurd bernama cinta, bukankah kita harus menghargai manusia sebagai subjek dan objek pencinta? Kendati sahabat saya bertindak atas nama cinta, sang pria tidak bertindak apa apa sekedar menunjukkan penghargaan atas sang rasa, melainkan hanya bersembunyi di belakang status pacar saja, dan melalui kontak fisik yang terlalu kentara, seperti inikah cinta? Yang tak bersyarat katanya? Apakah penghargaan cukup tanpa menghargai perspektif dan visi? Mungkin saya salah menginterpretasikan bahwa perasaan sahabat saya menjadi sasaran permainan semata?

Bagaimanakah menghargai cinta?
Saya tak tahu pasti jawabannya. Yang saya tahu saat saya melihat ketulusan sahabat saya mencintai sang pria, saya ingin ketulusan ini dibalas dengan ketulusan juga. Seperti dongeng darimana saya mengenal cinta kali pertama. Yang membuat hati buncah karena bahagia, yang bukan membutakan logika, melainkan mempertajam indra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s