Anti Retroviral-nya Indonesia

Okeh, menyambung postingan Manajemen Infeksi HIV dengan ARV sebelumnya, this time I`ll try to have it connected with availability of that ARV in Indonesia.

Dari dari 6 golongan ARV yang di aprove FDA cuma 3 golongan yang tersedia yaitu NRTI’s, NNRTI’s dan PI’s includenya: lamivudine (3TC), stavudine (d4T), zidovudine (AZT), didanosine (ddI), efavirenz (EFV), nevirapin (NVP), Embtricitabine (FTC), (Tenofovir DF) TDF, (Lopinavir)LPV/r, abacavir (ABC)

Menurut kebijakan pemerintah yang ada di pedoman pelayanan untuk HIV AIDS, pilihan pertama terapi ARV untuk dewasa itu:

AZT + 3TC + NVP

AZT + 3TC + EFV

TDF + 3TC (atau FTC) + NVP

TDF + 3TC (atau FTC) + EFV

 Karena efek samping ARV jenis AZT yakni anemia berat dokter sering menggantinya dengan d4T. Penggantian a.k.a substitusi ini dasarnya karena keduanya masih berada dalam golongan obat yang sama. Tapi sekarang si d4T ini sudah di restrict oleh pemerintah. So pasien yang mengkonsumsi obat jenis d4T ini dirujuk untuk menggunakan obat jenis tenofovir yang lebih aman. Sesuai state nya pemerintah bahwa:

Pemerintah akan mengurangi penggunaan (phasing out) Stavudin (d4T) sebagai paduan lini pertama karena pertimbangan toksisitasnya …

The Source : Pedoman Pelayanan Nasional Tatalaksana Infeksi HIV dan Terapi Anti Retroviral yang dikeluarkan DepKes (2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s