Anti Retroviral Therapy… A Primer for Pharmacists (Katanya….:))

Ngelanjutin posting sebelumnya :

https://azhoma.wordpress.com/2012/06/28/hiv-infectionaids-just-an-little-overview/

Ditambahin dengan terapinya a.k.a obatnya buat infeksi HIV AIDS.

But before started, maybe you guess why ART and HIV become a primer knowledge that must known by pharmacist. Let me try to answer:

Rada-rada kompleks and susah to explain siyy..

  • Pertama tuh, biasanya pasien HIV AIDS ke RS/klinik dan nyari dokter atau praktisi kesehatan itu ga selalu karena gejala infeksi HIV-nya tapi karena infeksi opurtunistiknya (dan list infeksi opurtunistik ini banyak, jadi list obatnya juga banyaaak banget). Nah, untuk ngatasin penyakit akibat infeksi opurtunistik ini harus pas regimen obat/antibiotik-nya, secara pasien sistem imunnya sudah lemah (also known as immuno compromised host/imunno compromised patient)..jadi regimen obat yang ‘biasa’ (ampuh untuk pasien yang sistem imun tubuhnya masih bagus) belum tahu mempan buat pasien ini. Apalagi jika pasien menggunakan ARV, maka obat untuk infeksi opurtunistiknya nggak boleh ‘mengganggu’ kerja ARV demikian juga sebaliknya, obat untuk infeksi opurtunistiknya gak boleh ‘diganggu’ kerjaannya oleh si ARV. Puyeng tuh mikirinnya..
  • Kalau emang tujuannya untuk treat infeksi HIV-nya, we should know when to start, mempertimbangkan regimen ART yang tepat, memperhatikan efek samping ART yang rada sering dan ada yang berstatus medical emergency and shoud know when to stop, ngelanjutin atau mengganti regimen obatnya, mempertimbangkan ekonomi pasien yang berpengaruh sama kepatuhan pasien. Secara,, terapi ART ini sifatnya long treatment dan nggak murah dan-the most important things-keberhasilan terapi ini tergantung banget sama kepatuhan pasien.

Again, nge-review lagi, tujuan terapi, alias tujuan ngasih obat, alias tujuan ngasih ART, untuk pasien yang terinfeksi HIV AIDS

Yang di-underlined here, obat itu nggak selalu punya power untuk menyembuhkan. As in this case.  Terapi anti retroviral tujuannya bukan untuk membunuh dan memberantas semua virus HIV dari tubuh si pasien, ataupun membuat gejala AIDS gak pernah muncul. Tujuan utama pasien yang terinfeksi HIV di terapi adalah untuk memperbaiki atau memperkuat sistem imun tubuh, sehingga mencegah infeksi opurtunistic yang mungkin muncul dan mengancam jiwa pasien.

Bagaimana seseorang tahu terapi dengan ARV yang dikonsumsinya efektif atau tidak?

Untuk memonitor atau mengevaluasi infeksi HIV digunakan dua penanda (markers)

  • Hitung sel CD4 (jumlah sel CD4 per mikroliter plasma). Nilai yang semakin kecil menandakan jumlah sel CD4 yang semakin sedikit di dalam tubuh. Nilai hitung sel CD4 merupakan ukuran seberapa jauh infeksi HIV telah mempengaruhi sitem imun tubuh. Tingkatan (Stage) infeksi HIV juga diklasifikasikan atas hitung CD4.
  1. stage 1. Jika hitung CD4 besar sama dengan 500/mcL atau pasien tidak mengalami kondisi imunodefisiensi (AIDS).
  2. stage 2. Jika hitung CD4 antara 200-499/mcL atau belum ditemui kondisi imunodefisiensi (AIDS)
  3. stage 3. Jika hitung CD4 dibawah 200/mcL atau kondisi imunodefisiensi sudah kelihatan.
  4. stage unknown. jika tidak ada info tentang jumlah sel CD4

* as note: tidak ditemui kondisi imunodefisiensi artinya pasien kelihatan sehat-sehat saja, gak ada gejala dapet infeksi opurtunistik.

Selama terapi dengan ART, hitung CD4 yang digunakan untuk memantau apakah obat bekerja atau tidak. Peningkatan sel CD4 50 sampai 150 per mm kubik per tahun artinya respon pasien terhadap regimen yang diberikan cukup baik. Hitung sel CD4 ini harus rutin dilakukan setiap 3-4 bulan .

  •  Viral load (jumlah virus dalam darah: jumlah RNA HIV per mL plasma) memberikan informasi bagaimana respon si HIV terhadap ART. Idealnya viral load ini dibawah limit deteksi, artinya walaupun HIV ada dalam tubuh, tapi kalau ‘dicari’ gak kelihatan karena jumlahnya sedikit dan gak bisa dideteksi oleh alat/metoda yang kita pakai.

As there are 4 ARV`s mechanism of action, the ARVs available in 6 classes

  1. Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTIs)
  2. Nonnucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTIs)
  3. Protease Inhibitors (PIs)
  4. Fusion Inhibitor
  5. An entry Inhibitors
  6. An Integrase Strand Transfer Inhibitor

Prinsip terapinya: Obat yang diberikan harus lebih dari satu zat aktif.

Wanna check one by one? Bagaimana  memilih ART dan memulai ART? Maybe in the next posting :). But kalau gak sabar, refer the link below :

http://www.uspharmacist.com/continuing_education/ceviewtest/lessonid/106864/

Advertisements

One thought on “Anti Retroviral Therapy… A Primer for Pharmacists (Katanya….:))”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s