The AntiRetroviral Family

As Promised before, here`s the posting, ngelanjutin postingan  HIV a primer for pharmacist

Kali ini  postingannya bakalan theoretical banget alias ngebosenin ><, tapi itulah pengetahuan teman *halah:)

Dari keenam kelas ARV itu, inilah anggota-anggota yang jadi member alias anggota klub ARV:

1. Nucleoside RT Inhibitors a.k.a Penghambat Reverse Transkriptase Nukleosida a.k.a. NRTIs

  • NRTIs ini tuh bekerja dengan dua cara. Pertama, dengan b`kompetisi dengan substrat dari enzim Reverse Transkriptase. Enzim ituh kan protein.. jadi supaya bisa bekerja dia perlu suatu substrat protein juga yang matching, kalau bahasa buku kayak gembok sama kuncinya. Kalau udah match terbukalah si gembok. Nah di sini yang jadi gemboknya tuh si RT, yang jadi anak kuncinya si substrat..kalau ada pesaing si substrat (si NRTIs) maka si gembok gak akan bisa terbuka, enzimnya ga bakalan bekerja, jadi kerja si virus HIV bakalan bisa disuppress. Terus NRTI juga bekerja dengan menggabungkan dirinya dalam DNA si virus, sehingga proses pembentukan rantai DNA tersebut bakalan berhenti.
  • Dalam kelas ini, semua anggotanya `subklub`nya dapat menyebabkan miopati, hepatic steanosis, neuropati sampai asidosis laktat. Asidosis laktat ini adalah kejadian yang masuk medical emergency, jadi pasien yang mengkonsumsi NRTI harus aware sama gejalanya kayak, rasa lemas, nggak nyaman pada perut (nyeri, mual, muntah), susah napas/dyspnea, jantung berdebar (aritmia atau takikardia) dan rasa dingin (terutama pada tungkai).
  • Resistensi silang dilaporkan terjadi pada anggota-anggota `sub-klub` ini. Meaning satu anggota subklub nggak mempan buat pasien, anggota lainnya yang termasuk dalam `subklub` yang sama bakalan bernasib serupa.
  1. Stavudine

    Penggunaan obat ini as ARV di Indonesia sudah pada ditarik and gak disarankan untuk dipakai lagi. Wondering why? You should to search the answer why J. Jadi kalau dapet resep obat ini…Well, labrak aja prescriber dan yang ngasih obatnya ;).*peace dok^^

  2. Emitricitabine

    Pada pasien yang terinfeksi HIV dan hepatitis B, penghentian pemberian obat ini dapat menyebabkan eksaserbasi akut (bangkitan tiba-tiba) dari infeksi si hepatitis B. Jadi fungsi hati harus dimonitor untuk beberapa bulan setelah obat ini dihentikan. Karena obat ini tidak menghambat enzim CYP450, penyesuaian dosis untuk pasien dengan gangguan fungsi hati nggak perlu dilakukan, tapi jika klirens kreatinin kurang dari 50 mL/menit atau pasien butuh untuk didialisis, dosis obatnya harus diturunkan atau interval dosis harus diperlama. Penggunaan obat ini dapat bersama atau tanpa makanan alias terserah mau dimakan kapan. Kategori untuk ibu hamilnya adalah C.

  3. Lamivudine

    Kayak si emitricitabine, penghentian obat inipada pasien yang terinfeksi HIV dan hepatitis B harus diperhatikan. Eliminasi obat ini utamanay adalah di ginjal, jadi penyesuaian dosis untuk pasien dengan gangguan ginjal harus dilakukan. Pada pasien dengan gangguan hati nggak usah pake penyesuaian dosis. Penggunaan obatnya juga dapat bersama atau tanpa makanan. Dikategorikan C juga untuk ibu hamil.

  4. Zidovudine

    Ini adalah sesepuhnya ARV. ARV pertama yang diapprove oleh FDA. Supress sumsum tulang belakang dan miopati pada pasien terkait banget dengan penggunaan obat ini. Penyesuaian dosis harus dilakukan pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal. Penggunaan obatnya juga dapat bersama atau tanpa makanan. Dikategorikan C juga untuk ibu hamil.

  5. Didanosine

    Pada penggunaan obat ini, efek yang mungkin muncul adalah pankreatititis yang terkadang fatal, hipertensi portal nonsirosis dan neuritis optis. Didanosine harus dikonsumsi dalam keadaan perut kosong dan dikategorikan C untuk ibu hamil.

  6. Tenofovir

    Obat ini juga diindikasikan untuk HBV. Mirip dengan emtricitabine dan lamivudine, eksaserbasi akut HBV juga dilaporkan jika pasien berhenti menggunakan tenofovir. Penurunan kepadatan tulang juga dilaporkan pada penggunaan obat ini. Tenofovir tidak dimetabolisme oleh enzim CYP450, tapi penyesuaian dosis harus dilakukan pada pasien dengan gangguan ginjal sedang sampai berat. Penggunaan obatnya juga dapat bersama atau tanpa makanan. Dikategorikan B untuk ibu hamil.

  7. Abacavir

    Obat ini, dikaitkan dengan reaksi hipersensitivitas yang serius dan terkadang fatal. Reaksi ini terkait erat dengan bawaan genetic. Jika reaksi hipersensitivitas muncul, obat harus dihentikan, dan tidak boleh diberikan lagi. Abacavir dikontraindikasikan pada gangguan hati sedang sampai berat dan pasien dengan gangguan ginjal harus disesuaikan dosisnya. Abacavir dapat digunakan bersama atau tanpa makanan dan dikategorikan C untuk ibu hamil.

2. Nonnucleoside RT Inhibitors a.k.a Penghambat Reverse Transkriptase Nonnukleosida a.k.a NNRTIs

  • Si NNRTIs juga terikat dengan RT tapi gak kompetitif, jadi tempat kerjanya berbeda dengan si `subklub`NRTIs`.
  • NNRTIs dimetabolisme oleh enzim sitokrom oksidase CYP3A, jadi kebanyakan obat lain yang kebetulan digunakan bersamaan dengan obat ini, harus dengan caution atau dihindari sama sekali. Contohnya: clarithromycin, azole antifungals, calcium channel blockers tertentu , certain antiarrythmics, warfarin, hydroxymethyl glutaryl coenzyme inhibitors, rifabutin, rifampin, certain immunosuppressants, phosphodiesterase type 5 inhibitors, and ethinyl estradiol. Intinya, si farmasis harus ngereview masing masing resep untuk mengevaluasi interaksi obat yang mungkin terjadi.
  • Efek samping serius yang kadang fatal dengan NNRTIs adalah reaksi kulit (kayak alergi)
  • Secara keseluruhan Toksisitas NNRTIs lebih sedikit dibandingkan NRTIs
  • Resistensi NNRTIs berkembang pesat, tapi dapat diperlambat jika digunakan bersamaan dengan NRTIs
  • Resistensi silang juga dilaporkan terjadi pada anggota `subklub` ini.
  1. Etavirine

    Neuropati perier dilaporkan terkait penggunaan obat ini. Pada pasien dengan gangguan hati ringan sampai sedang dan pada pasien dengan gangguan ginjal tak perlu dilakukan penyesuaian dosis. Obat ini harus dikonsumsi setelah makan dan dikategorikan B untuk ibu hamil.

  2. Delaviridine

    Penggunaan obatnya juga dapat bersama atau tanpa makanan. Dikategorikan C untuk ibu hamil.

  3. Efavirenz

    Depresi berat, keinginan bunuh diri, dan gejala sistem nerve kayak pusing, insomnia, sulit untuk berkonsentrasi, kebingungan, mimpi aneh, halusinasi mungkin muncul dalam 1-2 hari terapi dimulai dan biasanya hilang dalam 2-4 minggu. Jadi penggunaan obat disarankan saat akan tidur untuk meringankan gejala ini. Penggunaan efavirenz dilaporkan juga menimbulkan hepatotoksisitas, konvulsi, dan hiperlipidemia. Obat ini harus dikonsumsi dalam perut kosong. Kategori untuk ibu hamilnya adalah D.

  4. Nevirapine

    Heaptotoksisitas yang terkadan fatal dilaporkan pada pasien yang menggunakan obat ini. Jika hal ini terjadi penggunaannya harus dihentikan dan tidak boleh digunakan lagi. Nevirapine dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan hati sedang sampai berat. Tak perlu penyesuain dosis pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Nevirapine dapat dikonsumsi tanpa ada pengaruh makanan. Kategori untuk ibu hamil adalah B.

3. Protease Inhibitors a.k.a Penghambat Protease a.k.a PIs

  • Obat kelas ini terikat dengan enzim protease si virus pada fase akhir replikasi dalam satu siklus hidup si virus. Jadi menghambat kematangan si virion.
  • Anggota kelas PIs berpotensi menyebabkan hiperglikemia,hiperlipidemia, dan ruam kulit serius (yang terkadang fatal). Pasien mungkin mengalami diabetes mellitus, atau pada pasien yang sudah DM, kehilangan control gula . Penggunaan obat ini, dilaporkan juga mengakibatkan pendarahan spontan pada pasien hemophilia dan kebanyakan PIs menyebabkan hepatitis.
  • PIs terutama dimetabolisme via CYP3A, kayak NRTIs. Jadi reaksi obat antara dua kelas ini kadang-kadang mirip
  • Interaksi obat PIs yang spesifik juga ada dilaporkan.
    • Amprenavir

      Amprenavir adalah golongan sulfa. Kapsulnya mengandung vitamin E jadi pasien harus diiinformasiin untuk tidak mengkonsumsi suplemen vitamin E selama penggunaan obat ini. Amprenavir dapat diberikan bersama dengan atau tanpa makanan, asalkan tisak dikonsumsi dengan makanan berlemak tinggi. Kategori obat untuk kehamilannya C.

    • Tipranavir

      Obat ini juga golongan sulfonamide dan mengandung vitamin E juga. Efek sampingnya antara lain pendarahan intracranial yang terkadang fatal dan terkadang tidak fatal. Dianjurkan untuk tidak diberikan pada penderita infeksi HIV yang masih baru. Biasanya digunakan pada pasien yang terinfeksi oleh strains yang resisten terhadap satu atau lebih PI lainnya. Obat ini dapat digunakan bersamaan atau tanpa makanan. Kategori obat untuk kehamilannya C.

    • Indinavir

      Efeknya antara lain anemia hemolitik yang terkadang fatal, nefrolitiasis, hiperbilirubinemia, dan nefritis interstitial. Obat ini harus dikonsumsi dalam perut kosong. Kategori obat untuk kehamilannya C juga.

    • Saquinavir

      Saquinavirtak boleh diberikan dalam 2 jam setelah makan dan kategorinya untuk ibu hamil ialah B.

    • Fosamprenavir, Darunavir, Atazanavir

      Harus digunakan bersama makanan dan kategorinya untuk kehamilan adalah C

    • Fosamprenavir

      Dilaporkan menyebabkan anemia hemolitik dan nefrolitiasis. Tabletnya dapat diberikan dengan atau tanpa makanan, tapi suspense oralnya harus digunakan bersama makanan pada anak, dan tanpa makanan pada orang dewasa. Ketegorinya C juga.

    • Ritonavir, Nelfinavir

      Digunakan bersama makanan dan masuk kategori B untuk ibu hamil, Ritonavir harus ditelan utuh, tidak boleh dikunyah atau dihancurkan.

4. Fusion Inhibitors : Enfuvirtide

Obat ini menghambat fusi HIV1 dengan mengikat glikoprotein41 si virus, sehingga virus tak bisa `masuk` ke dalam sel. Obat ini diinjeksikan secara subkutan dua kali sehari. Tempat alias site injeksinya harus dirotasikan tiap kali penyuntikan*ribet. Obat ini tidak menghambat CYP450 dan tidak perlu penyesuaian dosis untuk gangguan hati maupun ginjal. Kategorinya C untuk ibu hamil

5. Entry Inhibitors : Maraviroc

Bekerja dengan menghambat koreseptor kemokin CCR5. Fase tropism perlu dievaluasi untuk tahu apa obat ini akan berguna atau tidak. Dilaoprkan muncul reaksi alergi selama penggunaannya, demikian juga peningkatan resiko infark miokard dan iskemia. Obat ini merupakan substrat CYP3A, jadi berpotensi untuk terjadi interaksi pada obat yang dimetabolisme dengan cara yang sama. Dapat digunakan dengan atau tanpa makanan dan kategorinya untuk kehamilan C.

6. Integrase Strand Transfer Inhibitors : Raltegravir

Obat yang paling baru diaaprove oleh FDA pada Oktober 2007, bekerja dengan menghambat enzim integrase, sehingga DNA mustahil untuk`nyelip` pada genome sel host. . Dapat digunakan dengan atau tanpa makanan dan kategorinya untuk kehamilan C.

Banyak yah? Yang ada di Indonesia yang mana aja tuh? Di subsidi atau nggak sama pemerintah? Hope I can give you an answer later ^^.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s