Adverse Effect yang pake status Medical Emergency (part I): Shock Anaphylactic

Kata `shock` merupakan kata yang familier buat gw.. because I often use this words.. hahaha^^.. But the mean of `shock` in medical term lebih mematikan dan membutuhkan bantuan segera daripada istilah shock yang sering gw pakai. Because when it happen, the immediately and appropriate management will determine the continuance of somebody`s life.

Before have this term of shock connect with adverse effect, I want to write the term of shock in general.

Shock itu sebenarnya apa sih?

Secara medis shock itu tuh istilah yang dipakai untuk suatu gejala klinis yang kompleks dimana sistem sirkulasi tubuh kita gagal dalam menjalankan fungsinya terutama untuk perfusi sel (alias ‘mengantarkan darah` a.k.a ‘mengantarkan makanan` berupa nutrisi dan oksigen untuk sel tubuh kita^^ sekaligus gagal membuang `sampah` alias waste product yang dihasilkan sel-sel tubuh kita). Kalau diterjemahkan secara sederhana (walaupun ini sih rada-rada wrong understanding^^) mirip banget sama pengertian shock yang dipakai sehari hari : ‘jantung gak berhasil memompakan darah ke sel-sel tubuh, serasa jantung berhenti berdetak` (gw bingung juga nih menyederhanakan bahasanya)

Kenapa kita bisa shock? Mungkin lebih tepat pertanyaannya “Kenapa shock bisa terjadi?”

Penyebab shock sih macem-macem. Dan penyebab yang macem-macem itu membuat istilah shock diklasifikasikan jadi macem-macem juga.

Pertama, shock hipovolemik

Shock yang ini disebabkan karena “bahan” yang mau diantar ke sel itu (yaitu darah dan air) emang minim banget. Hal ini bisa terjadi karena masalah hemoragik (alias yang ada kaitannya dengan pendarahan) kayak pendarahan pada saluran cerna atau karena kecelakaan berdarah darah yang keduanya otomatis bikin darah kita yang ada di tubuh jadi berkurang. Atau karena alasan non hemoragik a.k.a dehidrasi, jadi cairan tubuh kita banyak hilang misalnya karena muntah-muntah atau diare yang parah atau karena luka bakar.

Kedua, shock kardiogenik

Kalau yang ini disebabkan karena “sarana utama” yaitu pompa (baca: jantung) untuk mengantarkan “bahan-bahan” yang diperlukan sel kita tu tuh bermasalah. Dengan kata lain (dalam definisi yang lebih keren)kegagalan jantung dalam menjalankan fungsinya, sehingga jumlah darah yang mau diantar ke sel itu tidak mencukupi. Penyebab hal ini terjadi umumnya karena infark miokard (kematian sel-sel jantung) walaupun penyebab lain yang mengakibatkan masalah pada jantung juga dapat memprovokasi hal ini kayak: infeksi jantung, atau aritmia.

Ketiga, shock obstructive

In tuh terjadi karena kerusakan pada komponen-komponen lain yang memegang peranan dalam mengantarkan darah itu. Misalnya kayak adanya emboli pada paru. Ini kayaknya klasifikasi dan penyebab shock yang paling nggak familiar deh.

Keempat, shock distributif

Shock jenis ini terjadi karena kegaggalan selama pendistribusian darah ke jaringan. Penyebabnya antara lain tuh karena sepsis, anafilaksis, dan neurologis. Kalau septic shock terjadi karena keberadaan mikroorganisme di darah yang mengakibatkan radang (bahasa kerennya inflamasi) sistemik a.k.a radang yang sifatnya dari satu tempat awal (sel awal) melebar ke tempat lain yang nggak kontak langsung dengan si penyebab sepsis. Saat reaksi inflamasi ini muncul,yang melibatkan banyak banget faktor faktor darah, dapat terjadi pelebaran pembuluh darah dan hipotensi, sehingga perfusi darah jadi nggak normal. Kalau shock anafilaksis ni nih terjadi karena reaksi hipersensitivitas alias alergi as general term-nya. Dalam kasus ini, agak-agak mirip sama kasus sepsis sih, tapi yang berperan mengaktifkan reaksi radangnya adalah bahan-bahan yang asing dan dianggap berbahaya oleh tubuh kayak makanan atau obat-obatan (walaupun obat-obatan ini secara agak langsung ada kaitannya juga dengan mikroorganisme).

Berarti menggunakan obat yang dapat mengakibatkan sepsis itu mengerikan juga ya?

Walaupun namanya obat itu seringkali membawa efek yang nggak kita mau, which is yang kita kenal sebagai efek samping alias adverse effect,  tapi obat itu ada, diciptakan dan dijual untuk tujuan utamanya tetap menyembuhkan, atau meringankan penyakit. Dan kebanyakan orang, takut minum obat karena takut efek sampingnya ini nggak bener juga yah…alesannya: pertama efek samping itu nggak selalu kejadian pada setiap orang yang minum obat, angka kejadian efek samping ini juga dipersentasekan. Dalam sekian banyak orang yang minum yang ngalamin efek ini berapa orang sih… Kalau persentasenya kecil, misalnya 1 kejadian dari 100000 orang yang minum obat, itu mah faktor x aja yang menjadikan 1 orang itu tidak beruntung. Terus kedua, masa gara-gara efek samping kita nggak mau minum obat yang udah diteliti dengan dana milyaran dan melibatkan banyak orang untuk menyembuhkan at least meringankan penyakit kan, kan kurang usaha banget tuh yaa?? Terus yang ketiga, efek samping itu kan nggak selalu parah atau berbahaya dan sifatnya jarang yang permanen atau netep. Misalnya kita minum obat demam, demamnya sih ilang tapi mata jadi berkunang-kunang selama 5 menit after kita minum obat. Yang kayak gitu mah dicuekin aja, ntar paling ilang sendiri..

Walaupun gitu, nggak bisa dipungkiri efek samping obat ada yang sifatnya berbahaya alias life threatening. Dan akibat yang berbahaya itu bisa langsung kelihatan beberapa saat setelah obat itu diminum atau berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah obat itu dikonsumsi beberapa kali, dan sifatnya progresif alias bahayanya muncul pelan-pelan . Kalau shock anafilaksis akibat obat masuk kategori pertama. Efek samping yang sifatnya life threatening dan efeknya kelihatan dalam waktu yang relatif cepat. Dibandingkan sama kategori dua yang sifatnya pelan-pelan dan berlama lama, yang kategori satu jadi sedikit kurang mengerikan yah? Soalnya dalam kasus pertama kita kan lebih aware aja. Yang dikenal luas sebagai obat yang risky kayak begini itu tuh kayak obat kanker atau anti retroviral. Tapi dalam kasus begini, ada pertimbangan dilihat dari persentase kejadiannya gimana, terus perbandingan antara manfaat dan resiko, juga bagaimana cara mengatasinya-kalau bisa mencegahnya-jika efek itu muncul.

Back to shock anafilaksis, obat-obatan yang potensial menimbulkan shock anafilaksis adalah golongan antibiotik beta laktam terutama banget penisilin, sefalosporin, dan karbapenem, antibiotik non beta laktam kayak sulfonamida dan vancomycine, juga insulin dan heparin as biological product. This become one of the reason why to produce this product must follow very strict rules, stricter than the rules of `just an ordinary` drug.

About the sources, I dunt have any hyperlink^^… I read this from the hard and softcopy book… that wouldn`t too hard to find..

BTW let me say thank you for reading^^..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s